Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 32


__ADS_3

Rey membenamkan kepala pada kedua tangan. Ini memang gila, mengapa ia bereaksi begitu kasar terhadap Devan, padahal Devan hanya ingin bersikap baik.


Ketika teleponnya berdering lagi, Rey begitu yakin itu Devan dan menjawab tanpa melihat nama penelepon. "Hei, aku minta maaf. Aku hanya sangat bingung saat ini," ujarnya, tetapi ternyata bukan Devan yang menelepon kali ini.


"Papa bicara apa?"


Rey menarik napas cepat ketika mengenali suara anaknya. "Hei, Jas..kenapa tidak sekolah?"


"Aku memang disekolah. Sedang istirahat."


"Lalu ada apa?"


"Aku baru memeriksa jadwal. Aku ada pertandingan hari rabu."


"Jam berapa?"


"Sekitar jam tiga sore." Jawab Jason.


"Aku akan menonton, seperti biasa."


Setelah ragu sejenak, Jason berkata, "Apakah papa masih akan mengunjungi mom seperti yang kau bilang saat sarapan?"


Mengingat percakapannya barusan dengan Devan, Rey tahu ia harus menjaga jarak. Kalau Kikan sudah dapat berjalan ke rumah Devan bolak-balik, berarti dia baik-baik saja. Tapi karena tak ada satu orangpun yang akan mengunjunginya, dan Kikan tidak punya telepon kalau-kalau membutuhkan bantuan, Rey menjadi cemas. Tak ada yang dapat menghalangi Logan datang ke rumah Kikan dan membuat lebih banyak kekacauan. "Ya, sepertinya setelah makan siang, kenapa?"


"Apakah papa akan memberitahu mom? Tentang pertandinganku? Aku mengirim pesan untuknya di Facebook, tapi aku tak yakin mom akan membacanya."


Rey menunduk sambil meletakkan kedua siku di lutut.


"Apakah papa mendengarku? Karena aku harus segera mengahiri panggilan. Sebentar lagi bel berbunyi."


"Aku akan memberitahunya," kata Rey.


"Berapa kira-kira biaya yang harus kukeluarkan kalau membelikan mom ponsel?" tanya Jason.


"Kau belum cukup tua untuk membelikan siapapun ponsel."


"Kita dapat memasukkan mom dalam rencanamu."


Rey menggeleng-gelengkan kepalanya. Dunianya semakin gila. "Dia takkan mau bahkan kalau kita menawarkan."


"Kenapa tidak?"


"Dia orang yang sangat mandiri."


"Tapi itu bagus, kan?"

__ADS_1


Ketika Jason mengatakan itu, Rey sadar kemandirian dan kekuatan Kikan, tekadnya untuk melawan kembali tanpa harus bersandar pada siapapun, merupakan sebagian hal yang membuatnya tertarik pada wanita itu. Rey ragu apakah ia pernah bertemu orang lain yang begitu tahan banting seperti Kikan. "Ya, itu bagus."


"Beritahu mom bahwa aku dapat menjemputnya kalau dia perlu dijemput."


"Kau tidak akan sempat menjemputnya, tapi aku akan bertanya apakah dia mau menumpang padaku."


"Aku akan senang sekali kalau mom mau datang. Semoga aku dapat bermain bagus."


"Semoga saja." kata Rey, lalu mereka mengakhiri panggilan.


Kikan jauh lebih mampu merebut hati anaknya daripada yang Rey perkirakan. Dan itu membuatnya merasa bersalah tidak mencoba mendekatkan Jason dengan ibunya sejak dulu.


...*************...


...***...


Ketika Rey tiba di trailer Kikan, wajah wanita itu tanpa riasan, rambutnya diikat kebelakang, dan dia mengenakan celana pendek kebesaran jelek itu.


"Hai." Kikan memegangi pintu, tetapi matanya segera berubah menjadi tatapan waspada yang sepertinya dia simpan untuk Rey, seolah Rey ular berbisa yang baru menyelinap dalam jarak yang siap untuk menyerang.


Rey mengulurkan sandwich yang ia belikan untuk Kikan dalam perjalanannya kesini. "Makan siang." katanya.


Ketika Kikan tidak mau menerimanya, Rey memberenggut. "Makan siangmu, karena itu aku menyerahkannya kepadamu."


"Rey aku tidak mau terus menerus dibawakan makanan olehmu. Aku tidak dapat menerimanya."


Kikan menunjuk sambil lalu ke arah dapur. Aku punya makanan kalengan." Ujar Kikan.


Yang dibelikan olehnya bersama Devan, tetapi Kikan tidak tahu itu. "Yang ini lebih enak, bagaimana kepalamu?" tanya Rey.


Akhirnya setelah menerima kantong makanan itu. Kikan menyingkir ketika Rey masuk, mereka seakan terlarang untuk bersentuhan fisik. "Baik, seperti mendapat kepala baru." Jawab Kikan.


Mungkin rasa sakitnya sudah hilang, tetapi lebam-lebamnya tampak makin nyata, Kikan tampak seolah baru dipukuli.


"Kau babak belur."


"Aku akan sembuh."


Aroma cat baru tercium, dan Rey melihat bercak-bercak coklat muda di pakaian dan rambut Kikan. "Kau mengecat apa?"


Kikan menunjuk kamar tidur di ujung, kamar yang dia rencanakan sebagai kamar Jason. Tentu dia akan meluangkan waktu untuk menata kamar Jason sebelum yang lain.


Rey membayangkan semua uang yang Kikan kirim selama bertahun-tahun ini, dan kartu-kartu serta surat-surat untuk Jason. Jason mendapatkan yang terbaik dari apapun yang dimiliki Kikan. Rey pernah memilih untuk memandang hal itu sebagai usaha pemanfaatan, tapi sekarang ia mulai bisa mengerti. bahwa itulah cara Kikan berusaha untuk dekat dengan putra mereka.


"Bagaimana kemajuannya?"

__ADS_1


Kikan mengerutkan dahi. "Aku bukan tukang cat yang baik, dan cat itu sudah cukup lama. Ada orang yang memberikannya kepada ibuku beberapa bulan lampau. Jujur saja, aku tak yakin catnya akan menempel, tapi aku putuskan untuk mencobanya."


"Ayo lihat"


Kikan menggeleng. "Tidak apa. Belum selesai."


Namun Rey tetap melangkah ke kamar tidur. Kikan mengikuti dan berdiri di belakangnya saat Rey mengamati hasil kerja Kikan. "Apakah kau sudah mengaduknya?" tanya Rey.


"Sebaik yang ku bisa."


Cat itu perlu diaduk lebih kuat. "Kau berusaha melakukan semua ini sendiri?"


"Memang memakan lebih banyak waktu, tapi aku berusaha hati-hati. "


Hasil kerja Kikan tidak buruk, mengingat dia mungkin belum pernah mengecat kamar, tapi Rey sudah sangat sering mengecat. Dan ia dapat melakukannya dengan lebih baik hanya dalam beberapa jam.


Rey teringat pada gulungan selotip yang ia bawa di mobil kalau-kalau ada sesuatu yang harus dilapisinya dengan cepat, dan tergoda untuk menawarkannya pada Kikan. Tetapi kalau Kikan sudah sangsi dengan sandwich yang dibawanya, wanita itu pasti tidak akan berterima kasih bila Rey turut campur dalam kegiatannya yang terbaru.


"Buruk sekali, ya?" kata Kikan ketika Rey tidak berkomentar.


"Nanti juga akan baik." Rey membalikkan badan ke arah Kikan. "Apakah sakit dikepalamu sudah hilang?"


"Sebagian besar."


"Dan kau tak mendengar kabar dari Logan?"


"Tidak. Itukah sebabnya kau datang kesini? Kau tidak bilang apa-apa padanya, bukan?"


"Aku datang melaporkan perbuatan Logan, ke kepolisian. Katanya mereka akan menangani masalah itu."


"Semua tidak akan berubah seperti yang kau inginkan kalau polisi itu mengatakan hal yang salah. Kau tahu Logan pemberang."


"Kita harus mulai dari situ. Atau kita akan tampak seperti pencari gara-gara."


Mata Kikan menampakkan kekhawatiran. "Tidak ada kita. Ini tidak ada hubungannya denganmu, aku sudah berusaha mengingatkanmu."


Kikan juga sudah menyuruh Devan untuk tidak mengenalinya di depan umum. Kikan tahu dirinya dianggap racun.


"Alasan lain aku datang karena Jason. Dia memintaku untuk memberitahumu bahwa dia akan ada pertandingan hari rabu jam tiga."


Kikan tidak tampak gembira seperti yang semula dibayangkan Rey.


"Kau ingin datang bukan?"


"Tentu saja, tapi... Kuharap beberapa lebamku sudah hilang, kalau tidak aku akan menarik banyak perhatian. Bahkan dari orang yang tidak tahu bahwa aku mantan narapidana."

__ADS_1


"Mantan narapidana atau bukan, kau lebih cantik dari pada kebanyakan wanita lain," kata Rey. "Aku tidak khawatir akan itu."


Kikan lebih keliatan tidak percaya, daripada tersanjung. "Aku bisa menunggu pertandingan berikutnya, tapi aku ingin sekali melihat Jason main, jadi... mungkin aku akan mencari topi, yang bisa menyembunyikan perban jahitanku."


__ADS_2