
Selagi Kikan mengenakan sabuk pengaman, Devan memgamatinya dengan rasa ingin tahu yang sangat kentara. Kikan merasa bahwa itu adalah harga yang harus diterimanya karena menerima bantuan Devan. Kikan sudah dicap sebagai orang aneh dikota ini, orang yang lebih layak dicela ketimbang semua orang lain.
"Aku yakin di ponselmu ada kamera," katanya. "Silahkan saja mengambil gambar."
"Maafkan aku." Devan terdengar agak malu. "Sulit untuk tidak kaget melihatmu. Kau kelihatan... berbeda."
Begitu juga Devan. Seperti Rey, Devan kini berotot, bukannya Kikan peduli. Apapun yang ada hubungannya dengan Rey.. kecuali Jason, tentu saja terlarang baginya. Ia bahkan tidak bisa berteman dengan pria ini." Aku lebih tua hampir tujuh belas tahun. Tentu saja aku kelihatan berbeda."
"Maksudku kau kelihatan cantik," Devan menjelaskan. "Kau bertambah dewasa lebih baik daripada kami semua."
Devan pasti tidak memperhatikan bekas luka di wajahnya. "Aku yakin itu tidak benar."
Devan membungkuk ke depan dan mengamati kaki Kikan. "Kakimu berdarah."
Dengan malu, Kikan mengangkat kaki yang paling sakit agar tidak menyentuh apa apa di mobil. Tetapi Devan menambah kecepetan mobil, jadi dia pasti tidak mau Kikan melompat keluar. "Kau yang menyuruhku naik."
__ADS_1
"Ini pikap kerja, bukan kendaraan mewah, jadi jangan khawatir soal itu. Kau bisa menggunakan tisu dilaci dasbor."
Kikan mengambil tisu itu. Sambil berusaha agar tidak menunjukkan betapa sakit lukanya, ia menepuk nepukkan tisu pada luka lecetnya yang kini terbuka.
" Sudah berapa lama kau pulang? " Devan bertanya selagi menyetir.
" Tiga hari" jawabnya
Kikan memakukan pandangan ke kaki, Devan hampir setampan Rey, tapi ia tak ingin mengakui itu. Ia jadi berpikir... bagaimana bisa dulu ia masuk kedalam lingkungan Rey. "Dengar, aku tak yakin kenapa kau menolong ku. Tapi jika ini kerena kau mencari kesempatan untuk memperingatkanku agar tidak mengganggu temanmu, kuyakinkan padamu aku tidak akan melakukan itu. Aku takkan menyulitkan siapapun. Terutama keluarga Rey ataupun Lori. Aku berniat hidup sendiri, mengatur urusan sendiri, dan melihat kemungkinan apakah aku bisa mengenal anakku sebelum dia dewasa dan pergi kuliah." Kikan nyaris menambahkan, itu bukan permintaan yang terlalu berlebihankan? Tapi ia menahannya. Kikan tahu mereka menganggapnya tak pantas berada dikota ini, tak pantas mendapatkan apapun, bahkan untuk menghirup udara yang sama.
"Kikan bersedekap, merangkul tubuh erat-erat sembari mengamati pemandangan berkelebat diluar jendela." Dia tidak punya urusan melindungiku. "
Mereka hampir tiba di jalan masuk tempat tinggal Kikan ketika Devan berkata," Kau baik sekali mengirimkan uang kepada Jason. Kukira orang orang yang berada dalam situasimu takkan mau repot repot melakukan itu."
Rey juga menceritakan pada Devan tentang sokongan yang ia kirimkan untuk anaknya? Mereka pasti masih sedekat dulu, Kikan menyimpulkan.
__ADS_1
" Dengan jumlah seperti yang kau kirimkan, kau pasti membutuhkan pengorbanan." Devan menambahkan" Sulit untuk mendapatkan nafkah didalam sana. "
" Aku berusaha semampuku." Ya tuhan, itu memang benar. Kikan bekerja keras dan lama dipenatu, membuat gelang, berkat kursus kerajingan tangan yang telah mengilhaminya untuk berbisnis, dan tak membeli apapun sebisa mungkin, demi mengumpulkan sedikit uang untuk Jason." Aku ingin menjalankan peranku."
"Kau sangat murah hati"
"Aku senang melakukannya," katanya dengan suara lebih pelan.
Devan menghentikan mobilnya dekat tempat tinggal yang halamannya tampak berantakan. Dan anjing milik ibu Kikan langsung menyalak dengan liar.
Kikan membuka pintu pikap, begitu kaki nya menapaki tanah, ia berucap, " Terima kasih sudah mengantarku. Aku minta maaf jika tadi terlihat enggan atau tak tahu terima kasih."
Setelah mengatakan itu, Kikan berusaha tidak meringis menahan kakinya yang terasa sakit. Ia berdiri dengan satu kaki mengamati Devan pergi. Dan bingung ketika, setelah memasukkan gigi mundur, Devan tak kunjung melaju.
" Kalau kau perlu tumpangan, terutama kalau kakimu belum sembuh, telpon aku," ujar Devan, lalu menulis nomor telponnya pada secarik kertas, yang kemudian diberikannya kepada Kikan.
__ADS_1