
Suara ribut anjing itu membuat ibu Kikan mengecek ke pintu depan. Karena tubuhnya yang sudah dimakan usia, ibu Lis bergerak dengan lamban dan susah payah, sehingga saat tiba di pintu, Devan sudah lama pergi. Kikan lega, tapi berurusan dengan ibunya tidak pernah mudah.
"Apa apaan diluar situ?" ibu Lis berteriak, kata kata dan nadanya terdengar sangat pedas, yang membuatnya begitu dikenal.
Kikan mengantongi kertas yang berisi nomor telpon Devan. Melepaskan sandal pada kakinya yang paling sakit, dan berjalan mendekat dengan terpincang pincang supaya tak perlu berteriak pada ibunya. Ia sudah berjanji pada diri sendiri sebelum meninggalkan penjara untuk bersikap sangat baik terhadap sang ibu. Meskipun bersikap keras, ibu Lis membenci diri sendiri daripada orang lain membencinya. Setelah yang dialaminya selama ini, Kikan memiliki empati yang lebih besar dan memahami bahwa ibunya sebenarnya tidak sekejam yang ditunjukkannya. Sebaiknya tidak merespon atas teriakan, sumpah serapah, serta kekasaran yang ia ucapan, yang membuat orang menjauhinya.
Untunglah anjing itu berhenti menyalak dan kembali tenang, sehingga Kikan bisa berbicara dengan suara normal. "Semuanya baik baik saja, Mom... Jangan khawatir" ujarnya, tapi beberapa patah kata lembut takkan bisa menenangkan ibu Lis. Dia tidak mempercayai apapun dan selalu siap bertengkar, meski itu musuh khayalan sekalipun.
Kerutan jengkel dapat Kikan lihat dari wajah ibunya, "Kukira tadi mendengar suara mobil."
"Benar." Kikan mengangkat sandal. "Kakiku sakit, jadi aku menumpang mobil orang kesini."
__ADS_1
Setelah merasa bahaya telah lewat sehingga bisa menunjukkan diri. Bu Lis membuka pintu lebih lebar. "Menumpang siapa?"
"Orang yang kebetulan lewat." Kikan mengangkat bahu. Ibunya tak perlu mendengar detailnya. Ia sendiri tak yakin harus berpendapat apa mengenai Devan. Apa ia bisa mempercayai kebaikan hati pria itu atau tidak, Kikan dulu hanya punya sedikit teman dikota ini dan mungkin itu tidak akan berubah.
"Kau menumpang mobil?"
"Kurang lebih begitu."
Ibunya mendecakkan lidah. "Sebaiknya berhati-hatilah. Penduduk disini membencimu, dan kau tak tahu bagaimana mereka akan menunjukkan kebencian itu," katanya. Lalu menutup pintu.
Setidaknya dia dapat bertanya bagaimana pertemuan itu berlangsung...
__ADS_1
Ibunya berpendapat bahwa berusaha menemui Jason, berpegang pada sekeping harapan kecil bahwa anak itu mau menerima Kikan hanya akan membuang buang waktu. Dia berkeras bahwa Rey tidak akan pernah mengizinkan mereka berdua ikut berperan dalam kehidupan Jason. Dan Kikan bodoh karena mencoba membuktikan bahwa ia menyayangi anak itu.
Mungkin aku memang bodoh, pikir Kikan.
Sambil menggeleng Kikan mulai berjalan menuju trailer tempat dia tinggal. Yang tak mudah dilakukan, ia harus melangkah dengan sangat hati hati. Melewati barang barang yang berserakan di halaman yang sudah ada sejak dulu. Kikan sedikit khawatir ia akan menginjak paku atau pecahan kaca. Kalau tidak memperhatikan dengan sangat cermat, ia mungkin tidak akan melihat sepeda rusak yang mengintip dari balik trailer yang akan ia tuju.
Setelah berhasil menarik keluar sepeda itu, dia melihat sepeda itu masih memiliki dua ban kempis dan kerangka berkarat. Tapi... apakah masih bisa diperbaiki. Ia berharap sepeda itu masih bisa berfungsi. Dengan begitu, Kikan nanti tidak harus berjalan kaki setiap kali keluar rumah.
Sambil mendorong sepeda, Kikan mendekati trailer, dan menyandarkannya pada bagian depan. Kikan segera menaiki tiga anak tangga di pintu masuk trailer. Ia segera mencuci kaki dan mencari band-aid untuk melindungi Luka lecetnya.
Hari tak terasa begitu cepat berlalu, ia berencana melanjutkan pembersihan trailer. Sejauh ini ia berhasil mbersihkan dapur, kamar mandi, dan satu kamar tidur. Hanya itu yang disanggupinya. Itupun sudah merupakan perubahan besar dibandingkan yang dimilikinya dipenjara. Tapi ia sudah bertekad akan membuat tempat tinggal sederhananya menjadi rumah yang dapat dibanggakan. Meskipun hanya karena kebersihannya.
__ADS_1
Nantinya Kikan juga harus membersihkan halaman kalau ibunya mengizinkan. Tidak mudah membujuk ibunya. Kadang kala, ketika ibunya tidak melihat Kikan menumpuk barang-barang itu di belakang trailer, lalu pagi- pagi sekali ia akan membuangnya.
Kikan masih khawatir ibunya akan tahu, Bu Lis tidak sanggup berpisah dengan barang apa saja, karena takut dia akan membutuhkan barang itu lain kali, tapi ibunya sudah tak segesit dulu lagi. Kikan berharap kekurangan ibunya itu akan membuatnya tidak ketauan. Sudah cukup banyak masalah yang dia hadapi saat ini sehingga tak perlu mengalami pertengkaran dengan ibunya. Setelah ke khawatirannya sejak pagi mereda, akhirnya Kikan dapat beristirahat.