Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 64


__ADS_3

Rey memutuskan bahwa ia tidak boleh mendesak Kikan untuk datang ke pondok. Ia hanya akan membuat Kikan jengkel, dan ia tahu alasannya. Wanita itu telah menghabiskan waktu tujuh belas tahun dengan menyesali diri karena jatuh cinta padanya, dan kini Rey malah memintanya memasukkan kembali tangan ke api membara.


Terlalu cepat untuk sesuatu semacam itu. Jika ingin berkencan dengan Kikan lagi, Rey harus bergerak pelan-pelan, bahkan lebih pelan dengan langkah yang pernah diambilnya dengan wanita manapun. Tetapi itu tidak semudah kedengarannya. Rey tidak bisa menyingkirkan Kikan dari pikirannya, dan keinginannya untuk selalu menyentuh wanita itu membuatnya kehilangan akal sehat, terutama karena ia tahu Kikan juga menginginkan hal yang sama. Itulah yang dilakukannya di kolam renang. Hanya membayangkan bahwa Kikan membiarkannya melakukan itu sudah membuatnya bergairah.


Seusai mereka makan malam, Jason pergi ke ruang tamu untuk mengerjakan PR kimia, dan Rey berkeras untuk membantu Kikan bersih-bersih.


"Tamu harusnya tidak ikut mencuci piring," kata wanita itu. "Bagaimana kalau kau santai saja? Melihat Jason kalau-kalau dia butuh bantuan?"


" Dia bisa sendiri. Aku tidak keberatan membawakan beberapa barang." Kata Rey.


Rey menumpuk piring-piring di meja tetapi tak bisa memutuskan apa yang harus dilakukan dengan sisa makanan. Tampaknya Kikan tidak punya wadah untuk menyimpan. Rey berpikir ia bisa menutupi setiap mangkuk dengan plastik pembungkus. Tapi ketika membuka kulkas, Rey melihat isinya penuh dengan botol yang berisi saus spaghetti?


" Wow! Kenapa kau membuat begitu banyak saus?" Rey berbalik ketika Kikan mendatanginya sambil membawa gelas-gelas mereka.


Kikan mengangkat bahu seolah itu bukan masalah penting, tapi dia tampak agak malu. Perlu percobaan beberapa kali sebelum mendapat rasa yang tepat."


" Kau membuat saus spaghetti berkali-kali?"


" Ini pesta makan malamku yang pertama. Aku tidak boleh menyajikan sesuatu yang tidak enak," katanya, seakan siapapun melakukan usaha yang sama.


Hanya saja, pesta ini kan untuk Rey dan Jason! Rey menunjuk botol yang berjejeran di kulkas." Apa yang salah dengan semua itu?"


Kikan mengerutkan kening. "Tidak enak. Aku tidak yakin salahnya di mana."


" Kenapa kau menyimpannya?"


" Tidak baik membuang-buang makanan. Aku akan memakannya. Aku hanya perlu memanaskannya lagi nanti."


Jadi saus-saus itu cukup baik untuknya. Rey belum pernah bertemu dengan wanita semanis Kikan. Siapa yang menyangka ia akan mengagumi wanita yang dianggap sebagai sampah masyarakat daripada semua warga kota lainnya? Ia nyaris tertawa mengingat betapa takut dirinya ketika mendengar Kikan akan kembali, terutama ketika ia membandingkan reaksinya sebelum ini dengan apa yang dirasakannya sekarang. "Yah, kalau sudah menemukan rahasianya," Ia berkata. "Sausnya lezat."


" Trims." Kikan tampak puas dengan pujian itu, seakan dia berhasil mencapai target yang telah ditetapkannya sendiri. Tetapi dia tak mau Rey mendekatinya setelah itu. Jika Rey melangkah ke kulkas, Kikan akan pergi dari situ, jika Rey mendatangi meja, Kikan akan melangkah ke bak cuci piring.


Rey merasa tekad Kikan bahkan untuk tidak bersenggolan dengannya sangat ironis. Kikan begitu menginginkan dirinya tujuh belas tahun yang lalu. Dab kini ketika Ia menginginkan Kikan, tidak peduli apa yang dikatakan semua orang, wanita itu malah tidak mau dekat-dekat dengannya.


Mereka selesai mencuci piring dan bermain kartu sambil menunggu Jason yang sedang menyelesaikan pekerjaan rumah. Rey lebih banyak memperhatikan Kikan daripada kartunya, tetapi Kikan memandang ke tempat lain ketika mata mereka bertemu. Setelah itu, mereka berjalan-jalan di sepanjang sungai kecil. Ketika Jason memegang tangan kiri Kikan untuk memastikan dia tidak jatuh di batuan yang licin, Rey berharap ia bisa memegang tangan kanan Kikan.

__ADS_1


Sebaliknya, Rey berjalan di belakang mereka.


" Kami bisa membantumu membersihkan tempat ini," Jason memberitahu ibunya seraya melirik ke belakang untuk menunjukkan dia sedang membicarakan halaman itu.


Kikan kelihatan lebih bahagia daripada yang pernah dilihat Rey sebelumnya. Jelas sekali Dia sangat senang merasakan tangan Jason menggenggam tangannya. Hanya melihat mereka bersama-sama membuat Rey kembali merasa bersalah karena telah memisahkan mereka sebelum ini. Sungguh ajaib Kikan tidak membencinya karena itu.


Atau mungkin itu bagian dari masalah. mungkin Kikan memang membencinya. Rey tidak merasakan kebencian itu, tetapi ia tak mengerti bagaimana Kikan dapat menghindari kebencian terhadap dirinya yang selama ini telah mencegah Kikan dari sesuatu yang paling dia dambakan.


" Akan kupertimbangkan," jawab Kikan. Aku memang ingin membereskannya lebih cepat, tapi.... aku harus berhati-hati dengan ibuku. Memindah-mindahkan barang dan terutama membuang apa saja akan membuatnya marah. Bagaimanapun, tempat ini miliknya."


" Kau yang merawatnya," Rey menambahkan.


" Sejauh dia mengizinkan aku."


" Tidak usah buru-buru," kata Jason." Kami akan ada kapanpun Mom membutuhkan."


" Kau sangat baik." Kikan berbinar memandang putra mereka. Lalu mereka Berhenti sejenak di dekat air yang sejuk untuk mengagumi pemandangan sekitar.


Ketika Rey datang ke samping mereka, Jason berkata, "Sini, pegang Mom sebentar. Aku akan melihat apakah bisa menemukan beberapa batu yang bisa dilompati."


" Aku tidak perlu dibantu," Kikan memprotes tetapi Jason menyatukan tangan mereka dan mulai mencari batu.


" Kau tidak apa-apa?" tanyanya.


" Kau melakukannya dengan sengaja!" seru Kikan. Rey mengangkat tangan mereka, menunjukkan bagaimana jemari mereka bertautan. "Berhasil kan?"




" Jadi... bagaimana tadi?"


Rey melirik putranya selagi mereka bermobil pulang dari rumah kikan. "Apa maksudmu? Kau ada di sana. semuanya berjalan lancar, bukan?"


" Papa sempat memperingatkanku bahwa makanannya mungkin tidak terlalu enak. walaupun begitu, aku tetap akan memakannya. Tapi menurutku tadi itu sempurna."

__ADS_1


" memang." Rey tak menyebut-nyebut tentang biskuit yang ditukarnya tempo hari, atau bahwa Kikan membuat entah berapa banyak saus spaghetti sebelum mendapat rasa yang pas. "Dia sedang belajar."


" dan..."


" Dan apa?" tanya Rey.


" Bagaimana Mom memperlakukanmu?"


Apakah Jason mulai berharap mereka kembali bersama? "Seperti yang kubilang.... Kau ada disana."


"Aku harus mengerjakan PR sementara kalian di dapur."


Rey mengerutkan bibir sambil mengingat-ingat. "Dia.... bersikap sopan."


"Itu saja?" tanya Jason.


"Aku berhasil membuatnya menggenggam tanganku."


"Di dalam rumah?"


"Tidak," Rey mengaku, menjaga pandangannya tetap ke jalan.


"Jangan bahas yang tadi di sungai," Jason meringis. "Aku tak yakin apa itu bisa dianggap berhasil kalau kita nyaris menarik seorang wanita jatuh ke air."


Rey tak pernah membayangkan anaknya akan berada dalam posisi untuk mengkritik kemampuannya memikat wanita. Tetapi hubungan mereka memang unik. Perbedaan usia mereka tidak sebanyak sebagian besar ayah dan anak lain. Mereka sering bekerja bersama, semuanya itu cenderung membuat Jason terasa lebih seperti teman, kadang. "Dia mudah kaget." ujar Rey.


Jason menopangkan lengan pada pintu mobil. "Setiap kali aku berbicara tentangmu, dia hanya mengatakan yang baik-baik."


"Bukan berarti dia bersedia melangkah lebih jauh dari sekedar teman." kata Rey.


"Papa perlu waktu untuk merebut hatinya."


"Membawanya keluar dari kota kecil ini, untuk menenangkan pikiran, tempat dia tidak merasa terlalu tertekan oleh masa lalu, akan membantu." renung Rey. "Aku berharap bisa meyakinkannya untuk ikut ke pondok bersamaku akhir minggu depan."


"Mom tidak mau ikut? "

__ADS_1


Rey menggeleng dan Jason berkata, "Akan kucari cara untuk meyakinkannya."


Rey menyuruh putranya agar tidak melakukan itu. Rasanya tidak adil jika melibatkan Jason, mengingat Kikan bersedia melakukan apapun demi anak mereka. Itu memberi Rey keuntungan yang tidak jujur. Tetapi keraguannya tidak menyurutkan tekad Jason.


__ADS_2