
Akhir minggu itu benar-benar indah. Kikan tak pernah merasa segembira ini dalam hidupnya. Setelah Levi membujuknya untuk ikut berenang di danau waktu itu, ia merasa tak perlu lagi membatasi diri lagi di lingkungan teman-teman Rey. Kikan mulai melihat bahwa ia tidak terlalu berbeda seperti yang selalu dipikirkannya. Tentu saja, ia punya masa lalu kelam, dan setiap orang tahu detailnya yang mengerikan. Tetapi David juga pernah dihukum. Levi mengisyaratkan bahwa ia sendiri tidak sempurna. Kikan mulai ingat dengan Kelly yang harus selalu waspada dengan apa yang dimakan dan disentuhnya gara-gara kondisi kesehatannya, juga Nanda dan Eva, yang mengisyaratkan bahwa kehidupan kadang-kadang sulit pula bagi mereka. Eva telah berusaha keras sejak awal untuk bersikap ramah, dan teman-teman yang lain menjadi lebih akrab setelah Kikan lebih banyak berinteraksi dengan mereka.
Teman-teman Rey semakin menambah kegembiraan. Tetapi bagian yang terbaik, tentu saja adalah Rey dan malam-malam yang mereka lalui bersama. Berhubungan int** tidak pernah senikmat itu saat SMA. Kikan baru sadar bercinta bisa sangat indah.
Ketika Minggu malam tiba, dia bahkan merasa lebih enggan untuk pulang daripada yang dikiranya, entah bagaimana Kikan telah kehilangan kewaspadaan untuk melindungi dirinya dari kemungkinan hidup terburuk, dan ia mulai berharap. Harapan itu masih baru untuk Kikan dan hal itu terasa menyenangkan. Tapi juga menakutkan karena itu berarti ia bisa terluka lagi.
Kenyataan bahwa ia dapat dengan begitu mudah melupakan semua bekas luka dan pelajaran dari masa lalu merupakan suatu bukti bagi kelenturan jiwa manusia. Hanya perlu waktu tiga hari bersama dengan pria yang diimpikannya nyaris seumur hidupnya, beberapa teman baru, dan banyak waktu untuk bergembira serta tertawa-tawa untuk membuatnya merasa seakan masa yang dijalaninya di penjara tidak pernah ada.
" Sayang sekali kita harus segera kembali," keluh Kikan sambil menutup resleting koper.
Rey berada tak jauh darinya, sedang mengemasi tas sendiri karena dia telah pindah ke kamar itu setelah malam pertama mereka bersama. Dia mendongak ketika Kikan berbicara, kemudian berjalan menghampiri untuk memeluknya. "Akhir pekan ini baru awal. Setidaknya untuk kita."
Kikan mengangguk. "Benar"
Rey mengurutkan kening. "Kau percaya itu kan?"
" Pikiranku terbuka dalam hal itu," gurau Kikan.
Rey tampak khawatir ketika menurunkan tangan. "Tapi ada sesuatu yang perlu kusampaikan padamu," Kata Rey. "Sesuatu yang sudah kutunda-tunda."
Sekarang? persis ketika ia baru menurunkan kewaspadaan? Kikan merasakan dirinya menegang. "Apa?"
" Tidak ada hubungannya dengan kita, tapi.... itu bisa membuatmu terganggu. Aku menunggu karena tak ingin kabar itu merusak akhir pekan ini, tapi aku ingin kau siap."
Kuku Kikan menekan telapak tangan ketika ia mengepalkannya. "Siap untuk...?"
__ADS_1
" Ketika Jason menelepon.. "
Perut Kikan menegang. "Kau bilang dia baik-baik saja!" sahut Kikan.
" Dia memang baik-baik saja, kemarin maupun sekarang. Tapi.... dia menelponku untuk memberitahu sesuatu yang membuatnya khawatir."
" Dan itu adalah...."
" Keluarga Lori berhasil melacak keberadaan Via Astaria." Kata Rey.
Kenang-kenangan tentang semua yang telah menghancurkan hidupnya langsung menyerbu. Mulai dari kematian Lori, perasaan bersalah karena tak mampu mengendalikan mobil setelah Via merampas setir, kengerian dari apa sesudahnya, serta keputusasaan hebat ketika tidak ada orang yang mau percaya padanya... Selama beberapa hari di pondok, Kikan merasa menjadi seseorang yang berbeda, orang biasa. Ia mulai percaya dirinya mungkin punya kesempatan untuk meninggalkan semua itu. Jadi ia merasa santai... tapi sekarang rasanya ia menerima pukulan selanjutnya.
" Biar kutebak. Dia tidak datang tanpa pamrih." Tidak sulit untuk meramalkan kemana semua ini mengarah.
" Dia pasti akan berpegang pada ceritanya," Rey setuju, "Kalau tidak mereka tidak akan membawanya ke kota."
Kikan berjalan menjauhi untuk duduk di tempat tidur.
" Kenapa mereka melakukan ini? aku sudah menjalani hukuman. Mereka tak bisa mengendalikan ku lagi. Jadi mereka mau apa lagi?" tanya kikan. Tetapi jawabannya sudah jelas. Keluarga Lori marah karena Rey dan Jason telah melawan mereka dan melindungi pembunuh Lori. Serta siapapun yang mempertimbangkan untuk menerima Kikan, bahwa ia benar-benar manusia jahat seperti yang mereka yakini. Mereka ingin mendepak Kikan dari dunia mereka sepenuhnya.
" Mereka mencari cara untuk membuat mereka merasa lebih nyaman tentang semua yang terjadi pada Lori. itu saja, dan menghukumku membuat mereka merasa sedang mengarahkan segala daya untuk membalas dendam bagi Lori." ucap Kikan.
" Tidak cukupkah seorang gadis tak bersalah mendekam di penjara selama separuh masa hidupnya." ujar Kikan dengan frustasi.
" Sampai kiamat pun tidak akan pernah cukup, karena mereka menganggap kau bersalah."
__ADS_1
Kikan mengusap rambut dengan jemarinya. "Aku takut mereka akan membuat Jason memusuhiku. Kuharap.... kuharap mereka tidak menggangguku."
" Itu akan menyenangkan, tapi setidaknya kau tidak sendirian lagi menghadapi ini," Kata Rey.
Kikan menatapnya bingung.
" Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu."
" Kau tidak boleh terlibat!" seru Kikan. "Kalau kau dan Jason membelaku, mereka justru semakin bertekad membuktikan kalian keliru."
" Rey duduk di samping kita dan meraih tangannya. "Tidak ada pilihan lain."
" Tentu saja ada. Kalian harus menjaga jarak, tak perlu menarik perhatian."
" Itu mustahil." bantah Rey.
" Kenapa tidak?"
Rey mengangkat jemari Kikan ke bibir dan menciumnya, lalu menunggu Kikan mendongak untuk memandangnya lagi. "Karena aku mencintaimu." Ucap Rey dengan tegas.
Kikan ingin mempercayainya. Sudah lama sekali ia ingin mendengar Rey mengucapkan kata-kata itu lagi. Mungkin ia bisa mempercayainya jika mereka bisa tetap tinggal di dunia impian di pondok ini. Tetapi mereka harus menghadapi dunia nyata. Mereka akan kembali ke kota kecil mereka beberapa jam lagi.
" Kalau begitu akan lebih bijaksana jika kau melepaskan cintamu," balas Kikan. Seperti dulu tetapi Kikan tidak menambahkan itu, meskipun tersirat demikian.
Ketika Rey mengernyit, Kikan menyesal telah mengucapkan kata-kata tersebut. Rey jelas berharap Kikan akan menjatuhkan diri ke dalam pelukannya dan balas mengucapkan cinta. Sampai saat ini, Kikan telah sangat berhati-hati untuk tidak terlalu mengungkapkan perasaan. Ia rela memberikan apapun pada Rey, tapi tetap menahan kata-kata itu, karena ia takut pesona yang tampaknya membelenggu Rey akan buyar, dan ia akan kehilangan pria itu lagi.
__ADS_1
Selain itu, dengan mendorong pria itu agar menjauhinya, Kikan merasa telah menolong Rey. Ada begitu banyak wanita di dunia ini yang bersedia bersama dengannya. Mengapa Rey ingin bersama seseorang yang harus dibelanya terus-menerus, Padahal dia dapat dengan mudah memilih yang lain?
" Perasaanku tidak mudah berubah seperti yang kau kira," Kata Rey, dan dengan kaku dia menarik Kikan untuk berdiri, dan bersiap-siap untuk segera kembali pulang.