
Kikan terkesan dengan rumah Rey. Rumah itu bagus dengan tiga kamar tidur dan dua kamar mandi yang dibangun oleh Rey dan Jason sendiri, dan ada banyak perbaikan panel dinding, lantai dari marmer yang mengkilat, susuran tangga dari kayu, berbagai peralatan dari baja tahan karat, dan lemari-lemari yang indah. Kikan bertanya-tanya bagaimana rasanya tinggal di tempat semacam itu, dan merasa sedikit iri pada mereka. Terutama ketika melangkah ke belakang rumah dan melihat mereka mempunyai halaman yang luas dengan jalan setapak kecil menuju kolam renang yang tadi disebutkan Jason ketika dia menjemput Kikan.
" Wow, ini bagus sekali," katanya.
Rey sedang mengurus pemanggang, tetapi ia menoleh untuk tersenyum padanya. Rey bangga, tetapi tidak sebangga Jason, yang membawa Kikan berkeliling rumah.
"Kita akan mengadakan pesta yang asik kalau udaranya tidak terlalu dingin." kata Jason.
Jason melambai ke ibunya untuk mengikutinya kembali masuk rumah. "Ayo. Aku tunjukkan kamarku pada Mom."
Kikan merasa dirinya terlalu mencampuri kalau naik lantai dua, ke bagian rumah yang lebih pribadi, tetapi Rey tidak melarang. Rey menutup tudung pemanggang dan menemani mereka menaiki tangga berbentuk L, seolah dia juga ingin sekali melihat reaksi Kikan.
" Bagaimana menurut mom?" tanya Jason ketika mereka masuk ke ruangan yang jelas merupakan kamar remaja.
Mebelnya serasi, dan itu merupakan sesuatu yang baru bagi Kikan. Dan ada kipas angin di langit-langit, lemari pakaian, dan poster olahraga bertanda tangan yang tergantung di dinding. "Kau anak yang beruntung. Itulah pendapatku, ayahmu mampu memberimu begitu banyak." ucap Kikan.
Anak itu menjejalkan tangan ke saku baju dan memandang sekitar seolah dia melihat semua itu dengan pandangan baru. "Ya, aku tahu. Tapi bukan berarti tidak menyenangkan kalau ada Mom dalam hidupku."
Karena terharu Jason berkata seperti itu saat Kikan tidak punya banyak hal untuk diberikan kepadanya, Kikan pun tersenyum. "Terima kasih, itu manis sekali."
Ungkapan terima kasihnya pasti telah membuat Jason malu karena dia menunduk dan melanjutkan memamerkan rumah. "Ini kantor Papa," katanya ketika mereka masuk ke ruang berikutnya.
Kantornya tidak sebersih bagian lainnya dalam rumah, tetapi juga tidak kotor. Hanya berantakan. Dari apa yang dilihat Kikan, jelas Rey menjalankan bisnis yang sukses, dan Kikan merasa ikut senang untuk Rey dan Jason. Rey punya segala sesuatu yang tidak memiliki Kikan. Tetapi kita terlalu sayang pada Rey sehingga selalu mengharapkan yang terbaik untuknya.
" Sudah berapa lama kau memegang izin kontraktormu?" tanyanya ketika menatap penuh kagum pada sistem komputer yang mahal, juga meja kerja dan rak bukunya.
__ADS_1
Selain sapaan singkat, Rey membiarkan Jason berperan sebagai tuan rumah, tetapi sekarang dia menjawab pertanyaan ini. "Waktu aku berumur dua puluh dua. Aku mendapatkannya tepat setelah lulus dari universitas dengan gelar di bidang ekonomi manajemen."
" Ekonomi manajemen?"
" Itu pada dasarnya gelar bisnis."
Kikan menyentuh permukaan kayu yang halus. "Apa yang menurutmu lebih berharga bagimu? Pendidikanmu? Atau pengalaman praktis?"
" Dalam bidang konstruksi, pengalaman praktis lebih berharga untuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi ada banyak kontraktor bagus di luar sana yang dapat membangun rumah tapi tidak dapat menjalankan bisnis. Jadi... menurutku dua hal itu diperlukan untuk bisa berpenghasilan pada masa sekarang."
" Itu sebabnya Jason juga akan kuliah untuk mendapat gelar kan?" Kikan menggoda, lalu menyenggol anaknya.
" Rencananya begitu." Jason menunjuk seberang ruangan. "Ini kamar tidur ayahku."
Kikan tidak merasa perlu melihat kamar tidur Rey. Ia berharap Rey akan menghentikan Jason dan membawanya menuruni tangga, ke ruang tamu dan dapur. Tetapi Rey tidak melakukannya. dan Kikan tidak berkata apa-apa. Ia memang sangat penasaran. Selain itu, mereka yang membangun semua ini. Mereka tidak memamerkan padanya apa yang mampu mereka beli, mereka menunjukkan padanya hasil kerja keras mereka.
Jason membawanya ke kamar mandi Rey dan area penyimpanan pakaian di sampingnya. yang kalau digabung ukuran keduanya sama besar dengan kamar tidurnya.
" Luar biasa besar di sini," kata Kikan, setengah berharap suaranya bergema di lantai marmer dan alas meja dari bahan granit.
" Aku terpikir untuk menjualnya lagi ketika membangunnya," kata Rey menjelaskan. "Aku tidak butuh ruang sebesar ini, tapi wanita umumnya suka."
" Aku yakin mereka suka." Kikan tidak tahan untuk tidak membandingkan ruang itu dengan tempat tinggalnya. Kamar mandinya bahkan tidak sampai setengah dari ruang pakaian Rey. "Hasil kerja kerasmu bagus sekali."
Tatapan mereka bertemu. "Terima kasih." Kata Rey.
__ADS_1
Kikan mengalihkan pandang. "Dan kalau kau tidak menjualnya, aku yakin istrimu, kalau kau menemukan wanita yang tepat, akan menyukainya."
" Itu kalau Papa menemukan wanita yang tepat," gumam Jason. "Rasanya sulit Kalau Papa tidak berkencan."
Rey tidak langsung bereaksi, maka Kikan berusaha mengalihkan pembicaraan dengan jawaban yang menenangkan. "Sulit untuk bertemu seseorang ketika kau sudah lulus kuliah dan bekerja, terutama kalau kau tinggal di kota kecil."
" Dan itu artinya mom akan punya masalah yang sama," kata Jason sambil mengerutkan kening. "Tapi ada ada situs kencan untuk menemukan pasangan. Itulah cara banyak orang sekarang menemukan pasangan."
" Banyak orang? Aku tidak tahu itu" Kikan berbalik memandang Rey. "Kau bertemu wanita yang kau kencani melalui internet?"
Rey menggeleng. "Tidak pernah mencobanya." Kata Rey.
Kikan membuka kamar mandi untuk memeriksa bahwa tempat itu cukup besar untuk dua orang, dengan bangku dan segala perlengkapannya. "Aku juga belum pernah. Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana."
" Mudah," kata Jason. "Seperti Facebook. mom dapat cepat mempelajarinya. Aku bisa membantu kalian menggunakan match.com"
" Silakan jadi makcomblang untuk ayahmu saja," kata Kikan sambil tertawa. "Kupikir aku menunda itu untuk sementara waktu. Aku juga tidak yakin profilku cukup menarik, mantan narapidana, miskin, dibenci seluruh masyarakat, mencari cinta sambil tinggal di tempat sampah dan mengurus ibunya yang sakit."
Kikan tertawa membayangkan ada orang yang bereaksi pada sesuatu yang begitu menyedihkan, tetapi mereka sepertinya justru terganggu, bukan terhibur. "Oh sudahlah," katanya. "Itu hanya bercanda. Aku baik-baik saja, aku akan mandiri nanti. Dan aku akan menemukan seseorang kalau sudah siap."
" Kenapa tidak mencari orang yang dapat membantumu melalui semua itu?" tanya Jason. "Mom tidak perlu menyebutkan apapun."
" Maksudmu aku dapat berbohong, seperti orang lain?" Kikan tertawa lagi. "Tidak, terima kasih."
" Mom kan cantik," kata anaknya. "Kalau memasang foto, Mom dapat menarik lebih banyak pria."
__ADS_1
" Karena banyak pria yang tidak cukup pintar untuk tahu bahwa mereka perlu memperhatikan lebih dari sekedar penampilan?" kata Kikan bercanda.
" Bukan hanya itu yang kau punya," bantah Jason. "Ada banyak hal bagus mengenai Mom, hal-hal yang tidak berkaitan dengan masa lalu."