Hatiku Terluka Dalam

Hatiku Terluka Dalam
Chapter 56


__ADS_3

"Kau terlalu percaya padanya," tukas ibu Logan.


"Dan kau tidak mempercayainya," Rey membalas. "Dia belum genap delapan belas tahun, hamil, dan baru diputus oleh ayah dari anak yang dikandungnya. Kebanyakan gadis remaja tidak akan bersikap rasional dalam situasi seperti itu. Tapi bukan berarti dia bersalah. Jadi, meskipun kematian Lori sangat tragis, kusarankan kita hidup dan saling mendukung sesama daripada berisiko menyiksa seseorang yang tidak bersalah, terutama orang yang telah begitu menderita."


"Kau tidak percaya kesaksian yang kau dengar di pengadilan? Suami Lea, bertanya. "Kau mengira mobil orang lain yang menabrak Lori?"


"Tidak, tapi ada orang lain yang semobil dengannya," sahut Rey. "Itu pantas menimbulkan keraguan."


"Orang itu Via Astaria, dan dia menegaskan bahwa Kikan menabrak Lori."


"Bagaimana kau tiba-tiba yakin dengan karakternya?" Lea menuntut penjelasan. "Dia sudah tidak disini selama tujuh belas tahun!"


Helen meletakkan tangan di punggung Rey. "Selama ini hatimu selalu lembut, Aku khawatir empati telah menguasai pikiranmu."


" Tidak seperti itu. Gadis yang kupacari saat SMA, dan wanita yang berhubungan denganku sekarang, tidak akan pernah mencelakai siapapun." Rey bersikeras.


" Mudah saja kau bicara," gerutu Ibu Logan.


" Dia tidak diterima di kota ini," ujar Logan. "Kenapa aku harus berpapasan dengan pembunuh adikku ke mana pun aku pergi?"


" Karena hukum tidak memberimu pilihan," kata Rey. "Kalau ini bisa membantu, Kikan mengatakan padaku dia akan pergi ke tempat lain kalau bisa. Tapi dia tidak mampu membujuk ibunya untuk pergi, fobia bu Lis membuatnya tak sanggup keluar dari trailer kotor itu. Begitu tidak ramahnya dunia baginya sehingga dia takut."


" Dan salah siapa itu?" bentak Logan.


Rey ingin sekali memukulnya lagi. Ibu Logan pasti sudah bisa merasakan keinginan Rey itu, karena dia segera berdiri.


" Logan jangan emosi. Meskipun tampaknya tidak adil Kikan bisa berjalan ke sana ke mari sebebas burung, padahal Lori tidak akan pernah bisa melihat matahari lagi, Rey benar mengenai keterbatasan hukum kita." Dia memandang Rey. "Tapi inilah yang ingin kuketahui. Kenapa kau tidak maju sebagai pembela Kikan sebelum ini?"


" Maksudmu ketika aku berumur delapan belas tahun dan diberitahu oleh semua orang bahwa dia tak pantas menjadi pacarku? Bahwa dia orang yang menakutkan, pembunuh? Waktu itu aku ketakutan karena kematian Lori. Belum lagi kenyataan bahwa aku akan menjadi ayah dari anak yang ibunya menjadi manusia yang dibenci oleh semua orang di kota."


" Tapi sekarang kau yakin dia orang baik?" tanya Lea. "Apa yang berubah?"


" Aku menyesal karena tidak pernah membela dia. mungkin aku bisa mencegah orang yang tak bersalah dikirim ke penjara kalau saja aku lebih tua, lebih kuat, lebih tegas, dan tidak terlalu percaya pendapat orang lain." ucap Rey.


Bibir atas Lea berkerut. "Ya Tuhan! Kau sudah kelewatan. Kau bertingkah seakan kau jatuh cinta lagi padanya."


Helen tersentak. "Tidak, dia tidak begitu! sama sekali tidak!"


Tetapi Rey tidak menyangkalnya. Ia berharap keadaannya tidak seperti ini, tetapi Rey tahu ia merasakan sesuatu, dan perasaan itu lebih kuat daripada seharusnya.

__ADS_1


" Itu urusanku. Bagaimanapun, aku ingin memperjelas bahwa aku tidak akan membiarkan Kikan digertak atau disakiti lagi dengan cara apapun." Rey berpaling pada ibunya. "Bu, aku minta maaf ini tidak berjalan seperti yang kau inginkan." Katanya lalu berjalan keluar dengan kepala tegak bahkan sebelum mereka bisa duduk untuk menikmati makan malam.


.


.


Rey memarkirkan mobilnya di depan rumah Devan. Ia berharap mungkin bisa bertemu dengan Kikan, walaupun kemungkinannya sangat kecil. Sekarang sudah larut malam, dan saat ini Rey butuh teman cerita untuk meringankan beban pikirannya, yang terpikirkan olehnya adalah Devan.


" Kebetulan sekali. Aku ingin menemui besok." Kata Devan. "Ada apa kau datang larut malam begini?" tanya Devan.


" Aku berharap bisa bertemu Kikan di sini." Jawab Rey asal.


" Yang benar saja, Kikan tentu sudah pulang. dan sebenarnya dia lah alasanku menemuimu besok."


" Kau mau apa darinya?" sahut Rey.


" Nah kan?"


" Nah kan, apa?" tanya Rey.


" Nada cemburu itu lagi."


" Wow! dan sekarang kau mengakuinya." kata Devan


Rey mengusap-ngusap kening." Ya. Aku mengakuinya."


" Apa dia tahu?"


Rey menghela nafas. "Tidak ada bedanya meski tahu. Dia tidak percaya padaku."


" Itu bukannya sesuatu yang tidak terduga," kata Devan.


" Kau ini ingin membuatku merasa lebih senang atau lebih kesal?"


" Apa yang terjadi malam ini?" tanya Devan.


Rey tidak bisa bercerita apa-apa tentang kejadian yang berlangsung di rumah keluarga Logan, jadi ia berfokus pada peristiwa lainnya. "Aku memintanya untuk pergi ke pondok pada akhir pekan mendatang."


" Dan?"

__ADS_1


" Dia bilang tidak."


" Aku mengerti. tapi... itu juga bukannya tidak terduga." ucap Devan.


Rey menyisir rambutnya dengan jemari. "Memang."


" Jadi..." tanya Devan


" Aku tidak yakin aku masih ingin ke sana."


" Apa? Devan berseru." Ayolah Bro! kita sudah mempersiapkan ini selama berbulan-bulan. Simon tidak sering mengunjungi kita. Dia selalu berada di lokasi syuting untuk satu pemotretan ke pemotretan lainnya. Lebih sering di luar negeri. Akan seru kalau kita kumpul-kumpul dengan kelompok kita. Kau lihat saja nanti."


Itu tidak menenangkannya, tapi Rey tidak ingin merusak acara akhir pekan itu bagi yang lain.


" Kau bilang kau ingin menemuiku karena Kikan?"


" Benar," jawab Devan


" Kau belum bilang alasannya."


" Karena kupikir ini tidak akan memperbaiki suasana hatimu malam ini." tukas Devan.


Rey menjalin kedua tangannya. "Ceritakan saja"


" Dia datang tadi, ketika aku sedang pergi. Dan Kikan meninggalkan amplop di mejaku."


Kikan memang cukup sering ke kantor Devan, menggunakan komputer Devan. Apakah dia tertarik pada Devan sekarang? "Apa isinya?" tanya Rey.


" Uang beberapa ratus ribu. Dia berusaha membayar kembali pakaian yang kita belikan untuknya, dia menulis surat mengatakan akan membayarku setiap bulan sampai lunas."


Rey menghembuskan nafas panjang. Ternyata tidak seburuk yang dikhawatirkannya. "Terdengar seperti sesuatu yang memang akan dilakukannya."


" Begitulah. Tapi aku merasa bersalah membiarkan dia percaya bahwa aku yang membelikannya, padahal kau membayar separuhnya," Devan menjelaskan. "Aku berharap dia tidak melakukan itu. Kita kan memang ingin memberikannya barang-barang itu. Tapi harga dirinya begitu tinggi."


" Kau selalu bisa menolaknya." Ucap Rey.


" Tidakkah kau lebih suka kalau aku memberitahunya bahwa kau juga ikut ambil bagian di sini? Jadi kau bisa berusaha mengatasinya, sekalian dengan semua masalah di antara kalian berdua?"


Entah bagaimana tujuh belas tahun ternyata belum bisa menghapus perasaan Rey pada Kikan, seolah selama ini mereka hanya menekan tombol pause, bahkan Rey merasa semakin tertarik kepadanya karena kini dia percaya akan penilaiannya sendiri. "Tidak jangan, dia tidak perlu tahu." Ujar Rey.

__ADS_1


" Oke, Kalau kau memang mau begitu."


__ADS_2