
Angga Earthan.
Nama yang sudah tidak asing di sekolah ini.
Memang sih, tidak semua orang mengenal Angga. Tapi, telinga mereka pasti pernah mendengar nama Angga Earthan.
Laki-laki itu kini tampak berjalan santai dengan tujuan kelas barunya. Sesekali dia balas sapaan orang-orang, meski dia sendiri tidak mengetahui nama orang itu. Menurut Angga, yang penting dia tahu wajah orang itu.
Angga memang bisa dikategorikan anak populer. Waktu kelas 10 dia menjadi anggota OSIS yang tentunya cukup tersorot di sekolah.
Angga juga masih jadi OSIS sekarang. Belum kepikiran sama dia bakal kembali aktif atau tidak di OSIS.
Setiap pergantian tahun pelajaran, pasti kelas itu diacak lagi. Nama Angga di kelas 11 ini terdaftar di kelas 11-IPA 3 atau biar mudah di kelas 11-C.
Begitu dia masuk ke kelas barunya, sudah cukup ramai. Mungkin karena hari pertama sekolah, murid-murid jadi mendadak rajin dan datang pagi.
Laki-laki itu kemudian mendudukan dirinya di sembarang kursi. Kemudian dia menyamankan dirinya lalu membuka bungkusan roti coklat yang sengaja ia bawa.
Lalu, dia terhanyut sama kegiatannya sendiri. Bermain handphone seraya memakan roti coklatnya.
__ADS_1
Tidak lama setelah Angga menelan potongan terakhir dari rotinya, bahunya ditepuk oleh seseorang. Membuat Angga yang semula fokus pada handphone menjadi tersentak kaget.
"Angga kan? Gue boleh duduk disebelah Lu ya?"
Angga tidak langsung menjawab, dia malah menatap lekat laki-laki yang baru saja berbicara padanya. Angga kenal wajah ini, tapi dia lupa siapa namanya.
"Lu lupa, ya? Gue Dzikya," ucap laki-laki itu lagi.
Dahi Angga mengernyit, mencoba menggali lagi isi ingatannya, kemudian dia mengangguk setelah berhasil mengingat siapa laki-laki ini.
"Dzikya yang dulu sekelas?"
Laki-laki yang mengaku bernama Dzikya itu mengeluarkan senyum khasnya kemudian mengangguk, "Inget juga Lu! Gue boleh sebangku sama Lu, kan? Soalnya yang waktu kelas 10 sekelas cuma Lu sama Dita aja, tapi ya masa gue duduk sama cewek?"
"Bolehlah, gue juga gak punya kenalan akrab disini."
Dzikya kembali mengeluarkan senyum khasnya, kemudian dia mendudukan dirinya di sebelah Angga. Laki-laki bermata sipit itu langsung mengeluarkan handphone-nya dan memasang earphone-nya.
Sepengamatan Angga, di kelas ini banyak murid yang sewaktu tahun pertama dikategorikan anak bandel sama guru. Angga tidak bisa membayangkan bagaimana hari-harinya di kelas ini.
__ADS_1
Yang pasti akan selalu berisik.
"Kawaii~" ucap Dzikya membuat Angga refleks menoleh ke arahnya.
Angga kemudian mengintip apa yang dilihat Dzikya, penasaran juga karena teman sebangkunya ini terlihat antusias terhadap apa yang sedang dilihatnya.
"Lu suka anime, Kya?" Tanya Angga setelah yakin kalau Dzikya sedang menonton animasi khas Jepang di handphone-nya.
Kelas makin berisik ketika beberapa laki-laki masuk, Angga mendengus lagi-lagi dia punya teman sekelas berandalan.
Mood-nya tiba-tiba turun begitu sadar akan fakta itu.
"Dzikya? Lu suka anime?" Tanyanya lagi setelah pertanyaan sebelumnya tidak kunjung dijawab oleh lawan bicaranya.
"Menma jangan pergi!" Teriak Dzikya histeris secara tiba-tiba.
Angga mendelik, bukan jawaban yang ia dapat. Makin memburuklah mood seorang Angga.
Di hari pertama, Angga Earthan sudah berada dalam mood yang buruk.
__ADS_1
Hari pertamanya Angga diisi dengan umpatan-umpatan yang tidak ia suarakan.
started.5. 8.19