Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 38


__ADS_3

Kikan berusaha menyembunyikan jahitannya dengan menggerai rambut alih-alih mengikatnya ke belakang. "Berkat orang yang punya selera baju bagus, aku jadi bisa berpenampilan baik." kata Kikan tersenyum pada Devan.


" Aku senang kau suka semuanya," Devan mengangkat pergelangan tangan. "Aku juga suka hadiah yang kudapat"


Kikan berhati-hati agar tidak membuat tatapannya kembali mengarah ke Rey. "Terima kasih, Aku tahu itu.... berbeda"


" Maksudmu keren." kata Devan


" Semua orang menunggu kita" Rey menepuk punggung Devan, sedikit lebih keras daripada biasanya jika dilihat dari reaksi Devan. "Dan beberapa dari kita harus kembali bekerja," ucap Rey.


Bibir Devan melengkung seolah dia menahan tawa. "Termasuk aku," katanya, kemudian mengangguk ke arah Kikan. "Jaga dirimu, oke?"


"Kau juga." Ucap Kikan.


Devan berhenti sebentar. "Kau masih menyimpan nomorku kan? jaga-jaga jika kau butuh tumpangan."


"Masih."


"Jangan sungkan untuk menelpon. Aku tidak mau kau berjalan atau bersepeda ketika hari sudah gelap."


" Dia tidak akan menelponmu." Kata Rey, dan kali ini Devan benar-benar tertawa.


" Kau benar," kata Kikan setelah Devan bergabung bersama teman-temannya. "Aku tidak akan menelponnya, jadi tidak perlu khawatir. Aku tidak berusaha mengganggu teman-temanmu, dia hanya mencoba bersikap baik, jadi aku membalas sikap baiknya."


" Dan bahwa kau cantik serta masih lajang tak ada hubungannya dengan itu." kata Rey.


Kikan yakin Ia salah dengar. "Maksudmu?"


" Tidak ada. Lupakan saja." Rey melirik menu yang tertulis di papan tulis kafe, lalu melihat meja Kikan yang hanya ada laptop dan ransel yang dipakainya untuk membawa laptop. "Bolehkah kubelikan kau kopi atau apapun?"


Kikan menghabiskan setiap uang yang ia punya untuk datang ke pertandingan Jason, memberikan makanan kecil dan minuman. tapi sekarang ia tidak khawatir, berkat tiga puluh pesanan yang ia punya. semuanya akan baik-baik saja. "Tidak, tidak usah. aku sudah minum secangkir ketika sampai sini," dustanya.

__ADS_1


" mereka punya menu sarapan juga. muffin dan semacamnya." Rey masih berusaha menawarkan.


" Tidak usah." Kikan berharap perutnya tidak keroncongan, dan lega ketika itu tidak terjadi."


"Jangan membuatku menahanmu dari teman-temanmu." ucap Kikan.


Teman-teman Rey duduk di meja ujung, tapi mereka menjulurkan leher untuk melihat Kikan, meskipun mereka tersenyum seolah bersikap ramah, Kikan tak boleh berharap.


Ia akan memuaskan rasa penasaran mereka sementara menyelesaikan pekerjaan, kemudian menutup laptop dan keluar dari tempat itu. Kikan tak suka diingatkan tentang perbedaan kedudukan sosial antara dirinya dan mereka.


" Oke," kata Rey. "Selamat atas pesanannya"


Kikan menganggukkan perpisahan. "Trims."


Begitu Rey bergabung kembali bersama teman-temannya, Kikan menunduk dan mengirimkan email terakhirnya. Ia tidak suka berada di Black Coffee ketika tempatnya penuh, itu sebabnya Ia datang pagi, sebelum orang-orang. Ia seharusnya sudah meninggalkan tempat itu ketika melihat teman-teman Rey tadi. Meskipun itu artinya ia akan kembali lagi nanti, di tengah cuaca panas. Bahkan belum sampai lima menit Rey meninggalkannya, ia mendengar ada orang bergumam, "Dasar pelacur!"


Entah bagaimana Kikan bisa mendengar kata-kata itu terlepas dari kebisingan di sekelilingnya. Rey dan teman-temannya belum pergi. mereka sedang mengobrol dan bercanda seolah dunia berhenti berputar dan mereka tak menyadarinya.


"Oh, tidak," bisik Kikan selagi jantungnya berdentam-dentam keras. Ia tidak ingin menciptakan perkelahian di dalam kafe. Ia benci menjadi pusat perhatian, dan terutama Kikan tak ingin terlihat memalukan di depan Rey.


Karena ingin menghindari perselisihan, meskipun hanya bersifat verbal, Kikan mengambil laptop dan meninggalkan ranselnya untuk mempercepat waktu, dan masuk ke toilet wanita. Ia sebenarnya memilih untuk menghilang tanpa jejak. sayangnya hal itu mustahil. Logan dan temannya berdiri di pintu depan.


Kikan mendongak ke satu-satunya jendela di toilet sambil berharap dapat melompat melalui jendela itu. Tetapi jendelanya terlalu kecil, terlalu tinggi, dan hanya terbuka sedikit sekali.


Sambil berharap Logan segera memesan dan keluar, Kikan memmeluk laptop di dada dan menunggu sambil berjalan perlahan-lahan, menggerakkan kakinya selangkah demi selangkah.


" Pergilah" Kikan bergumam sambil berharap Logan melakukannya. Tetapi pintunya justru terbuka.


" Kau kira aku tidak punya nyali untuk mengikutimu kemari?" Tanya Logan sambil menutup pintu masuk bersama temannya yang berdiri di belakangnya.


Ingatan tentang ekspresi Logan ketika pria itu hampir menabraknya membuat Kikan mulai berkeringat. "Aku tak ingin membuat masalah." kata Kikan.

__ADS_1


Kikan berkata begitu pelan hingga Rey dan teman-temannya tidak akan mendengar. tetapi Logan tidak mengubris. "Aku tak peduli!" teriak Logan. "Kau membunuh adikku. Kau pikir aku masih mau melihatmu ketika aku menyetir di kota ini? ketika aku membeli kopi? ketika aku akan keluar makan malam?"


Teman Logan terlihat mendukung, meskipun Kikan hanya diam.


" Aku tidak.... aku tidak..." Kikan mulai berbicara tetapi lidahnya kelu dan ia tak bisa berkata apa-apa. Mungkin karena ia tidak yakin apa yang akan diucapkannya. Kikan ingin mengatakan bahwa ia tidak membunuh siapapun, tapi ia tahu Logan takkan percaya. akan lebih baik untuk berusaha meredakan situasi, sehingga ia bisa pergi dari sana tanpa ada yang cedera. "Aku akan pergi. sekarang, Jika kau membiarkan ku lewat."


" Membiarkanmu lewat? saat kau menghinaku dengan kembali ke sini? dengan menunjukkan bahwa kau masih hidup dan segar bugar sedangkan Lori." Suaranya hampir pecah tapi tampaknya dia berhasil mengendalikan diri. "Ketika Lori pergi untuk selama lamanya?"


Logan menghampiri Kikan, dan Kikan perlahan mundur tapi terbentur bilik kamar mandi. "Aku ikut berduka soal Lori. Aku tak ingin dia pergi, Jujur saja, ada saat-saat ketika aku berharap dia yang di sini ketimbang aku. Tapi aku tak bisa mengubah masa lalu. Kau dan aku..... kita berdua harus mencari cara untuk melanjutkan hidup."


" Bukan berarti aku harus berhadapan denganmu di kota ini." Kata Logan dengan marah.


Kikan memeluk laptop lebih erat. "Ini juga kotaku Logan. Aku punya anak di sini. Itulah alasanku kembali, untuk Jason dan ibuku."


" Jason punya ayah, dia tidak butuh ****** mantan narapidana. Apalagi ibumu yang brengsek dan sakit itu, kau mengerti? Kau akan berguna jika..."


" Ada apa ini?"


Saat Rey muncul di depan pintu, mendorong teman logan dengan bahunya supaya dia bisa masuk, Kikan merasa air matanya menggenang. Tetapi ia menelan ludah dan mengerjap-ngerjap untuk menahannya.


" Bukan urusanmu!" Jawab Logan. "Bilang padanya Ken."


Teman Logan tidak mengatakan apapun pada Rey. Dia hanya mengangkat bahu seolah tak yakin apa yang harus dilakukan.


Rey tidak mengacuhkannya, "Jangan bikin masalah Logan." Katanya. "Bagaimana ini dapat membantumu mengatasi apa yang terjadi pada Lori?"


Ketika menunjuk Kikan, Logan berada sangat dekat dengannya hingga jari pria itu hampir menusuk hidung Kikan. "Dia seharusnya tidak di sini." Bantah Logan.


Rey bergerak mendekati Logan. "Apa menurutmu dia akan kembali jika dia membunuh Lori?" Tanya Rey.


" Maksudmu apa?" dia yang menyetir mobil waktu itu!"

__ADS_1


" Kikan sudah menjalani hukuman. dia bisa pergi kemanapun, bahkan di sini. "Rey membuat isyarat cepat ke arah Kikan dan menambahkan "Pergilah! cepat...!" katanya.


__ADS_2