
Rey menyandarkan kepala kembali ke kursi.
"Aku tidak tahu kenapa kau memberi tahuku tentang ini."
"Tidak tahu?"
"Dia bukan musuhku!"
"Benarkah? Karena aku jelas ingat kau tidak menginginkan dia kembali. Kau menghabiskan waktu bertahun tahun ketakutan hari itu akan tiba."
Mau tak mau Rey bersifat defensif. "Banyak hal yang kupertaruhkan." katanya.
"Aku mengerti. Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya merasa aku harus memberitahumu, karena memberi kemudahan padanya mungkin akan mendorongnya untuk tetap tinggal disini padahal kau lebih suka dia pergi."
Rey punya firasat Kikan akan tetap tinggal apapun yang terjadi. Wanita itu sangat keras kepala." Aku tak peduli kalau kau membantu nya. "
" Bagus, thanks. Dan jika ini dapat membuatmu lebih tenang, dia mengatakan padaku dia sama sekali tidak ingin menyusahkanmu."
"Dia bilang begitu?"
"Kira kira begitu maksudnya."
"Kenapa?"
"Dugaanku, untuk menunjukkan dengan jelas bahwa dia bisa bersikap terpuji. Bahwa dia tak akan minta apapun darimu, tidak mengharapkan apapun, bahkan tumpangan dari temanmu. Dia hanya ingin mengenal Jason, itu sudah pasti."
Rey ingat betapa anaknya banyak membisu sepanjang hari itu." Kukira Jason juga ingin mengenalnya. "
" Apa kau tidak terganggu dengan itu? "
__ADS_1
Rey menghela nafas." Dia sudah enam belas tahun. Sepertinya aku sudah tidak bisa memilihkan lagi untuknya. "
" Kalau begitu sebaiknya kita berharap niat Kikan sebaik yang dia katakan. "
" Kau benar. " jawab Rey
"Rey? "
Rey memandang Devan, "Apa?"
"Dia jauh lebih cantik ketimbang dulu."
Sentakan kemarahan menyusupinya, dan Rey duduk tegak. "Pasti karena itu kau ingin membantunya!"
"Tenang saja. Bukan," kata Devan. "Aku hanya penasaran, apa kau memperhatikan hal itu."
"Tentu saja aku memperhatikan," tukas Rey. "kusarankan agar kau tak punya niat terselubung mendekati Kikan, jangan mengganggunya." Rey segera berlalu meninggalkan ruang kerjanya, meninggalkan Devan terpaku sendirian.
"Bagaimana dengan ini?"
Rey meringis melihat gaun biru yang ditarik Devan dari rak. Ia mulai bertanya tanya apa yang merasukinya sehingga menelpon Devan pagi sekali dan menawarkan diri untuk ikut berbelanja. Hanya karena Devan memutuskan untuk berperan menjadi dewa penolong, tidak berarti Rey harus ikut dalam rencananya. "Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang aku lakukan disini." gerutunya.
"Aku tahu." kata Devan. "Kikan ibu anakmu karena itulah kau disini. Dan kau merasa tidak enak membiarkannya kesusahan, padahal kau punya banyak uang"
"Bukan, ini salahmu." kata Rey. "Kau menyeretku ke dalam masalah ini."
"Menyeretmu? Justru kau yang menyarankan agar kita berhenti ditoko kelontong sebelum kesini, dan dan membeli makanan kaleng, daging cincang, keripik, dan entah apalagi. Lalu keluar dari sana dengan bawaan hampir dua kardus penuh."
Ingatan tentang Kikan duduk di Just Come Kafe mungkin dengan satu-satunya pakaian pantas yang dia miliki, menghitung uang untuk membayar sarapan Jason dan dirinya, membuat Rey bergidik. Tetapi masalahnya bukan hanya itu. Membelanjakan beberapa barang untuk membantunya memulai kembali hidup merupakan bantuan terkecil yang dapat Rey berikan, terutama kalau Kikan tidak bersalah. "Makanan yang paling masuk akal. Itu mungkin yang paling dia butuhkan."
__ADS_1
"Pakaian juga masuk akal." kata Devan. "Jadi.... haruskah kita membeli ini?" Dia menggoyang goyangkan gaun itu untuk menarik perhatian Rey.
Petugas toko mendekat, wanita bernama Maria menurut nama yang tertera diseragamnya.
"Ini salah satu gaun model terbaru kami," Maria menjelaskan dengan sukarela. Modelnya elegant, begitu juga motifnya. Dan dengan bahan katun yang sejuk, setiap wanita akan menyukainya. "
Rey berpikir Maria lebih tahu daripada mereka, gadis yang dikencaninya bertahan-tahun lalu itu tidak pernah mengenakan pakaian yang begitu feminim. Tapi sekarang Kikan seorang wanita, dan dilihat dari yang dia pakai di kafe, seleranya menjadi lebih matang.
Walaupun ini bukan pilihan sempurna, Rey pikir wanita itu tidak akan bersikap menolak. "Menurutku itu bagus juga." sudah dua jam mereka berbelanja dan bersusah payah mengumpulkan segala macam barang belanjaan lain. Tapi mereka harus menempuh perjalanan pulang, Rey ingin ini segera selesai.
Sambil mendesah lega, Devan berpaling pada petugas toko." Kami ambil yang ini"
Wanita itu berjalan menuju meja kasir ketika Rey menghentikannya. "Kami akan mengambil yang ini juga," kata Rey.
Petugas itu menyampirkan gaun tersebut dilengannya. "Ada tambahan lain..?"
"Mungkin celana pendek"
Ketika Maria pergi mencarikan yang di minta Rey, Devan berbicara dengan pelan. "Bagaimana dengan pakaian dalam?" tawarnya dengan senyum ke arah Rey.
"Jangan memancing emosiku.." jawab Rey.
"Untuk orang yang awalnya terkesan enggan dengan ide ini, kau terlihat bersemangat sekali memberikan Kikan barang barang yang dibutuhkannya.
" Sebaiknya tidak ada yang tahu soal ini. "
Devan menepuk punggung Rey." Tidak akan"
"Termasuk dia."
__ADS_1
"Kita akan mengetuk pintu dan lari. Dia tidak akan pernah tahu."
"Kita tidak akan mengetuk pintu sialan itu, biar saja dia menemukan yang kita tinggalkan untuknya besok."