
Rey mengamati Kikan selama beberapa detik, lalu mengerutkan kening seakan ia sendiri jadi ragu. "Mungkin sebaiknya kau menunggu di luar sini. Aku tidak tahu apa yang akan mereka katakan padamu. Aku tak bisa mencegah mereka untuk berbicara dan aku tak ingin melihatmu sakit hati. Aku akan memanggilmu masuk kalau... kalau aku bisa membantu."
" Tidak. Aku sudah sampai sejauh ini. Mari lihat apakah Via dapat berbohong seperti sebelumnya, sekarang ketika aku bukan lagi gadis delapan belas tahun, dalam keadaan hamil, panik menghadapi masa hukuman yang panjang di penjara."
Kikan turun dari mobil, dan Rey menggandeng tangannya ketika mereka berjalan mendekati rumah.
" Kau tidak harus memegangiku terus," kata Kikan.
" Aku tahu," sahut Rey, tapi tidak melepaskan genggamannya.
Mereka tidak terlambat, tapi semua orang telah di dalam. Rasanya seakan musuh-musuh mereka berkumpul lebih dulu agar bisa melakukan serangan bersama.
Meskipun kata-katanya tadi terdengar tegar, Kikan menyadari dirinya mencengkram tangan Rey agak lebih keras.
Semua mata mendadak tertuju ke arahnya. Kikan mengabaikan kedengkian yang terpancar pada wajah Logan dan ekspresi suram dari yang lain. Ia bahkan mengabaikan Ibu Rey. Ia hanya tertarik pada Via, yang mendongak namun tidak mau menatap mata Kikan.
" Terima kasih sudah datang," Helen mengangguk ke arah Kikan dalam sapaan yang kaku namun sopan.
Kikan balas mengangguk tetapi tidak berbicara. "Kalian berdua tentu ingat Via" Helen memberi isyarat pada wanita bertubuh tinggi dan kurus kering beberapa kursi dari tempat duduk mereka. "Aku sarankan kita segera mulai, menyelesaikan ini secepat mungkin."
Ibu dari Lori mengambil peran. "Via, aku tahu pasti sulit untuk menceritakan kembali apa yang pernah kau alami. Kita telah menangisi Lori bersama-sama ditelepon, tapi Helen benar. Lebih baik kita... membuka semuanya."
Mereka memperlakukan Via dengan begitu lembut. Pembunuh lori! Kikan tidak dapat mempercayai ironi itu...
Via berdehem dan bergeser, tapi masih belum berbicara. Jadi ibu Lori mendorongnya lagi. "Bisakah kau ceritakan kepada kami apa yang telah terjadi pada hari anakku terbunuh?"
__ADS_1
Meskipun nyaris tidak kelihatan, Kikan merasa ia melihat Via bergidik sebelum menegakkan bahu.
" Sama seperti yang kuceritakan sebelumnya, di pengadilan. Tak ada yang berubah."
Kikan tadinya berharap merasa percaya diri, merasa seperti biasa ketika meninggalkan keamanan trailer. Tetapi semua itu lenyap ketika ia mengamati Via. Ini orang yang menyebabkan dirinya menghabiskan waktu tujuh belas tahun di penjara atas kejahatan yang tak pernah ia lakukan, yang membuatnya kehilangan waktu selama itu bersama anaknya. Sedangkan Via bisa melenggang pergi tanpa merasakan akibat dari perbuatannya, namun.... ada nuansa keputus asaan dalam diri Via, seakan keadaannya justru lebih buruk daripada Kikan sejak terakhir kali mereka bertemu.
Mengapa? Apa sebabnya? Via masih agak menarik, dengan rambut cokelat panjang dan tulang pipi tinggi. Dia juga berpakaian bagus. Rok panjang dengan sandal dan blus indah, yang lengannya tipis melambai. Pakaian Itu kelihatan masih sangat baru, yang memberi kesan pada Kikan bahwa Via sengaja berdandan untuk pertemuan ini.
Atau bahwa dia didandani....
Pikiran Kikan kembali pada keyakinannya bahwa keluarga Lori membayar Via untuk datang. Pasti ada sesuatu yang dijanjikan untuknya dalam hal ini. Ini bukan masalah keadilan, justru ialah yang lari dari keadilan.
" Bisakah kau beritahu pada kami detailnya?" tanya ibu Lori. "Menceritakannya kembali dengan berurutan." dia terus berbicara dengan suara lembut, seakan sedang menghadapi anak yang ketakutan. Cara itu cukup efektif untuk mayakinkan Via untuk bercerita . Melihat hal itu menyakitkan hati Kikan.
Begitu Via mulai berbicara, pada dasarnya dia menyampaikan cerita yang sama seperti yang dulu disampaikannya di persidangan. Hanya saja, dia tidak memandang Kikan saat bercerita. Dia berhenti berkali-kali, dan keluarga Lori harus membujuknya lagi untuk meneruskan. Tak lama kemudian, dia menjadi makin gelisah sehingga menggigiti kulit di sekitar jemarinya..dan menghentikan ucapannya untuk bertanya berapa lama dia harus berada di sini sebelum mereka mengantarnya kembali ke bandara.
"Menurutmu kenapa Kikan ingin mencelakai Lori?" Tanya sang ibu, sekali lagi berusaha membuat Via tetap fokus.
"Kikan membenci Lori." Via terdengar seperti robot. Kikan curiga dia telah melatih perannya ini. "Dia....cemburu pada Lori. Dia menginginkan Rey untuk dirinya sendiri."
Itu motif yang sama dengan yang diyakini orang-orang disini, motif yang katanya mendorong terjadinya pembunuhan itu, karena semuanya pernah disampaikan di pengadilan. Via tidak menambah nambah cerita aslinya, tidak mengarang dialog sejak mereka berada di dalam mobil, seperti yang diharapkan oleh keluarga Lori. Tetapi hanya itu yang bisa mereka dapatkan darinya.
Membawa Via kesini sepertinya tidak menambahkan sesuatu yang baru. Itu sebabnya Helen tampak frustrasi ketika mengambil alih. "Supaya adil kita juga harus mendengarkan cerita versi Kikan." Dia mengangguk dengan enggan ke arah Rey. "Kikan ada yang ingin kau katakan?"
"Itu bohong, " sergah Kikan. "Aku tidak memutar setir. Via yang melakukannya, dan dia tahu itu."
__ADS_1
Via tidak melompat dengan marah seperti yang dilakukannya di pengadilan. Dia meringkuk di tempat.
" Kenapa?" Helen bertanya. "Kenapa Via memutar setir?"
" Mari tanya dia," kata Kikan. "Via Kenapa kau melakukan itu? dan kenapa Kau biarkan aku masuk penjara?"
Sambil bergerak-gerak gelisah, Via tampak kehilangan kesadaran, seakan dia hanya membuang waktu, dan sekali lagi tidak memberi jawaban yang jelas.
" Via?" Helen mendesak.
Via mengerutkan kening, tampak sedikit galak. "Aku tidak melakukannya. Aku tidak peduli apa kata orang. Kenapa juga aku ingin menyakiti orang lain. Aku tidak memusuhi Lori."
" Aku yakin kau tidak bermaksud menyakiti siapapun," kata Kikan. "Itu kecelakaan bukan? Perbuatan konyol yang kau lakukan untuk lucu-lucuan. Dan ternyata malah berakibat tragis."
Via menggeleng. "Tidak, tentu saja tidak! Kau salah. Dia.... dia bohong," katanya, menunjukkan Kikan. "Aku sudah bilang, dia menuduhku sembarangan."
Rey membuka suara. "Yang kami inginkan adalah kebenaran."
Via berdiri dengan goyah, dan nyaris terjatuh Sebelum berhasil mendapatkan kembali keseimbangannya. "Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak percaya kalian mempertanyakan kejujuranku. Aku tidak harus duduk di sini. Aku sudah selesai. Aku datang dan menyampaikan ceritaku, seperti yang kalian bilang. Sekarang, siapa yang akan mengantarku kembali ke bandara?"
" Tunggu," kata Rey, mengangkat tangan. "Ceritaku? Itu menarik, bukan?"
" Maksudku cerita itu," Via membetulkan, kelihatan agak bingung.
Rey menyipitkan mata. "Tentu saja. Kalau begitu mungkin kau tidak keberatan menjawab beberapa pertanyaan."
__ADS_1
Tatapan Via beralih cepat ke arah Ibu Lori sebelum kembali pada Rey lagi. "Pertanyaan apa? Aku sudah mengatakan semuanya. Kau tidak boleh menahanku di sini di luar kemauanku!"
" Kami membayar biaya perjalananmu," kata ibu Lori. "Dan kami membayar waktumu, karena kau bilang kau harus boleh kerja."