Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 70


__ADS_3

Setelah menghabiskan segelas minuman kaleng, Kikan tak lagi merasakan desakan untuk pulang. Pasangan kencan Devan dan Rey belum datang untuk menemui mereka, meskipun sudah kira-kira sudah satu jam berlalu sejak mereka mulai main biliar, jadi keadaan itu membantu Kikan meredakan kecemasannya sendiri.


Ia dan Devan memenangkan permainan pertama. Kikan masih menikmati kakagetan di wajah Rey ketika pria itu menyadari ia bisa bermain sama bagusnya dengannya. Setelah awal yang gemilang itu, mereka kalah pada pertandingan kedua. Mereka mestinya bisa menang terus, mengingat ada taruhan yang ingin dimenangkan Kikan, tetapi Devan gagal dalam beberapa sodokan penting.


Mereka kini bersaing menjadi yang terbaik dalam pertandingan selanjutnya.


Kikan dapat merasakan Rey mengamatinya ketika ia bersiap-siap melakukan gilirannya bermain dan bertanya-tanya apa yang pria itu pikirkan. Apakah dia berharap tadi membiarkan Kikan pulang saja?


Barangkali. Rey mengerutkan kening setiap kali Kikan menoleh ke arahnya. Meski begitu, kapanpun mereka berpapasan, Rey menyentuhnya seakan-akan itu dilakukan sambil lalu, dengan santai, dan Kikan merasakan tangan Rey menyentuhnya sedikit lebih lama daripada yang seharusnya.


Kikan takut Rey sedang berusaha menggodanya, dan berhasil. Ia sendiri mulai menyentuh Rey dengan sengaja, sekedar untuk merasakan sentuhan itu.


" Di mana kau belajar biliar?" tanya David. Dia tidak seterbuka dan seramah Rey dan Devan,


" Penjara." Jawab Kikan dan menembak bola yang disasarkannya dua kali sebelum mengirimnya ke sudut kanan.


Ia berhenti cukup lama untuk melemparkan senyum kemenangan ke arah Rey, yang membalasnya dengan mengangkat alis. Respon kecil itu merupakan pengakuan Rey akan keterampilan Kikan. Tetapi pria itu juga menantangnya dengan cara yang tak pernah Kikan duga. Rey membuat ketertarikan padanya tampak begitu jelas sehingga bahkan teman-temannya bisa memahami apa yang pria itu inginkan.


" Menarik," sahut David.


Kikan memasukkan bola lain. "Untuk orang sepertimu, latar belakang ku pasti lebih mengejutkan daripada menarik, benar bukan?"


" Untuk orang sepertiku?" David mengulangi perkataan Kikan.


Biasanya Kikan tidak akan bersikap terlalu terbuka mengenai masa lalunya karena khawatir akan mempermalukan Rey. Tetapi ia sedang melemparkan tantangan sendiri. Kalau memang Rey ingin kembali bersamanya, pria itu harus memahami segala yang merupakan bagian dari diri Kikan saat ini. "Anggota masyarakat yang baik," Kikan menjelaskan dan, sedihnya luput dalam tembakan yang dilakukannya.


Sambil mengamati bola yang ditinggalkan untuknya, David berputar ke sisi lain meja. "Mengingat aku sendiri pernah di penjara, aku tidak akan bilang kalau aku terlalu kaget."


Ketika melihat Kikan terkejut, David tertawa. lalu dia memasukkan dua bola secara berturut-turut dan berjalan ke ujung yang jauh untuk menyidok bola ketiga.


" Dari sana kah kau belajar billiar? tanya Kikan. "Di dalam"

__ADS_1


" Kami tidak punya meja billiar. Tapi aku mengalahkan hampir semua orang di lapangan sepak bola berkatnya banyak waktu aku dapat di halaman."


Kikan selama ini menggunakan masa lalunya sebagai semacam baju zirah untuk mengelak dari segala macam uluran persahabatan, jadi situasi ini membuatnya merasa agak bodoh. "Sudah berapa lama kau keluar?"


" Belum lama." jawab David.


Itu bukan jawaban yang jelas, tapi Kikan merasa David tidak suka memikirkan atau membicarakan tentang masa lalu, sebagaimana dirinya.


" Jauh lebih lama daripada kau," tambah David. "Itu sebabnya aku mengaku, dan untuk memberitahumu bahwa keluar dari sana artinya kau harus menyesuaikan diri. Butuh waktu."


Kikan menyunggingkan senyum terima kasih. "Oke."


" Wow, hati-hati kalau kau melemparkan yang itu," sergahnya.


" Melemparkan apa?" tanya Kikan, bingung. "Tongkat billiar ku?"


" Bukan, senyuman itu. Aku jatuh cinta pada wanita lain, jadi aku kebal." David menepuk punggung Rey. "Tapi aku khawatir bocah malang ini tidak bisa menangkisnya."


David tidak tampak tersinggung. dia hanya terbahak.


" Bagaimana dengan bocah malang yang ini?" ketika Devan menunjuk dada sendiri, Kikan yakin dia melakukan itu untuk menggoda Rey.


" Kalau kalau kau belum tahu, kau bahkan tidak masuk hitungan," sahut David, yang terbahak lagi ketika Devan pura-pura menyerangnya.


Mereka saling goda seperti itu sampai permainan selesai. Tanpa Devan sebagai rekan bermain, Kikan yakin akan menang, begitu Devan tidak berhasil dalam sodokan terakhir, dan itu memberi kesempatan untuk Rey mengakhiri permainan mereka.


Devan dan dan David tengah mengobrolkan buku otomotif yang teman mereka bawa, ketika mereka naik tangga untuk mengambil makanan. Tapi tampaknya Rey tidak tergesa-gesa untuk meninggalkan ruangan. Dia menghampiri dari belakang ketika Kikan tengah menyimpan tongkat billiar di rak. "Sepertinya kau berhutang padaku." kata Rey.


Kikan tidak repot-repot menoleh ke belakang. "Aku sudah berusaha memberimu uang itu, tapi kau tidak mau menerimanya."


Rey meletakkan tangan dilekukan pinggang Kikan, dan bibirnya menyapu leher Kikan. "Ada hal lain yang lebih kuinginkan."

__ADS_1


Kikan menahan nafas. Akankah ini menjadi percikan yang dapat menyalakan api untuk semua niat baiknya, sekali lagi membakar habis kehidupan Kikan? "Seperti...?" tanya Kikan.


Rey tak punya kesempatan menjawab. Teman kencannya memasuki ruangan, lalu pria itu menurunkan tangan dan bergerak menjauh.


" Kau di sini rupanya!" ujar Cindy. "Aku heran kau pergi ke mana tadi."


Kikan menggigit lidah. Cindy tidak mungkin terlalu heran, karena Devan telah memberitahunya.




Kikan duduk di luar, menatap api unggun di depannya. Sementara di seberang nya. Devan, Kelly dan Simon membahas pemotretan terbaru yang dilakukan Simon. Mereka sudah berusaha mengikut sertakan Kikan dalam percakapan dengan memintanya duduk lebih dekat dengan mereka, dan mengajukan beberapa pertanyaan. Tetapi ketika Kikan tidak menjawab lebih dari yang diperlukan, mereka membiarkannya tenggelam dalam pikiran sendiri. Ia sudah senang hanya dengan menikmati gumaman suara mereka. Angin sepoi-sepoi yang berhembus dari danau, serta hamparan bintang-bintang yang berkelip- kelip di atas kepala mereka.


Setidaknya Rey telah masuk dan tidak ikut duduk di sekitar api unggun itu. Ternyata tidak mudah mengabaikan teman kencannya. Wanita itu terus menempel pada Rey, bahkan duduk di pangkuannya lagi, terlepas bahwa separuh tamu di situ pergi ke tempat-tempat lain di dalam rumah untuk bermain billiar, menonton film, atau mengambil makanan kecil, sehingga banyak kursi kosong yang tersedia.


Rey tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan Cindy. Dia hanya menatap Kikan seakan berkata, Apa kau yakin tak peduli?


Pintu terbuka dan Eva keluar. Kikan mengira wanita itu akan bergabung dengan teman-temannya yang sedang berbincang-bincang di dekat situ, tetapi dia mendatangi tempat Kikan duduk dan menarik kursi. "Kudengar kau pemain billiar andal."


" Aku punya waktu bertahun-tahun untuk berlatih. Tunanganmu jago juga."


Eva tampak senang mendengar pujian itu. "Dia memang jago dalam banyak hal."


" Bagaimana kalian bertemu?" tanya Kikan


" David sedang mengunjungi kota kecil ini untuk istirahat dari.... istirahat dari pekerjaannya, dan aku bertemu dengannya di penginapan orang tuaku," jawab Eva.


" Dia langsung memikat hatimu?"


Eva tersenyum seakan ada sesuatu yang lucu yang dikenangnya. "Begitulah mulanya. Aku melihat pria tampan ini di seberang dan langsung tertarik." Tetapi dia tidak menjelaskan, dia hanya menambahkan, "Sudah jodoh. Mungkin"

__ADS_1


Kikan mengangguk setuju. "Kalian tampak bahagia bersama."


__ADS_2