
"Kikan?" Rey memanggil. Ia tadi melihat seseorang atau sesuatu. Dan karena Kikan berjalan kaki dan belum pergi lebih dari sepuluh menit, dia tak mungkin terlalu jauh.
Meskipun bisa mendengar Rey memanggil namanya, Kikan tetap tidak bersuara.
" Ayolah jawab aku, astaga! Maafkan aku karena ibuku tadi. Tapi aku tak bisa mengontrol atau mengubahnya seperti kau tidak bisa mengontrol atau mengubah ibumu."
Rey memukul-mukul dengan tongkat di sebelah tanaman bonsai kecil di dekat sungai, berharap dapat menemukan Kikan dan akhirnya berhasil membuat wanita itu keluar
" Ini benar-benar tidak perlu," kata Kikan.
Begitu mendengar suara wanita itu, Rey berusaha menariknya keluar meskipun dalam gelap, "Di sini kau rupanya!" ucap Rey.
"Kupikir kau sudah menyerah dan pergi."
"Tentu saja tidak," kata Rey.
"Aku tidak bermaksud tidak sopan, tapi aku tidak ingin membuatmu tambah kesulitan."
"Membuatku kesulitan?" ulang Rey. "Aku tak percaya kau pergi tanpa pamit. Atau membawa handuk, kau pasti kedinginan."
"Sedikit," Kikan mengaku. "Lucu juga mengetahui seperti apa dingin itu ketika badanmu basah."
"Aku membawakanmu handuk." Rey kembali ke mobil untuk mengambil handuk. Berharap Kikan akan mengikutinya tapi ternyata tidak. "Kau meninggalkan kamera dan mangkukmu di rumahku." Ia berseru kebelakang.
"Kau tidak membawanya? Kameraku paling tidak." tanya Kikan.
Rey mendengar nada berharap dalam suara Kikan. Tetapi begitu ibunya pulang, Rey tidak sempat memikirkan hal lain kecuali handuk. Ia begitu terburu-buru. "Aku punya foto Jason lainnya yang bisa aku berikan kepadamu, jika kau.. jika kau pulang bersamaku."
Rey ingin menenangkan Kikan, setidaknya mengembalikannya pada suasana hati gembira seperti sebelumnya.
__ADS_1
Tetapi Kikan tetap bergeming seraya memeluk tubuhnya sendiri dan menggosok-gosok lengan. "Tidak, tidak apa-apa. Mungkin kau bisa mengirimnya lewat Jason kapan-kapan ketika kami bertemu jika..." Suaranya memelan. "Jika kau masih mengizinkannya bertemu denganku."
Jadi itu yang ada di pikirannya? Kikan mengira dia telah membahayakan posisinya dengan Jason tidak heran dia gemeteran. Rey tahu betapa berartinya kesempatan bertemu dengan anak mereka bagi Kikan. "Tentu saja aku mengizinkanmu bertemu Jason. Kau kira aku kesal dengan kejadian tadi? bahwa aku menyalahkanmu?"
" Mestinya aku mencegahmu." kata Kikan.
" Kuharap kau bercanda. Kau mengerang ketika aku menyentuhmu. Persis itu reaksi yang kuharapkan darimu."
Begitu Rey mengucapkan itu. Kikan berbalik dan berjalan cepat-cepat seakan dia tak tahan dengan bayangannya sendiri, tetapi Rey berlari mengejarnya. "Tunggu! Itu bukan masalah besar, oke? Mungkin memang kelihatannya seperti itu karena kau tidak... berhubungan dengan pria untuk waktu begitu lama. Tapi kita bukannya bercinta. Maukah kau menghilangkan semua penyesalan itu?"
Rey meraih bahu Kikan dan merentangkan handuk. "Izinkan aku mengantarmu pulang."
Kikan enggan berada dekat-dekat dengannya. Tetapi wanita itu menggigit bibir saat melihat ke arah jalan. Ia mungkin memikirkan betapa lama dan sulitnya pulang ke trailer dengan berjalan kaki. Belum lagi hari gelap memperburuk keadaan itu.
" Aku bilang pada Jason bawa aku akan mengantarmu," Rey membujuk. "Jadi aku hanya akan mengikutimu kalau kau tidak mau. kalau begitu kita berdua akan butuh waktu berjam-jam. Dan bayangkan pemandangan yang akan dilihat semua orang yang lewat."
Rey ingin sekali melingkarkan lengan ke tubuh Kikan, membantu menghangatkannya, Tetapi wanita itu terlalu ketakutan untuk membiarkannya mendekat. "Bagus. Ayo berangkat." Ajak Rey.
Mereka kembali ke pick up, tetapi Kikan menunggu sampai Rey duduk di belakang kemudi sebelum dia sendiri masuk. Lalu dia duduk sejauh mungkin dan tidak berbicara sepanjang perjalanan pulang.
Tak lama sebelum mereka tiba, Rey berusaha memulai percakapan. "Maafkan aku kalau Apa yang kulakukan di kolam telah.... membuatmu kesal."
" Aku tidak kesal." kata Kikan.
" Kau tampak lebih daripada kesal. Kau kelihatan.... penuh penyesalan."
" Mari kita pura-pura itu tidak pernah terjadi. aku minta maaf karena telah... terbawa perasaan dan.... melakukan itu."
" Bukan kau yang melakukannya," Kata Rey. "Tapi aku."
__ADS_1
Kikan memusatkan pandangan pada sesuatu di luar jendela. "Tidak ada yang perlu disalahkan, ini malam yang menyenangkan. Kita hanya agak bingung pada akhirnya."
" Bingung?" Rey mengulang. "Tentang apa? Aku ingin menyentuhmu. Aku mengakui itu." Ia memerankan suara. "Dan kelihatannya kau menyukainya."
" Seperti katamu tadi, aku tidak pernah bersama siapapun selama tujuh belas tahun ini. Kadang-kadang aku ingin... kontak semacam itu. Semua orang pasti menginginkannya."
Kikan tidak perlu bersikap defensif seperti itu. Rey mengerti. Memang belum terlalu lama bagi dia sendiri, tetapi ia juga menginginkan kontak semacam itu. "Jadi bukan hanya aku yang dapat membangkitkan hasratmu."
Kening Kikan berkerut. "Apa maksudmu?"
" Sembarang pria dapat melakukan itu padamu? membuatmu bergairah?"
Kikan melotot ke arah Rey. "Sebaiknya kita tidak membahas soal itu lagi."
Rey mendesah. Kikan tidak mempercayainya, dan Rey tidak bisa menyalahkannya. Ia sendiri bahkan tidak bisa memikirkan apapun untuk diucapkan yang bisa membuat Kikan berubah pikiran, karena ia tak bisa berjanji ke depannya akan seperti apa. Rey hanya tahu ia menyukai apa yang dilihatnya dalam diri Kikan sejauh ini. Mungkin Kikan memandang dirinya sebagai mantan narapidana miskin yang dibenci masyarakat. Tetapi yang Rey lihat dia wanita cantik yang memiliki ketabahan, kejujuran, kerendahan hati, pengabdian pada orang-orang yang disayangi, dan keberanian menghadapi risiko apapun demi menjadi bagian dari hidup mereka. Jadi mengapa Rey tidak bisa menyayanginya?
" Bagaimana kalau kukatakan bahwa aku ingin kau pergi bersamaku dan teman-temanku ke sebuah pondok akhir pekan datang untuk merayakan ulang tahunku?" tanya Rey.
" Aku akan menjawab bahwa kau harus mengundang orang lain." ucap Kikan.
" Kau bahkan tidak mempertimbangkannya dulu untuk sejenak."
" Tidak perlu. Aku masih mual karena kejadian beberapa menit lalu, ketika aku kira aku sudah merusak kesempatan dan kau tidak akan mengizinkanku bertemu Jason. Aku tak mau kejadian seperti itu terulang lagi," sahut Kikan, kemudian turun dari mobil.
Dia menolaknya mentah-mentah. Rey agak kaget setelah yang dilaluinya bersama Kikan, Rey kira wanita itu akan jatuh dalam pelukannya. Pergi keluar bersamanya, jelas membutuhkan lompatan keyakinan yang besar. Rey pikir Kikan menyukainya seperti ia menyukai Kikan, Mungkin begitu. Tapi semua ini terlalu beresiko. dan Kikan terlalu takut untuk tersakiti seperti pengalamannya dulu. Rey pikir ia akan pelan-pelan berusaha meyakinkan Kikan, untuk mau mengambil resiko besar ini.
.
🐾 Senin lagi, waktunya vote mingguan, teman-teman pembaca setia ❤️, dukung terus author ya, apalah artinya otor tanpa dukungan kalian ... Jangan lupa difavorit 🐾
__ADS_1