
Untunglah pesanan gelang terus berdatangan. Itu merupakan cahaya terang untuk Kikan. Ia telah mengumpulkan uang yang sangat dibutuhkannya, dan ia berhasil mengumpulkan lebih banyak daripada yang berani diimpikannya. Ia berusaha mengalihkan pikiran dari kejadian di kolam renang sabtu malam lalu dengan berkonsentrasi pada pekerjaan. Ia bekerja berjam-jam pada hari minggu dan juga senin sampai ia pergi ke tempat Devan malam itu. Lalu ia membuka Facebook untuk melihat apakah ada kabar dari Jason dan menemukan pesan Jason yang bertanya apakah Kikan bisa datang pada pertandingannya.
Kikan membalas bahwa ia bisa. Hanya itu yang ditulisnya. Ia tidak mendengar kabar dari Rey sejak pria itu mengantarnya pulang dari pesta barbekyu, dan ia tak bisa membayangkan bagaimana caranya ke pertandingan anaknya. Lebih baik mereka saling menghindar dan tidak pergi bersama. Mungkin Rey juga mengambil keputusan yang sama.
Tetapi mereka punya anak. Itu membuat kontak di antara mereka tak terhindarkan.
Devan mampir ke kantor untuk menemuinya ketika Kikan sedang menutup laman Facebook.
" Kau semakin kaya?" Tanya pria itu ketika menyelinap masuk ke kantor.
" Aku lebih kaya ketimbang dulu," Kikan berusaha bergurau. Terutama sejak kau tidak mengizinkanku membayar pakaian yang kau berikan untukku."
Devan meletakkan amplop yang ditinggalkan Kikan pada komputer yang sering digunakannya. Dan isinya masih utuh.
" Kau semestinya membolehkan aku berbuat baik." Kata Devan.
" Apa namanya itu, setiap kali kau memberikan tumpangan padaku?"
" Itu tidak sulit, dan kelihatannya kau sudah mau selesai di sini, jadi...." Devan mengeluarkan kunci pikap "Kau akan senang mengetahui bahwa aku hendak pergi melewati tempat tinggalmu lagi."
Kikan tersenyum lebar ke arahnya. "Waktumu benar-benar sempurna. Terlalu sempurna sehingga aku tak bisa kau kelabui."
Devan balas menyeringai. "Sudah naik saja ke pikap."
" Kenapa kau baik sekali?" tanya Kikan.
" Karena kita berteman, dan itulah yang dilakukan sesama teman."
Kikan menyilangkan tas di bahu. "Yang tidak ku mengerti adalah, kenapa kau mau jadi temanku. Aku tahu betapa dekatnya kau dengan Rey. Bukankah rasanya seakan kau berkomplot dengan musuh?"
" Kau bicara apa? Rey juga temanmu. Dia bilang begitu padaku." ucap Devan.
Jika hanya teman, Rey tidak akan menyelipkan tangannya malam itu. Tetapi Kikan tidak ingin memikirkan tentang itu. Sudah cukup sulit baginya mengenyahkan ingatan tentang malam itu sewaktu tidur saat malam, dan harus bergelut dengan pikiran itu sampai subuh. "Dia ayah anakku." gumam Kikan.
Devan memilah-milah beberapa surat di mejanya. "Berarti akan lebih baik kalau kalian bisa saling menghormati."
__ADS_1
" Benar." Kikan menunjuk gelang yang dibuatnya untuk Devan. Kau tidak harus memakainya setiap hari. Aku takkan tersinggung meskipun kau tidak memakainya."
" Aku memakainya karena aku suka. Jason juga begitu. Pesanan yang kau terima mestinya menyadarkanmu bahwa gelang itu banyak disukai."
Gelang itu tampaknya mulai populer. Kikan tidak tahu kapan itu akan terus berlangsung, tapi ia berencana memanfaatkan kepopuleran itu sebisa mungkin. "Kau belum berubah pikiran untuk menonton pertandingan Jason nanti?" tanya Kikan.
" Sepertinya tidak. Ada komitmen kerja yang harus ku penuhi. Kenapa? Kau butuh tumpangan?"
" Aku berharap bisa mendapat tumpangan kalau ada. Tapi.... kau tidak usah khawatir. Aku akan memikirkan cara lain."
" Kau tidak ingin pergi dengan Rey?" tanya Devan.
Kikan berdehem. "Bukannya tidak ingin. Aku hanya.... aku belum mendengar kabar darinya, dan aku tidak punya sarana untuk mengontaknya."
Sebenarnya bukan itu masalahnya. Namun itu merupakan alasan yang paling mudah dibuat, dan karena itulah Kikan sangat kaget ketika Devan mengeluarkan ponsel, menekan tombol, dan menyerahkan benda itu padanya. "Sekarang kau punya." kata Devan.
Oh, astaga.... Kikan nyaris mengembalikan ponsel itu. Tetapi Rey menjawab dengan cepat.
" Ada apa?"
Ada jeda sebentar, lalu Rey berkata, "Bagaimana kabarmu?"
" Baik. kau?" balas Kikan.
" Oke."
Kikan berpaling dari Devan sehingga pria itu tidak bisa melihat kecemasan di wajahnya. "Aku ingin tahu apakah.... apakah aku masih bisa menumpang ke pertandingan Jason nanti."
" Tentu saja." Kata Rey.
" Trims. Jam berapa kau berencana berangkat? Apa kau mau menemuiku di suatu tempat di kota supaya lebih mudah?"
" Tidak. Aku akan menjemputmu di rumahmu. aku akan datang jam 15.00."
" Aku akan siap." Kata Kikan.
__ADS_1
" Kau memakai telepon Devan."
Kikan melihat dari atas bahu ke arah teman Rey. "Ya, aku berada di tempatnya sekarang." ujar Kikan
" Aku tidak akan membiarkan itu menggangguku," kata Rey.
" Apa?" tanya Kikan, terkejut dan tidak begitu berarti maksud Rey.
" Tidak apa-apa. Sampai ketemu nanti," kata pria itu, lalu menutup telepon.
" Masalah terpecahkan?" Devan bertanya ketika Kikan mengembalikan ponselnya.
Masalah itu, mungkin. Tapi bagaimana hati Kikan meleleh ketika mendengar suara Rey sekali lagi menunjukkan bahwa ia sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada mencari tumpangan mobil. Mungkin itu menjadikannya wanita paling bodoh atau paling gila di dunia, tapi Ia sama sekali memang belum melupakan Rey.
♪
♪
Siangnya, Kikan keluar dari trailer sebelum Rey bisa memarkir pikapnya dan pergi mendatangi pintu trailer. Jelas wanita itu sudah mengamatinya. Rey lega melihat Kikan sudah siap, karena ia tak ingin terlambat menonton pertandingan. Mereka harus bermobil selama enam puluh menit. Tetapi ada masalah lebih besar yang membuatnya khawatir. Ia terus memikirkan tentang pertengkaran yang dialaminya di rumah keluarga Logan dan khawatir kesulitan Kikan belum berakhir.
Kemudian, pemandangan Kikan menggunakan pakaian yang Rey dan Devan belikan untuknya.... itu akan membuat Rey lebih sulit untuk mengingat tekadnya untuk menahan diri dan melakukan pendekatan-pelan, karena tingkat kepercayaan diri Kikan yang rendah.
" Kenapa kau harus tampil begitu cantik?" gumamnya untuk sesaat, ia khawatir kecantikan telah membutakannya, dan bahwa keluarga Lori dan orang tuanya benar.
Tetapi Rey menolak pemikiran itu nyaris seketika. Bukan penampilan Kikan yang membuatnya tertarik. Tidak sepenuhnya, Rey pernah berkencan dengan sejumlah wanita cantik beberapa tahun ini. yang dimiliki Kikan adalah keanggunan, dan itu jauh lebih awet dan lebih sulit ditemukan, terutama karena dia berhasil mempertahankan keanggunan itu dalam kondisi yang paling buruk.
Ketika Rey membungkuk untuk membukakan pintu, Kikan tersenyum ragu-ragu.
" Terima kasih." Setelah naik ke mobil, Kikan meletakkan bungkusan di antara mereka. "Aku senang kau mau datang jauh-jauh ke sini untuk menjemputku."
Sikapnya yang manis benar-benar menyegarkan. Rey berusaha melupakan yang pernah diucapkan di rumah keluarga Logan. Ia tak ingin kejadian itu terus menghancurkan hari ini, tidak ketika hanya berada dekat dengan Kikan sudah membuatnya merasa nyaman. "Tidak masalah. Jason benar-benar gembira saat tahu kau akan menontonnya bermain."
" Aku memang sudah tidak sabar." kata Kikan.
Rey melirik ke arah bungkusan. "Ini apa? makan malam?" tanyanya.
__ADS_1
" Biskuit buatan rumah untuk seluruh tim," jawab Kikan dengan bangga. Sekarang setelah aku punya sedikit uang, biskuit bertabur keping coklat rasanya tidak terlalu mahal. Jadi... kupikir aku akan mencoba peruntunganku dengan membuatnya."