
Kikan pikir, ia tidak akan minum minuman beralkohol malam ini. Walaupun ia tidak menyetir, dan hanya membawa sepeda. Kikan tidak ingin mengambil resiko. Sebelum berjalan ke meja bar, dan memesan minuman non alkoholnya, seorang pria besar menghampirinya.
Pria itu menawari untuk membelikan minuman tetapi Kikan menolak, tidak mau merasa berhutang pada siapapun. Jadi mereka hanya mengobrol selama beberapa menit atau mencoba mengobrol di tengah-tengah musik yang mengalun. Lalu dia mengajak Kikan berdansa.
Ketika Kikan mencoba menolak, pria itu menarik tangannya dan menyeretnya ke lantai dansa. Saat lagu dari Queen, don't stop me now dimainkan. Kikan ingin mendengar liriknya... jadi dia mau berdansa dengan pria itu. Jika tidak Kikan curiga ia akan berbicara tentang banyak hal. Ia sangat merindukan dansa selama tujuh belas tahun, belum pernah berdansa lagi sejak beberapa acara sekolah yang ia datangi. Tetapi ia ingat mendengarkan lagu ini berkali-kali ketika putus dari Rey.
Kikan cukup menikmati dansa sampai lagu kedua dengan pasangan dansanya. Setelah itu ia menerima beberapa ajakan dari dari pria lain. Ia bahkan menghabiskan minuman non alkoholnya ketika duduk di bar. Kikan baru mulai merasa senang dan bebas ketika sadar ada yang memperhatikan dan memandangnya dari seberang ruangan. Saat itulah ia melihat Rey.
Dari mana datangnya dia? rupanya, pria itu belum pulang, seperti yang Kikan duga. Ia tak tahu mengapa ia bisa tidak melihat Rey sebelumnya. Kikan menebak karena begitu merasa nyaman, yang artinya tidak ada lagi yang ia khawatirkan di bar itu, dan Ia berhenti melihat-lihat. Dan sekarang bar itu lebih penuh daripada ketika pertama kali ia tiba.
Jadi dimanakah Devan dan lainnya? mereka tidak ada di situ. Rey duduk dengan pria yang tidak dikenal Kikan.
Sambil melekukkan bibir untuk tersenyum sopan ketika mata mereka beradu. Kikan mengangguk untuk menyapa saat ada pria lain yang mengajaknya berdansa. Kali ini seorang pria nyaris mabuk, orang yang berusaha ia hindari. Tetapi membiarkan pria itu mengajaknya ke lantai dansa memberikan alasan untuk tidak perlu bicara dengan Rey. Kikan mengizinkan orang asing yang mabuk itu merangkulnya saat berdansa mengikuti lagu.
ketika mereka bergerak dalam dansa yang canggung Kikan menutup mata sehingga tidak tergoda untuk mencari Rey, ia harus membiarkan Rey melakukan apapun yang disukainya, dan melakukan apapun yang Kikan suka. Tetapi pria yang berdansa dengannya memeluknya terlalu erat dan menurunkan tangan.
"Hentikan!" desis Kikan sambil memaksa pria itu untuk melepaskan pegangan ketika dia menyentuh bokong Kikan.
Karena frustasi dengan pria itu, Kikan berkata "Aku tidak bisa berdansa denganmu jika kau tidak berhenti meraba-raba." Kata Kikan, ia akan meninggalkan pria itu di lantai dansa tetapi ia tak ingin Rey mengira ia terlibat masalah lagi.
" Ayolah. beri kesempatan pria malang ini" Katanya.
Sebelum Kikan bereaksi, Rey muncul dan menepuk pundak pria itu. "Giliranku, sobat" Kata Rey.
"Apa?" pria yang mabuk itu harus mengerjapkan mata untuk melihat Rey dengan jelas.
"Aku bilang sekarang giliranku."
Interupsi ini seperti membuat pasangan dansa Kikan bingung, tetapi Rey bersikap seolah dia benar, jadi pria itu tidak membantah. Dia menggumamkan sesuatu tentang tidak menyadari bahwa Kikan bersama orang lain, kemudian tersaruk-saruk pergi.
Lega tapi bingung mengapa Rey membantunya. Rasanya Ia tidak sedang dalam bahaya, seperti ketika bersama Logan. Kikan menyunggingkan senyum berterima kasih. "Terima kasih," katanya dan mulai berjalan menuju pinggir lantai dansa.
__ADS_1
Rey menangkap sikunya. "Hei! Kau mau ke mana lagunya belum selesai"
Kikan merasa alisnya terangkat. "Apa pentingnya?"
"Aku datang untuk berdansa," Jawab Rey dengan meletakkan tangan di pinggang Kikan.
"Ini bukan ide bagus," kata Kikan. Tetapi ia berdansa bersama Rey mengikuti musik sehingga mereka tidak menarik perhatian.
"Kenapa tidak?"
Sambil memelankan suara, Kikan melihat ke sekitar tempat itu. "Kita tidak boleh terlihat bersama, terutama di tempat seperti ini."
"Ini kan bar. semua orang datang kemari."
"Justru itu. dan minggu ini kau memukul orang yang menyerangku, dan itu bukan pemandangan yang bagus."
"Aku menghentikan penindas yang mau memukul wanita. Kenapa itu dianggap tidak baik?" tanya Rey.
" yaitu....."
" Bahwa kau peduli." kata Kikan
" Mungkin aku peduli," ujar Rey, diikuti seringai kekanak-kanakan.
Kikan berpikir Rey terlalu banyak minum-minum. Dia bukan peminum yang ceroboh seperti pria lain, tetapi dia tidak bisa berpikir jernih.
" Bagaimana kabarmu setelah... perkelahian itu?" hidungnya sepertinya sudah normal kembali. "Aku penasaran"
" Jadi kau harus masuk untuk melihat apakah aku baik-baik saja, ya?" ujar Rey.
Kikan menangkap sarkasme dalam suara Rey. "Devan bilang kau baik-baik saja."
__ADS_1
Setelah diam beberapa saat Rey berkata "Kau sudah dengar kabar dari dia?
" Siapa?" Logan atau Devan?" tanya Kikan. Rey memakai Cologne, dan ini aroma yang disukai Kikan ....
" Logan. Aku tahu kau pergi ke tempat Devan tiap malam."
"Apa dia keberatan?" tanya Kikan
" Tentu saja tidak. Tapi kita sedang membicarakan Logan."
" Logan dia tidak menggangguku lagi," kata Kikan.
"Seharusnya memang begitu."
Rey berayun terlalu jauh ke satu sisi dan Kikan harus menangkapnya. "Kuharap kau tidak berencana menyetir," kata Kikan.
"Aku punya teman disini. Dia biasa mengantar tamu yang mabuk. Tapi kau bisa memberiku tumpangan kalau kau mau."
"Tidak masalah. Meski kurasa kau agak terlalu berat bagiku untuk mengayuh." kata Kikan.
Rey tertawa. "Kami akan melemparkan sepedamu ke bak di pikapku. Dan memberi tumpangan padamu."
"Aku bisa pulang sendiri, terima kasih."
Untuk memberi kesan baik, Kikan menjaga tubuhnya agar tetap tegak, bukannya menyatu dengan Rey.
"Bisakah kau santai?" gumam Rey.
"Kita tidak boleh terlalu dekat," kata Kikan. Meskipun sepertinya tidak ada yang memperhatikan.
"Kita hanya berdansa, Kikan. Ini tidak seperti kita sedang bercinta."
__ADS_1
Kata-katanya membuat Kikan kehilangan satu langkah. Berada dalam pelukan Rey terasa... sangat intim. Ia tidak yakin apakah berdansa dengan Rey akan terasa sangat berbeda dengan pria lain, tetapi sepertinya memang begitu.