
Selama beberapa hari sesudah itu, Jason mengirim pesan lewat Facebook, mengatakan bahwa dia akan berkunjung ke rumah Kikan. Dan berbicara dengannya saat pertandingan.
Jason memberitahu Rey bahwa dia meyakinkan Kikan agar mau pergi ke danau biru untuk akhir pekan. Bahwa itu akan menyenangkan. Bahwa Kikan bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari teman. Bahwa dalam hidup ada lebih banyak hal lain kecuali merawat ibunya dan membangun bisnis. Rey bahkan ikut mendengarkan sebagian dari percakapan mereka, karena ia yang mengantar Kikan menonton pertandingan Jason. Tetapi dari apa yang didengarnya hari itu, dan yang dikatakan Jason setelah itu, Kikan selalu memberikan jawaban yang sama. Dia bilang dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman Rey.
Pada jumat pagi Rey tampak tidak bersemangat, Rey berharap bisa tinggal di rumah sendiri. Devan mengatakan dia punya daftar wanita yang mau mengantri untuk berkencan dengan Rey. Tetapi Rey bahkan tidak mau menemui mereka. Satu-satunya alasan yang membuat tetap pergi karena ia tak ingin mengecewakan teman-temannya. Bagaimanapun, ini pestanya dan ia juga ingin bertemu sahabatnya Simon yang sudah lama tidak berada di kota ini.
Wanita yang diundang Devan untuk Rey sudah datang ketika ia tiba. Namanya Sindy Davinka, dan dia secantik yang dijanjikan Devan. Tampaknya dia juga baik. Dia tersenyum riang ketika mereka diperkenalkan, dan nyaris seketika menarik Rey agar duduk disampingnya.
Tapi begitu bertemu Simon, Sindy dan pasangan kencan Devan, wanita bernama Samantha, mulai menjilat sang model itu. Rey tahu akhir pekannya akan berlangsung dengan membosankan.
♪
♪
Hadiah Rey dikirimkan pada Jumat sore. Kikan membukanya untuk memastikan barang itu sama bagusnya dalam wujud nyata sebagaimana tampilannya di komputer, dan senang sekali ketika melihat ternyata itu bahkan lebih bagus. Begitu merasa bisa menyisihkan uang lagi, Ia berencana untuk memesan buku yang sama untuk gelang-gelangnya.
Dia akan suka sekali dengan hadiah ini. berharap dapat menyerahkan buku itu sebelum Rey berangkat ke pondok, Kikan bergegas ke tempat ibunya untuk meminjam ponsel dan menelepon Jason.
Karena bu Lis sedang duduk di meja sambil mendelik ke arahnya. "Dia tidak pantas menerima itu, tidak pantas menerima apapun." Kata ibunya. Kikan menoleh ketika anaknya menjawab telepon dan memelankan suara.
" Jason?"
" Hai Mom, ada apa?"
" Aku ingin tahu apakah ayahmu masih di rumah?"
" Papa berangkat ke pondok tengah hari. Kenapa? Mom berubah pikiran ingin pergi ke sana? Kalau benar, aku bisa memberimu alamatnya. Karena Papa meninggalkan alamatnya pada orang tua Tristan.
Sepanjang minggu ini Kikan terpikir untuk ikut ke sana, dan nyaris menyerah. Rasanya seakan.... aman, begitu Jason mulai mencoba membujuknya. Tetapi selalu ada ibunya yang mengingatkan betapa bodohnya ia jika mempercayai Rey lagi. Kikan tak bisa membayangkan pria itu tertarik padanya, tidak secara serius. Ibunya pasti benar.
" Aku belum berubah pikiran," katanya pada Jason. "Aku hanya.... aku punya hadiah kecil untuk ulang tahunnya dan berharap bisa memberikannya siang ini, itu saja."
__ADS_1
" Mom bisa membawa hadiah itu ke pondok. Papa pasti senang kalau mom datang."
Sekali lagi, Kikan nyaris menyerah pada godaan itu. Mungkin ia sudah menyerah kalau saja ibunya tidak menguping pembicaraan mereka. "Aku tidak boleh mengganggunya bersama teman-temannya. Akan kutunggu saja sampai dia pulang," kata Kikan.
Tetapi setelah telepon ditutup, Jason menelepo lagi dan mendesak agar Kikan mencatat alamat pondok. Karena alasan tertentu, putranya bener-bener ingin Kikan pergi... dan setelah tiga jam menimbang-nimbang, Kikan berjalan kembali ke rumah Ibunya dan menelepon tempat penyewaan mobil untuk menanyakan apakah ia bisa menyewa mobil untuk mengantarnya.
Mungkin ia gila, membabi buta seperti kata ibunya. Tetapi ketika memandang di sekitar trailer rumahnya dan melihat seperti apa hasil dari 'mencari aman' sepanjang waktu, Kikan menyadari bahwa rasa takut dapat memenjarakan seseorang seperti halnya jeruji besi di penjara.
Maka kikan memutuskan untuk membebaskan diri dan menghadiri pesta Rey.
.
Pondok itu ternyata sebuah Villa cukup besar. bangunan luas yang sangat indah, terbuat dari kayu, batu dan kaca. Kayu itulah satu-satunya unsur yang membuatnya menyerupai pondok. Tempat seperti ini tidak bisa disebut "sederhana".
" Keren," kata si sopir sambil bersiul.
Mereka tidak bisa melihat semuanya, tidak pada bagian yang tidak terkena cahaya di depan. Makan waktu lama sekali mencari transportasi hingga sekarang sudah malam, hampir jam 22.00.
Sopir itu menegurnya. "Nona?"
Kikan memijit kening. Belum terlambat untuk kembali. Ia bisa meminta sopir itu untuk mengantarnya pulang.
" Ada yang tidak beres?" tanya pria itu dengan ragu-ragu.
" Iya, hmmm, maaf aku mengubah rencana pada menit terakhir, tapi aku memutuskan untuk kembali."
" Kembali lagi?"
Kikan menggangguk. "Tidak apa-apa kan?"
" Maafkan saya, tapi saya ada penumpang lain setelah ini," kata Sopir itu. "Saya hampir tidak bisa sampai di sana tepat waktu."
__ADS_1
" Oh!" kikan tidak mempertimbangkan kemungkinan sopir itu tak bisa mengantarnya, bahkan jika ia membayar lebih tinggi lagi untuk perjalanan kembali.
Sopir itu merentangkan tangan. "Saya yakin anda akan senang di sini."
Kikan kemudian turun dari mobil. Sial. Ia bukan bagian tempat ini, mestinya ia tidak datang.
Sopir itu menyerahkan koper usang yang Kikan pinjam dari ibunya dan mengucapkan terima kasih ketika Kikan memberinya tip. Lalu sopir itu meninggalkannya berdiri di tangga depan pondok milik Simon. Salah seorang bintang iklan dan model terlaris di negeri ini.
Seakan-akan keberadaan Rey di sini belum cukup menakutkan.
"Aku benar-benar kena batunya kali ini." Kikan melihat sekeliling, bertanya-tanya apakah masih ada jalan lain untuk pergi, tetapi jalan sempit berkelok-kelok yang tadi dilaluinya jarang sekali dilewati kendaraan. Ia tak punya pilihan lain. Dan ia jelas tidak mungkin bisa naik bus.
Dengan kata lain, Ia terjebak.
Seraya menghembuskan nafas panjang, Kikan menggeleng-geleng. "Dasar bodoh." Jelas sekali, Ia jauh lebih peduli pada Rey daripada yang ingin diakuinya. Jika tidak, mustahil ia rela menempatkan diri dalam posisi mengerikan ini, dengan atau tanpa membawa hadiah.
Bagaimanapun, ia sudah di sini. Tak ada yang bisa dilakukannya selain memanfaatkan keadaan sebaik mungkin.
Kikan menaiki tiga anak tangga ke pintu seraya menenteng koper, kemudian melintasi area masuk yang luas masih sambil menentengnya lantaran koper itu tidak beroda seperti kebanyakan koper produksi terbaru tahun ini.
Setelah duduk, ia berdiri di sana sesaat, lalu membunyikan bel.
Simon sendiri yang membukakan pintu. Kikan merasakan lidahnya begitu kelu sehingga ia nyaris tak bisa berbicara.
" Halo." Pria itu tampak terkejut tetapi tersenyum ramah.
" Hai, aku, hmm, aku ke sini untuk pesta Rey. Dia.... dia mengundangku."
Alis Simon terangkat seakan dia sangat terkejut, dan Kikan bisa mengerti sebabnya. Kikan begitu berbeda dari orang lain yang akan hadir di sini. Dan Rey mungkin belum menyebutkan tentang dirinya. Pria itu tak punya alasan untuk melakukannya.
Untunglah Simon tidak ragu-ragu sebelum membuka pintu lebih lebar. "Bagus sekali. Semakin banyak orang semakin meriah," ujarnya. "Ayo masuk. Kami semua ada di belakang."
__ADS_1