Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 62


__ADS_3

"Aku tidak bermaksud sinis," kata Kikan. "Aku juga menyukainya. Kau punya ayah yang baik."


Jason menimbang-nimbang sambil memandangi kunci mobilnya sebelum mendongak untuk memandang ibunya lagi. "Kalau Papa mengajakmu kencan, apakah Mom mau?"


Kikan sudah berhati-hati dalam menyembunyikan perasaannya. Apakah Jason merasakan sesuatu dari caranya memandang Rey atau membicarakan tentang dia.


"Oh, tidak," ujar Kikan sambil menggeleng. "Aku bukan wanita yang tepat untuknya."


"Kalau begitu.... siapa wanita yang tepat itu? tanya Jason.


"Orang yang tidak punya catatan kriminal," Kikan berusaha melucu, berharap dapat membuat percakapan ini menjadi tidak terlalu serius.


"Mom bilang mom tidak membunuh Lori."


"Memang. Tapi kakek-nenekmu berteman dekat dengan keluarga Lori, dan itu membuat ayahmu berada dalam posisi sulit. Dia ingin bersikap adil padaku, tapi itu akan membuat hubungan kalian bermasalah."


"Kadang-kadang, ketika kita benar-benar ingin bersama seseorang, sulit untuk memikirkan tentang hal lainnya.


"Aku tidak akan membiarkan dia membahayakan hubungan itu bahkan jika dia mau, yang aku tahu pasti tidak. Dia akan menemukan seseorang pada akhirnya, tapi bukan aku." Kikan berharap Rey bertindak cepat dan menemukan pacar. Mungkin saat itu akan lebih mudah untuk meyakinkan hatinya agar mengikuti pikirannya.


Jason tampak tidak tahu mesti bagaimana menjawabnya. "Yah kuharap mom tidak marah, kalau dia membelikanmu pakaian renang."


"Kenapa dia mau membelikanku pakaian renang." tanyanya.


"Tidak apa-apa," jawab Jason.




Kikan nyaris tidak dapat membuka mata. Setelah Jason pulang, ia menaiki sepeda ke kantor Devan untuk menggunakan salah satu komputernya dan tetap disana hampir sepanjang malam. Matahari akan terbit beberapa jam lagi, dan sabtu besok akan terasa sangat panjang karena ia harus membuat banyak gelang, tetapi Kikan tidak ingin berhenti karena sedikit lagi semuanya akan selesai. Rey telah mengirimkannya email berisi seratus lebih foto Jason sejak kecil hingga remaja, yang digunakan Kikan untuk membuat album digital untuk hadiah ulang tahun Rey minggu depan. Dona, penjaga penjara yang membantunya menjalankan bisnis gelang ketika Kikan masih dipenjara dulu telah menunjukkan album yang berisi foto cucu-cucunya sebelum Kikan dibebaskan. Dan Kikan jatuh cinta dengan konsep itu.


Kikan khawatir Rey mungkin sudah punya album yang sama. Tetapi ia tidak dapat memikirkan hadiah lain yang sanggup dibelinya, yang mungkin akan disukai pria itu. Dan ada sentuhan seni disitu, jadi mustahil Rey punya album yang persis sama dengan yang akan diberikan Kikan nanti.


Satu-satunya kesulitan adalah menguasai program itu. Meskipun mengedit kata-katanya mudah, begitu ia menguasai cara mengirim foto-foto, memotong, memutar dan membaliknya, perlu waktu berjam-jam untuk mengerjakannya. Dan setelah menggunakan semua sarana grafis khusus itu, inilah album pertama yang dibuatnya.

__ADS_1


Dengan desah kelelahan, Kikan melihat jam yang tergantung di dinding. Hampir jam 4.00. Devan tadi mampir untuk menyapa dan mengucapkan selamat malam sekitar jam 23:00. Kikan ingin dirinya sudah pergi ketika Devan terbangun. Tetapi pria itu kembali sebelum Kikan bisa pulang.


"Kau masih disini?" tanya Devan.


Kikan mengecilkan layar yang berisi album foto, yang sudah diperiksanya lagi secara menyeluruh untuk terakhir kali. Devan mungkin akan melihat album itu pada pesta ulang tahun Rey. Kikan berencana untuk menyerahkannya pada Rey sebelum pria itu pergi ke danau biru, kalau album itu bisa dikirim tepat waktu. Tetapi ia tak ingin Devan tahu betapa lama dan melelahkannya pembuatan hadiah itu. Jam demi jam yang dihabiskannya tampak tidak sepadan dengan hubungan yang dijalinnya, atau tidak dijalinnya dengan Rey.


"Maaf," katanya. "Aku sudah hampir selesai."


"Tidak usah meminta maaf. Kau sama sekali tidak menggangguku." ujar Devan.


"Lalu kenapa kau terbangun ditengah malam?"


"Aku bangun untuk ke kamar mandi, melihat lampu masih menyala dan berpikir mungkin kau jatuh tertidur disini."


"Tidak. Tapi aku juga sudah sangat mengantuk."


Devan berjalan kebelakang Kikan. "Apa yang begitu penting sampai kau tidak tidur sepanjang malam?"


"Hanya pesanan gelang, berkomunikasi dengan pembeli-pembeliku. Dan Rey mengirimiku foto-foto Jason dari tahun ke tahun. Kebanyakan diantaranya belum pernah kulihat, jadi.... Aku tadi melihat-lihat."


"Dia jauh lebih ramah daripada yang kukira. Aku tahu, dia takut ketika tahu aku pulang." Ucap Kikan.


Devan melipat lengan. "Karena kau monster pemakan manusia."


Kikan nyengir mendengar nada bercanda dalam suara Devan. "Menurut sebagian orang."


"Apa kau pernah menghadapi masalah lagi dengan Logan?"


"Tidak sejak insiden di Black Coffee." jawab Kikan.


"Semoga saja dia kapok." kata Devan.


"Aku akan berusaha jauh jauh darinya. Mungkin dia akan mengerti bahwa menyiksaku akan lebih menyusahkan daripada kesenangan yang didapatnya."


" Bagaimana kalau aku mengantarmu mumpung aku bangun?"

__ADS_1


" Tidak, sekarang sudah terlalu larut. kembalilah tidur, Aku punya sepeda."


" Kita bisa menaruhnya di belakang pikap. Kita pernah melakukannya."


" Jarak ke rumahku hanya sekitar dua kilometer. Tidak akan butuh waktu lebih dari sepuluh menit." Tolak Kikan.


" Kau yang mengunci kantornya kalau begitu?"


" Ya, aku janji."


" Oke. Sampai ketemu besok."


Devan berbalik untuk pergi, tetapi Kikan menghentikannya. "Devan?"


Pria itu berbalik untuk memandangnya.


" Kau baik sekali," kata Kikan. "Terima kasih sudah bersikap begitu baik."


" Aku yakin kau belum menyadarinya, tapi kau sangat istimewa."


Kikan tidak tahu apa maksudnya. "Apa yang istimewa?"


" Kebanyakan orang yang berada dalam situasimu pasti akan membiarkan kebencian dan kesedihan memakan mereka hidup-hidup. Tapi kau berhasil menghindarinya. Menurutku, orang sepertimu akan menang pada akhirnya."


" Memenangkan apa?" gumam Kikan. Sementara devan berjalan keluar dari ruangan itu. Masalah-masalahnya memang belum teratasi. Tetapi ia tak bisa mengeluh, akhirnya ia mendapatkan kebebasan. Ia sedang membangun hubungan dengan Jason. Ia bisa mencari nafkah meskipun masa lalunya kelam. Dan rasanya lega mengetahui bahwa ia memperoleh rasa hormat Devan.




Mungkin untuk yang ke 100 kalinya Kikan berdiri dan mundur untuk mengamati meja makannya. Ia sudah berusaha mengumpulkan peralatan makan yang ada. Tidak semuanya cocok, tetapi ia berimprovisasi sebisa mungkin dan dimatanya, caranya mengatur dan memadukan piring, gelas dan pernak-pernik lain cukup bergaya. Kikan ragu apakah Rey dan Jason akan memperhatikan, tetapi ia bangga atas hasil yang telah dicapainya dengan pergi ke halaman untuk mencari-cari, membuat tatakan gelas menjadi wadah mentega, panci dan dua pegangan menjadi mangkuk pasta. Ia memotong-motong taplak lama bermotif kotak-kotak dan kain extra yang sudah terpakai untuk serbet. Mereka akan minum dari gelas tebal berbentuk stoples. Jika tidak melihat cukup dekat untuk mengetahui semua ketidaksempurnaan yang ada, Kikan pikir usahanya sangat bagus. Masakannya tercium lezat dengan aroma basil dan oregano yang dimasukkannya ke saus spaghetti. Ia pernah memasak untuk Jason sebelumnya, tetapi tidak dengan suguhan yang ditata di meja makan hanya telur orak-arik, sayuran atau sandwich keju panggang.


Dan ia belum pernah menyuguhi Rey.


Setelah puas, Kikan bergegas ke kamar mandi. Ia tak ingin mereka datang sebelum ia selesai mandi dan berganti pakaian. Kikan harus segera bersiap.

__ADS_1


__ADS_2