
Saat sampai di depan rumah. Adit dikejutkan dengan mata-mata yang ditugaskannya memegang erat pria paru baya. Ketiga suruhannya itu mengikat dengan kencang pria tersebut, dapat dilihat dari wajah pria itu yang nampak kesakitan. Ternyata orang suruhannya lebih cepat menemukan pelaku penusukan itu ketimbang polisi.
Adit segera turun bersamaan disusul Dyana yang turun dari mobil Sastra.
"Apa kalian tidak salah bawa orang?" tanya Adit heran sekaligus terkesiap tidak percaya.
Dyana hanya mengekor memegang perutnya yang masih takut ia gerakkan banyak-banyak.
"Tidak … dia memang pelakunya--Yoga," ucap salah satu suruhannya yang juga sebagai detektif.
Adit mencoba tenang dan meyakinkan dirinya bahwa ini adalah sebuah mimpi belaka. Tapi nyatanya kebenaran ada di depan matanya.
Pria itu menunduk tidak berani menampakkan wajah, tapi Adit tetap tahu siapa pelakunya.
"Apa yang Bapak lakukan?" tanya Adit menahan emosi, dia tidak mungkin salah lihat. Tidak mungkin juga kalau orang suruhannya salah tangkap. Mereka adalah orang yang terpercaya dan berpendidikan khusus.
Dyana terkesiap saat Adit memanggil pria yang diikat dengan sebutan Bapak.
Tak kalah tercengang lagi dengan Miya sebagai adik kandung Yoga. Dia tidak menyangka Yoga sekeji itu sampai melukai keponakanmya sendiri. Dia memilih diam membiarkan Adit berbicara.
"Kamu sudah tahu alasannya!" katanya setengah berteriak kemudian menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Dia membalas atas apa yang tidak ia dapatkan. Kami menangkapnya di luar pulau." Salah satu dari tiga orang suruhan Adit menjawab.
Miya makin terkejut.
"Apa hanya karena uang, Bapak jadi seperti ini?" tanya Adit tidak habis pikir, kalau ternyata orang yang menerornya sebelum kejadian adalah Bapaknya sendiri.
"Apa Bapak tidak tahu siapa yang sudah Bapak lukai?" Namun pria yang diakui sebagai ayah dari Adit tetap diam tidak bergeming. Waktu itu ia hanya merealitakan ancamannya.
Dyana makin tercengang. Dia baru tahu kalau pria yang menusuknya adalah pamannya sendiri.
"Dia itu Dyana, anaknya Bibi Miya. Saudara Bapak sendiri!" ucap Adit marah pada kelakuan Bapaknya yang bringas.
Yoga menahan keterkejutannya sendiri. Dia sama sekali tidak menyangka keponakannya bekerja di sana. Sudah lama mereka tidak pernah bertemu sama sekali. Sejak dia sukses dan Miya malah menikah dengan orang miskin.
"Intinya Bapak harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah terjadi," ucap Adit tidak memandang Yoga sebagai bapaknya. Yang dia tahu hukum harus adil tanpa pandang bulu.
"Tega kamu ya!" Yoga akhirnya mengeluarkan suara.
Adit makin mendekat, Dyana tidak berani bergerak sedikit pun. Pertengakaran antara bapak dan anak tidak boleh terjadi, apa lagi itu karena dirinya.
"Apa? Bapak bilang tega, harusnya Bapak mendengarkan aku dulu. Adit bukan miliarder! Untuk apa Bapak mengancam menagih uang sepuluh milyar? Aku juga sudah mengatakan untuk bersabar."
__ADS_1
Dyana terkejut, bukan karena uang yang disebutkan. Tapi kebenaran ternyata Adit tidak pernah mengatakan kalau ada seseorang yang menerornya.
"Bapak banyak hutang …." Yoga menangis, dia tidak tahu harus meminta pada siapa. Tidak mungkin dia mencuri atau merampok apalagi membegal. Jadi dia memilih menodong anaknya sendiri yang diketahui sudah sukses mendirikan resto.
Adit tahu kebiasaan glamor bapaknya sejak keluarga mereka masih utuh. Bapaknya itu tidak pernah main-main dalam bertaruh pada perjudian. Itu juga yang menyebabkan ibunya pergi.
"Kak, seharusnya Kakak tidak melakukan hal seperti ini. Kenapa jadi begini?" Miya mendekat ke arah Yoga.
Rombongan Sekar yang baru datang hanya termangu melihat pemandangan tegang di depannya.
"Maaf! Tapi aku terpaksa."
"Tidak ada yang terpaksa kalau seandainya Bapak mau berubah!" Adit langsung menyaup pembicaraan bapaknya, bukan karena durhaka atau tidak sopan. Tapi karena dia anak baik, maka dia harus bisa meluruskan kesalahan yang terjadi.
"Maaf, Pak. Bukannya Adit tidak sayang, tapi lebih baik Bapak tetap menjaalnkan hukuman." Adit mengisyaratkan orang suruhannya untuk membawa baoaknya sendiri ke sel tahanan.
Mereka bertiga sebenarnya terkejut tapi juga salut kalau Adit tetap menegakkan hukum sebagaimana mestinya.
"Maafkan Paman, Dyana! Paman tidak tahu itu kamu," Yoga pasrah mengikut. Dia sadar sudah melakukan hal yang tidak patut. Apaalagi mengancam anaknya sendiri, dan melukai keponakannya.
Miya memandang sendu menyaksikan Yoga.
__ADS_1
*maaf baru update.
Saya tidak punya alasan kenapa tiga hari saya tidal uo. Sebab saya tidak suka diberi alasan. Idah gitu aja. Mohon dukungannya agar jari-jari saya lebih semangat.