Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 81


__ADS_3

Ibunya menunjukkan sikap permusuhan lagi, tapi ada nada merajuk dalam suaranya yang membuat kikan sadar akan ketakutan di lubuk hati wanita itu. Ibu Lis percaya Rey akan berusaha menyingkirkannya dari kehidupan Kikan, jadi dia berusaha untuk menyingkirkan pria itu lebih dulu.


Begitu Kikan menemukan kesadaran itu, dorongan untuk membalas serangan kata-kata ibunya segera lenyap. Sambil mematikan kompor supaya masakannya sedikit mendingin, Ia berjalan dan duduk di seberang ibunya.


" Apa yang kau lakukan?" ibunya mengangguk pada panci sarapannya, seakan tidak mengerti kenapa Kikan tidak menyajikannya. "Ada yang tidak beres? Kenapa kau melihatku seperti itu?"


" Karena aku ingin memastikan Ibu memperhatikan kata-kataku."


" Aku memperhatikanmu sebelumnya. Bukankah aku tadi bicara denganmu?"


" Memang, tapi Ibu bicara tidak masuk akal. Aku tidak akan meninggalkanmu, tak peduli apapun yang terjadi. Apakah ibu paham? Aku- tidak akan- pergi ke mana pun. Bahkan seandainya aku kembali bersama Rey." Lagi pula, Kikan tak yakin itu akan terjadi, tidak yakin ke mana pengalaman yang mereka jalani bersama di danau biru akan membawa mereka nanti. "Tidak, meskipun aku pindah dari kota kecil ini suatu saat nanti. Aku akan selalu menjadi anakmu dan aku akan selalu melakukan apapun yang aku bisa, untuk menyayangi dan membantumu. Mungkin yang aku lakukan tidak akan kau sukai," Kikan membuat maksudnya jelas, "Tapi aku tidak akan meninggalkanmu seperti yang dilakukan kakakku."


Kerut muncul di dahi Ibu Lis ketika dia menunjukkan ekspresi, "Kau bicara apa? Aku tidak takut akan hal itu. Aku tidak peduli kalau kau benar-benar meninggalkanku," bentak Bu Lis, tetapi kata-kata itu jelas menunjukkan kebohongan sehingga Kikan tidak menanggapinya dengan serius.


Ia menggigit bagian dalam pipi agar tidak tersenyum. "Yah, kau takkan pernah bisa menyingkirkanku, entah ibu suka atau tidak," katanya lalu menyadari betapa lebih manis sikap ibunya setelah itu.



Kikan gelisah, tapi ia tak ingin Rey mengetahui persis betapa gelisahnya ia. Begitu Rey menjemputnya, Kikan menunjukkan sikap seakan-akan pertandingan kandang tak ada bedanya dengan setiap pertandingan lainnya.


" Semoga permainan Jason bagus," ujar Kikan.


Rey meletakkan sebelah tangan ke setir. "Pasti, keberuntungannya sedang bagus."


Kikan mengusapkan telapak tangan pada celana pendek, lalu mencari-cari lip gloss di dalam tas kecilnya. Sebetulnya ia ingin memanggang lebih banyak biskuit untuk tim, tapi karena pergi sepanjang akhir pekan, Ia tak punya waktu. Kikan terlalu sibuk mengejar pesanan gelang.


" Kau tidak apa-apa?" Tanya Rey, sambil melirik ke arahnya.


" Tentu saja," Jawab Kikan sambil tersenyum.


" Orang tuaku akan hadir, tapi tidak usah khawatir tentang itu."

__ADS_1


Tidak usah khawatir tentang itu? Perut Kikan langsung terasa panas akibat asam yang disebabkan oleh kecemasannya. "Oke, tapi... apa mereka tahu aku akan datang?"


" Ya. Aku memberitahu mereka, jadi... mereka tidak akan melakukan sesuatu yang bisa membuatmu tidak nyaman."


Berada di dekat mereka saja sudah membuatnya tidak nyaman, tetapi bahkan jika Helen dan suaminya mengacungkan belati ke arahnya, Kikan hanya akan membalas dengan senyuman atau memalingkan pandangan. Ia tak ingin Rey terlibat dalam pertengkaran dengan orang tuanya, tidak ingin berada di tengah-tengah pria itu dan keluarganya. Mengganggu hubungan yang sangat penting dalam hidup Rey bukanlah perwujudan cinta, melainkan perwujudan keegoisan semata, dan Kikan tahu itu.


Rey mematikan radio. "Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku."


Kikan membiarkan Rey meraih tangannya. "Kapan Via datang ke kota? Kau sudah dengar?" tanya Kikan.


" Menurut Ibuku ditelepon tadi pagi, dia akan datang hari Sabtu."


"Secepat itu?"


" Ya. Mereka mendesaknya datang secepat mungkin."


" Sebelum aku berhasil menanamkan cengkramanku padamu," Kikan bergumam.


Nafas Kikan tercekat. "Betulkah? kenapa?"


" Karena itu mungkin penting, memberi kita kesempatan untuk mengajukan pembelaan." ujar Rey.


" Pembelaan?"


" Aku akan bercerita padamu nanti. Kau akan datang. Ibuku telah setuju untuk melibatkanmu."


Kikan sudah menerima kenyataan bahwa kemungkinan besar ia tidak akan bertemu dengan Via lagi, jadi ia tak yakin bagaimana perasaannya sekarang berhadapan muka dengan wanita itu. Memikirkan Via saja sudah membangkitkan kemarahannya, kemarahan lama dan kesia-siaan dari amarah itu. Dan itu lebih buruk lagi. Dulu sangat sulit untuk menghadapi ketidakadilan yang menimpanya, dan sekarang setelah pulang, Ia harus mendengarkan kebohongan Via lagi?


" Apa yang telah mereka janjikan pada Via?" tanya Kikan.


" Apa maksudmu?"

__ADS_1


" Dia tidak mungkin ingin kembali ke sini. Jika berbohong seperti dirinya. Aku tidak akan mau datang ke tempat ini lagi."


Rey mengurutkan kening. "Apa maksudmu? menurutmu keluarga Lori menyuapnya?"


" Kecuali Via mulai mempercayai kebohongannya sendiri. Atau dia berharap akan menjadi pusat perhatian lagi. Dia pasti punya alasan. Aku sudah menjalani hukuman, jadi tujuannya pasti bukan untuk menghukumku lagi."


" Karena itulah kita harus hadir. Untuk mengetahui semuanya. Jadi... kau bilang apa tadi?" Rey menunduk agar bisa memandang wajah Kikan. "Tidak akan mudah menyanggahnya, tapi menurutku kita harus menghadapinya" ucap Rey.


" Kenapa?" Kikan bertanya. "Mereka akan mempercayainya, seperti selama ini. Yang sesungguhnya mereka harapkan adalah meyakinkan dirimu."


Rey meremas tangan Kikan. "Dia tidak akan mampu, Kikan. Bukan itu tujuanku datang, sudah lama sekali segala sesuatu berubah. Aku berharap kita bisa mendapatkan kebenaran darinya."


Kikan bahkan tak berani berharap, tidak setelah semua surat yang dikirimnya kepada Via tak pernah dibalas. Dan tidak setelah ia berdoa sekian lama akan turunnya mukjizat, yang berakhir sia-sia. "Bagaimana? Bagaimana mungkin kita dapat membuatnya mengaku?"


" Aku sedang mengusahakan itu." ujar Rey.


Mereka melewati toko besi, mesin penjual minuman, butik pakaian. "Kau bilang apa?"


" Aku tidak mau mengatakannya padamu dulu, tidak ingin harapanmu terlalu melambung kalau-kalau nanti gagal. Tapi aku juga tak ingin kau terlalu khawatir. Mereka tidak akan berada di atas angin seperti yang mereka kira."


" Apa yang kau bicarakan?" Kikan penasaran.


" Kau lihat saja nanti."


Kikan mengeryit ketika memandang Rey. "Katakan padaku," Ia mendesak, tetapi mereka sudah berbelok ke pekarangan gedung SMA Jason.


" Pokoknya percaya saja padaku," Kata Rey seraya memarkir mobil.


Rey turun dari mobil, tetapi Kikan tak sanggup mengikuti. Tidak segera, jadi Rey memutar dan membukakan pintu untuknya.


" Aku akan selalu di sisimu," ujar Rey. Tapi itu bisa dikatakan itu lebih buruk. Mereka seolah membuat pengumuman bahwa mereka telah kembali bersama. Kikan khawatir semua orang akan melirik lirik kepadanya.

__ADS_1


Sambil menutup mata, Kikan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan cepat. "Semoga saja Jason bisa bermain bagus," ucapnya lagi. Kemudian turun dari mobil.


__ADS_2