
Kejutan dari air dingin itu membantunya. Setidaknya memberi Kikan hal lain untuk dipikirkan. Ibunya benar, tak seharusnya ia datang ke sini. Kikan tergoda sehingga lupa siapa dirinya dan mengapa ia harus lebih berhati-hati daripada kebanyakan wanita. Wanita wanita lain seperti Cindy, yang tampaknya lebih mampu menghadapi godaan sensual dengan tenang dan santai.
Sambil memberitahu diri sendiri bahwa pada akhirnya ia akan menemukan orang lain, seseorang yang benar-benar mencintainya, Kikan terus berenang, semakin jauh dari tepi danau. Ketika kembali menengok ke belakang ia dapat melihat lampu-lampu di pondok tampak semakin redup, tapi ia tak peduli. Seandainya mungkin, ia akan memilih berenang sampai ke rumah. Di luar sini begitu sunyi dan damai, dan ia tak perlu melihat Cindy bersama Rey. Tidak perlu melihat ekspresi di wajah pria itu yang menunjukkan dialah yang Rey inginkan.
Barangkali ia harus meminta Jason membuatkan profil di match.com. Jika mulai berkencan, perhatiannya akan teralih, mungkin itu juga bisa mencegahnya melakukan kesalahan lain.
Kikan samar-samar mendengar namanya dipanggil. Tetapi ini sudah larut. Tak mungkin ada yang memperhatikan ia meninggalkan kamar.
Kikan terus saja berenang.
Lalu suara itu terdengar lagi. Ternyata Rey. Dia berdiri di tepi danau. Kikan tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, lampu sorot dari pondok menciptakan lingkaran di sekitar kepalanya, tetapi Kikan dapat mengenalinya karena naluri. Siapa lagi yang akan mencarinya? Rey telah mengikutinya sepanjang malam, sambil berusaha menyingkirkan Cindy.
Getaran yang Kikan rasakan beberapa menit terakhir semakin kuat. Ia tak sanggup menghadapi Rey sendirian dan dalam kegelapan. Ia tidak akan mampu memisahkan mana yang nyata dan mana yang hanya bagian dari dongeng.
Kikan mengira jika mengabaikannya, Rey mungkin akan kembali ke dalam rumah dan meninggalkannya. Ternyata tidak. Selanjutnya yang ia tahu Rey melepas baju sehingga hanya memakai celana boxer dan masuk ke danau.
" Kau jauh sekali," serunya.
" Jangan khawatir," Kikan balas berseru. "Aku baik-baik saja. Aku hanya.... keluar untuk berenang santai."
Rey tidak kembali ke tepi danau. Dia berenang mendatangi Kikan. Ketika jarak mereka tinggal satu setengah meter, dia berhenti dan menjejak jejak air. "Ayo menepi," ucap Rey. "Kita bicara di sana ini tidak aman. dan kau tadi sempat minum-minum."
" Aku tidak mabuk. Aku bahkan tidak pusing." sebelumnya Kikan memang sempat minum sedikit, tapi ia telah berhati-hati dengan minum hanya dalam jumlah terukur.
__ADS_1
" Tak ada yang berenang di tengah danau dalam suasana gelap, terutama ketika cuaca sangat dingin," Kata Rey. "Ada apa?"
" Tidak ada apa-apa. Aku perlu menjernihkan pikiran, itu saja."
" Menurutku kedinginan sampai mati tidak akan membantu apapun. Air ini berasal dari sumber yang mengalir dari pegunungan, demi Tuhan ini tidak akan menjadi lebih hangat dengan angin malam seperti sekarang.
" Pergilah. Aku akan menyusul sebentar lagi." ujar Kikan.
" Apa karena Cindy?" tanya Rey. "Karena aku tidak punya perasaan apapun terhadapnya. Kalau aku boleh memilih, dia bahkan tidak akan berada di sini."
Kikan menyeka air dari wajahnya. "Kenapa aku ke sini? Itulah yang tak bisa ku mengerti. Kenapa kau mengundangku padahal kau tahu akan ada banyak temanmu yang datang?"
" Kau pikir kenapa?" tanya Rey.
" Kupikir kau ingin tidur denganku. Tapi kau tak bisa mendekatiku di rumah. Memintaku untuk bergabung denganmu dalam situasi seperti ini, ketika semua orang punya pasangan sama saja memberikan pernyataan terbuka."
" Lalu apa? Aku sedang berjuang melawan semua kontradiksi yang orang tuduhkan padaku. Akhirnya aku menyadari bahwa kau tidak menginginkanku... dan sekarang kau menginginkan yang sebaliknya?" kata Kikan.
Rey menyingkirkan rambut dari wajahnya. "Itu tidak adil, aku tahu. Aku tidak mengerti kenapa semuanya menjadi seperti ini. Tapi sejak kau pulang rasanya.... rasanya seakan kaulah yang selama ini kutunggu-tunggu."
" Kau pasti lebih linglung ketimbang aku." Kikan mulai menjauh.
" Jangan jauh-jauh!" Rey berseru. "Kau membuatku gugup di sini."
__ADS_1
Kikan mengabaikan Rey. "Aku tidak cukup baik untukmu ketika SMA dulu dan, setelah tujuh belas tahun dipenjara, aku bahkan belum mampu mandiri. Aku berjuang dari hari ke hari demi memenuhi kebutuhan paling mendasar. Bagaimana mungkin aku bisa membuat orang sepertimu tertarik?" Dan yang lebih penting lagi, apa yang ia miliki untuk membuat pria ini bertahan dengannya? Ia tak sanggup menjalani yang pernah terlewati sebelumnya, terutama dengan orang yang sama.
Rey berenang dengan kuat untuk menutup jarak diantara mereka. "Aku tidak pernah percaya bahwa kau tidak cukup baik untukku. Tidak di dalam hatiku. Dan itulah yang seharusnya aku percaya, kalau saja semua orang tidak mempengaruhi ku."
" Tapi mereka orang tuamu, teman-temanmu. mereka tidak meninggalkanmu," Kikan mendebat." Mereka akan mendatangimu, mengatakan hal-hal yang sama!"
" Mereka tidak akan membuatku goyah, Kikan. Tudak kali ini. Aku menyesal telah membiarkan mereka melakukannya dulu."
Ketika sudah cukup dekat, Rey merengkuhnya dan Kikan tidak melawan. Rey terlalu kuat. Lagi pula, Kikan tak ingin melawan. Ia ingin percaya pada Rey, hanya saja ia tak yakin apakah bisa melakukan itu. Tidak setelah hampir berpuluh tahun hanya menerima satu atau dua surat darinya. "Kau tidak perlu meminta maaf lagi. Bukan itu yang kucari..."
" Tapi aku ingin kau mengerti." Rey memeluknya erat, jelas berusaha menyalurkan kehangatan tubuhnya, karena Kikan menggigil. "Kurasa dulu aku masih terlalu muda dan tidak berpengalaman sehingga tidak bisa menjadi satu-satunya orang yang melihat betapa sangat mengagumkannya dirimu. Aku meragukan diri sendiri, menyerah pada tekanan dan kebutaan dari orang-orang yang kupercaya untuk membimbingku. Aku tidak menyadari mereka memandang semua arah yang salah. Mereka melihat sampah yang menumpuk di seputar rumah ibumu, fobia ibumu, pakaian-pakaian bekas yang selalu kau kenakan, yang selalu saja berwarna hitam. Sikapmu yang selalu menentang. Dan mereka tidak bisa melihat apa yang sesungguhnya sangat penting."
Kini Kikan menjadi lebih bingung lagi." Dan apakah itu? Aku akan selamanya menjadi anak ibuku, Rey. Kalau sudah bisa mandiri, aku berencana untuk mencarikan pertolongan untuknya, tapi aku ragu apakah dia mau. Kau tidak bisa memaksa seseorang menjalani terapi. Aku menduga Ibuku akan tetap seperti sekarang."
" Aku bukan ingin bersama ibumu. Aku ingin bersamamu."
" Tapi dia bagian dari hidupku! dan begitu juga stigma yang telah melekat padaku!" ujar Kikan.
" Yang penting adalah... kau memiliki hati paling baik yang pernah kutemui." Sambil menempelkan kening mereka, Rey menangkup wajah Kikan." Dan kau orang paling pemaaf, sederhana, dan murah hati yang pernah kutemui. Pria mana yang tidak bahagia dengan orang sepertimu?"
Kikan berusaha melepaskan diri." Kau tidak sungguh-sungguh."
Rey meraih lengan Kikan sebelum ia dapat melepaskan diri. "Aku sungguh-sungguh dengan setiap kata yang kuucapkan. Aku tahu sulit bagimu mempercayaiku. Tapi sekarang aku punya keyakinan diri yang jauh lebih besar setelah umurku bertambah, aku jauh lebih mempercayaimu dan apa yang mungkin akan kita hadapi. Karena itu kuharap..."
__ADS_1
Nafas Kikan tersekat begitu ia memandang Rey. "Apa?"
" Kuharap kau memberiku kesempatan lagi," ucap Rey.