
Kikan mengamati lapangan sehingga orang-orang takkan tahu mereka sedang membicarakan sesuatu yang lebih penting daripada pertandingan yang sudah dimulai. "Kau tidak bisa mencegah apa yang telah menimpaku."
"Aku tidak seharusnya menambah permasalahanmu." Ucap Rey.
"Kau jatuh cinta pada orang lain, kandidat yang lebih baik. Lori lebih cantik, lebih populer, dan lebih sukses disekolah. Dia juga punya keluarga yang baik, yang mirip dengan keluargamu. Semua ini merupakan bukti kualitas terbaik untuk pemuda seperti dirimu."
"Bukti kualitas?" tanya Rey.
"Istilah apalagi yang lebih tepat? Kesamaan status?" Kikan mengingat Lori berjalan di sepanjang sisi jalan pada menit-menit menjelang kecelakaan fatal yang mengerikan itu dan merinding, seperti yang selalu dirasakannya. Butuh waktu sepuluh tahun untuk membuatnya tidak mual. Berada di dalam mobil itu saja sudah cukup buruk, tetapi disalahkan.....
" Aku berharap dia tidak meninggal, kau tahu. Aku berharap aku tidak pernah mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya. Tidak pernah menunjuk-nunjuk dirinya. Mungkin Via tidak akan membuat lelucon itu, dan aku tidak akan tertawa, dan dia tidak akan merebut setir mobil, dan.... dan mungkin kau sudah menikah dengan Lori sekarang."
" Aku juga berharap Lori masih di sini." dari nada suaranya, Kikan yakin Rey juga memandang ke depan. "Demi dirinya, demi keluarganya, demi kau. Tapi aku tidak akan menikah dengannya. Aku tidak Mencintainya."
Tiba-tiba, Kikan tidak terlalu khawatir lagi dengan perhatian yang ditujukan padanya. Jantungnya berdegup kencang oleh desakan untuk mengumumkan pada semua orang bahwa ia tidak bersalah. Meskipun Kikan telah berjuang bertahun-tahun untuk mengatasi desakan itu, ia telah menyadari bahwa semakin lama dan semakin keras ia memprotes, semakin bersalah ia terlihat, godaan itu tidak mau hilang-hilang juga dari waktu ke waktu. Tampaknya sangat tidak adil bahwa tidak peduli apa yang dikatakannya, tidak peduli apapun yang dilakukannya, setiap orang tetap yakin ia dengan sengaja mencelakai manusia lain.
" Aku juga berharap kau mempercayaiku," kata Kikan dengan suara pelan. "Bahwa entah bagaimana kau bisa mengetahui aku tidak menabraknya dengan sengaja."
Kikan mengira akan mendapatkan jawaban khas seperti "Aku tidak suka menghakimi, tapi aku tidak terlalu yakin kau pantas menerimanya." Yang sudah sering diterimanya sebelumnya. Bukan hanya dari Rey tetapi juga dari orang lain. Itu terasa sama menyakitkannya seperti ketidakpercayaan yang dinyatakan secara terbuka atau bahkan cemooh. Tetapi ia terkejut mendengar ketulusan Rey ketika berkata "Aku juga"
Kikan mengangkat tangan ke dada. "Percaya padaku, maksudmu? Kau tahu aku tidak memegang setir?"
Rey memandangnya. "Persis itulah maksudku."
" Hei apakah itu Ibu Jason?" Seseorang memanggil.
Kikan sudah menyiapkan diri untuk menyingkir agar mereka tidak tampak terlalu mencolok. Dan ketika Rey membenarkan identitas Kikan dan beberapa orang datang menemuinya, Kikan tersenyum dan mengangguk kemudian berpura-pura ia sama seperti ibu-ibu lainnya. Dengan segera ia mengerti bahwa Rey tadi duduk di sampingnya dengan sengaja. Rey memberikan contoh bagaimana orang tua lain seharusnya memperlakukan Kikan, memastikan mereka mengerti bahwa mereka akan menyinggung perasaan Rey jika tidak mau menerima Kikan. Sikap itu sendiri sudah cukup membuat haru, dan Kikan menjadi sangat lega.
Akhirnya ada seseorang yang mempercayainya. Benar-benar percaya padanya. Dan itu bukan sembarang orang, orang itu Rey.
♪
♪
Begitu pertandingan berakhir, Rey berkeras membawakan biskuit untuk Jason, dan Kikan tidak mencegahnya. Rey tahu Kikan tidak terlalu ingin mengikuti kemeriahan di lapangan. Dia sudah cukup senang berdiri di dekat pagar dan melambai pada Jason, yang mengenalinya dengan melemparkan senyuman lebar.
Setelah Jason menerima biskuit, makanan itu langsung habis, dan beberapa anak berteriak pada Kikan untuk mengatakan betapa lezatnya biskuit itu.
__ADS_1
Bencana teratasi...
" Mereka suka sekali," kata Kikan ketika Rey berjalan mendahuluinya keluar dari stadion.
Rey tersenyum mendengar nada heran dalam suara Kikan. "Biskuitnya?"
Kikan mengangkat wadah yang kosong. "Yap semuanya ludes."
" Aku melihatnya. Tidak tersisa sedikitpun."
" Akan kubuat lebih banyak untuk pertandingan selanjutnya."
Mendengar itu, Rey nyaris tersandung. "Pasti, tentu saja. Itu bagus sekali. Tapi.... mungkin nanti kau bisa membuatnya di rumahku."
" Kenapa?" tanya Kikan, terdengar bingung.
" Supaya kau bisa menunjukkan caranya padaku." dan Rey bisa memastikan hasilnya. dalam hal ini, Ia punya pengalaman lebih banyak dalam membuat kue dibandingkan Kikan.
Wanita itu tampak tersanjung. "Kau sangat suka biskuitnya?"
Rey sangat suka Kikan, kalau tidak, mustahil Rey mau repot-repot menukar biskuit sekeras batu keasinan hasil buatan Kikan. "Ya." jawab Rey.
" Kau punya banyak kekuatan sihir," Rey bercanda.
" Benarkah?" Kikan meliriknya dengan cepat. "Seperti apa?"
Seperti membuat Rey terus memikirkannya. "Kau benar-benar tidak mau datang ke pondok untuk merayakan ulang tahunku nanti?" Tanya Rey tiba-tiba mengubah topik pembicaraan
" Apa Jason akan datang?"
Kikan tampaknya bertanya-tanya apakah itu merupakan acara keluarga. "Tidak, dia akan menginap di rumah Tristan. Ini akan menjadi... acara dari seorang teman." Secara teknis, itu akan menjadi acara bersama teman-teman dengan pasangan masing-masing, tetapi Rey tidak mau membuatku Kikan takut.
" Dengan kelompokmu yang biasa?" tanya Kikan lagi
" Yeah."
" Pondoknya di mana?"
__ADS_1
" Dekat danau biru, sebenarnya itu pondok milik Simon. Kau tahu dia kan? Si model terkenal."
" Tidak mungkin!" ujar Kikan
" Sayangnya begitu, kau tidak tahu?" tanya Rey.
" Aku kan berada di luar lingkungan," kata Kikan dengan datar. "Sebenarnya, aku tidak pernah berada di dalam lingkaran yang sama denganmu."
Rey mengabaikan ucapan itu. "Simon salah satu teman yang sering jalan bersamaku sewaktu SMA."
" Aku ingat dia, kami pernah bertemu dalam pelajaran kesehatan. Kau mungkin mengira Ibuku pasti sudah menyampaikan berita itu padaku."
" Ibumu menulis surat untukmu ketika kau di penjara?" tanya Rey.
Kikan menendang kerikil selagi mereka berjalan. "Aku sudah bilang dia tidak seburuk kelihatannya."
" Seberapa sering dia menghubungimu?"
" Sekali seminggu. Hanya dia orang yang membawakan kabar untukku, jadi... kupikir mestinya tidak mengherankan aku menunjukkan kesetiaan padanya."
Rey mengernyit. "Sudah pasti kau membenciku."
" Kalau saja aku bisa," kata Kikan, tetapi tersenyum lebar pada Rey ketika mereka sampai di depan pikap-nya.
" Jadi bagaimana?" Rey bertanya setelah membuka pintu untuk mereka naik ke mobil.
" Tentang pondok itu? Apakah Simon akan ada di sana?"
" Itu idenya," jawab Rey sambil menghidupkan mesin.
" Danau Biru cukup jauh."
Mereka meninggalkan lapangan parkir. "Aku akan bersamamu, tentu saja." Rey berusaha meyakinkan.
" Tapi itu berarti aku akan di sana sepanjang akhir pekan." kata Kikan.
Mereka makin dekat pada pengakuan bahwa itu semacam kencan. Rey tahu itu tidak sejalan dengan keputusannya, untuk melakukan pendekatan pelan agar bisa bersama Kikan.. tapi Kikan-lah yang ia inginkan untuk diajak ke sana, jadi sulit untuk tidak memintanya.
__ADS_1
"Pondoknya cukup besar." Kata Rey.