Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 21


__ADS_3

Kikan bersenandung pagi ini, sambil membuatkan sarapan untuk sang ibu.


"Kau senyum - senyum sendiri, dan bertingkah seolah - olah bahagia." Apa yang membuatmu sesenang itu?" Tanya ibunya. "Apa ada pria yang menemui tadi malam? Apa itu ribut - ribut yang membuatku terbangun?"


Kikan merasakan wajahnya memerah. "Tidak. Aku tidak didatangi siapapun."


Bu Lis mengamati putrinya dengan seksama. "Lalu kenapa mukamu memerah?"


"Karena mom membuatku malu!" selama ini Kikan jarang membiarkan dirinya memikirkan pria. Ia tak ingin mendambakan kedekatan fisik seperti yang tampaknya diinginkan wanita lain. Kikan juga tak ingin terlibat dalam hubungan romantis yang kadang-kadang muncul.


" Kalau begitu apa yang membuatmu begitu senang?"


"Tidak ada. Ini hari minggu yang indah, cuma itu. Dan aku berencana pergi ke Kota." Ia akan menggunakan internet untuk membuat akun Facebook supaya Jason bisa mengirimkan pesan padanya. Ia tak sabar melakukan kontak dengan anak itu lagi tanpa harus melalui Rey.


" Kemarin juga hari yang indah. " kata ibunya dengan nada gembira yang sinis, seakan-akan ada sesuatu yang lain dibalik itu.


Dan memang ada. semangat Kikan yang meningkat tak ada hubungannya dengan cuaca, melainkan karena kenyataan bahwa sedikitnya ada satu anggota masyarakat yang tidak punya perasaan benci terhadapnya.


Kikan mencoba mengabaikannya sikap sinis ibunya, dan meneruskan pekerjaannya membuat sarapan.


*******


Sekarang hari minggu yang santai. Hari sempurna ketika orang-orang keluar masuk dari Black Coffee. Suasana nyaman di tempat itu, berikut atmosfir trendi dengan lantai kayu dan menu yang ditulis kapur pada papan tulis, membantu menghilangkan sisa-sisa perasaan kesal Kikan setelah percakapan dengan ibunya tadi.


kini Kikan bisa beristirahat sejenak dan menggunakan internet, seperti yang diinginkannya. tapi ia tak bisa santai sepenuhnya, setiap kali berada di tempat umum, ia khawatir akan bertemu salah satu keluarga Lori. Kikan yakin keluarga itu akan membuat keributan, sejauh ini ia beruntung, Kikan belum pernah bertemu dengan mereka atau dengan orang tua Rey. Yang menunjukkan sikap sangat bermusuhan dengannya tujuh belas tahun silam.


Mencoba memfokuskan diri, dengan Tujuan awalnya. Kikan tidak terlalu pandai menggunakan komputer. Ia nyaris tak punya cukup pengetahuan dan pengalaman untuk mengunggah gelangnya di online shop. Ia dibantu oleh salah seorang petugas penjara, saat itu.


Satu-satunya masalah adalah bel yang selalu berbunyi di atas pintu setiap kali ada yang masuk atau keluar kafe. Konsentrasinya jadi terganggu, bunyi gaduh itu menandakan terjadinya perubahan dalam lingkungan. membuatnya waspada akan hal baru yang mungkin saja berbahaya.

__ADS_1


Untunglah Kikan telah memesan kopi, sehingga ia bisa duduk di sudut dan berusaha tidak dilihat orang lain di balik layar komputernya. Kikan sedang membaca instruksi di Facebook ketika bel itu berbunyi lagi, ia mencondongkan badan ke samping untuk melihat siapa yang datang, dan terpaksa melihat untuk kedua kalinya. Orang yang paling tidak diharapkannya datang melewati pintu itu adalah Jason. anak itu berjalan masuk bersama seorang teman, mereka mengenakan topi rajut dan kelihatan begitu imut sehingga Kikan merasa bangga. Anaknya Jason bertubuh besar, tampan dan cerdas, dia juga terlihat seperti orang yang benar-benar baik.


tapi Kikan tak ingin membuat Jason menjadi pusat perhatian, ia khawatir jika memanggil Jason, anak itu akan malu. Jadi Ia terus menekuri laptop seakan-akan tidak menyadari kehadiran putranya. Kikan mengira Jason dan temannya akan minum latte atau apapun yang mereka pesan kemudian kembali keluar tanpa menengok ke arahnya. tetapi Jason melihatnya ketika mereka sedang menunggu pesanan dan membuat Kikan terkejut dengan berkata. "Hai... Itu ibuku."


Jason berbicara cukup keras sehingga akan tampak aneh kalau Kikan tidak mendengar, Kikan mengangkat pandangan ke arahnya dan tersenyum. Ia berusaha memutuskan apakah sebaiknya menghampiri anak itu atau apakah Jason lebih suka Ia hanya melambai. tapi Kikan tidak harus mengambil keputusan apapun, Jason mengajak temannya menghampiri Kikan.


" apa yang Mom lakukan di sini?" tanyanya. Kikan memutar komputer sehingga Jason bisa melihat layarnya. "Mencoba berlayar di Facebook untuk pertama kali"


"Gampang kok" kata Jason. "Biar kubantu"


Remaja itu menarik kursi dari meja lain dan duduk di samping nya, sementara Kikan mengangguk sopan pada teman anaknya.


"Aku Tristan" kata teman Jason.


" Tristan satu tim basket denganku" Jason menjelaskan.


Tristan menyambut uluran tangan Kikan "Senang bertemu dengan Anda." Tristan melemparkan senyum malu-malu. "Jason bilang anda cantik tapi aku tidak mengira anda secantik ini."


" Bro, kau menggoda ibuku, duduk sana!" ujar Jason sambil tertawa kaget.


Kikan agak merasa malu sekaligus tersanjung senang mengetahui Jason bangga akan dirinya. setidaknya dalam satu segi, dan ia semakin berterima kasih kepada orang yang telah membelikannya gaun dan celana jeans yang sedang dikenakannya ini. Kalau tidak ia akan memakai baju yang sama seperti yang dipakainya sewaktu sarapan bersama Jason dan Rey waktu itu.


"Satu es kopi, satu Mocca" seru barista di konter, dan Jason meminta temannya mengambilkan minuman mereka.


"Lihat, tinggal mengklik ini" ujarnya pada Kikan, sambil menggeser layar agar mereka sama-sama bisa melihatnya. "Lalu kau memilih nama pengguna dan menuliskan Informasi pribadi di sini"


" oke..." Terima kasih sudah membantuku Jas


Tristan kembali dengan kopi mereka, tetapi bukannya bangkit dan mendatangi temannya Jason melanjutkan mengajarkan Kikan dalam proses pembuatan akun, sementara Tristan hanya menonton.

__ADS_1


Beberapa lama kemudian, halaman pribadi Kikan pun jadi.


"Kita berhasil!" Serunya gembira.


"Aku akan mengajakmu berteman kalau sudah di rumah nanti" kata Jason.


"Aku juga" seru Tristan.


"Dude.. kau dilarang berteman dengan ibuku" Jason menaikkan satu alisnya ke arah temannya.


Wajah Tristan berubah merah padam. "Kenapa tidak ?" gerutunya. Tapi perhatian Jason sudah teralih kembali pada laman Facebook.


Optimisme Jason menular padanya, ia menatap anaknya, "Bagaimana hasilnya?" tanya Kikan.


" Bagus" ujar anaknya, tidak sadar akan pikiran mengharu biru dan dorongan keibuan yang ditimbulkan dalam diri Kikan saat menatap anaknya.


Setelah selesai Jason menawarkan untuk pulang bersamanya, "Tentu " Kikan tak mau melepaskan kesempatan lebih dekat dengan anaknya. ia menutup laptop, memasukkannya ke ransel, dan ikut berdiri ketika anaknya mengeluarkan kunci mobil.


Kikan mengikuti mereka keluar dari kafe. "Ayahmu tidak keberatan kau mengajakku uji mengemudi... "


Jason meringis seakan-akan Kikan mengajukan pertanyaan yang menggelikan. "Kenapa tidak, Ini jeep- ku."


Tetapi Kikan yakin.. Rey belum sepenuhnya percaya apakah ia bisa memberi pengaruh yang baik pada anaknya. Jason tidak mengerti itu, dan Kikan tidak ingin memikirkannya. Rey tidak harus tahu tentang apa yang terjadi. Kikan merasa tak melakukan sesuatu yang salah, dengan membiarkan Jason menunjukkan Jeep pada ibunya.


Ketika Jason menghidupkan mesin dan mulai menyetir, ia menguasai kendaraan itu dengan mudah sehingga Kikan terkagum kagum menyadari betapa sudah dewasa putranya. Dan betapa banyak kebersamaan yang terlewatkan.


"Aku banyak berhutang budi pada ayahmu" Kata Kikan, dan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


🐾Jangan lupa likenya😇😇❤️🐾

__ADS_1


__ADS_2