Hidden Love

Hidden Love
Mood Sastra


__ADS_3

Sekar bagai cacing digarami. Setelah marah-marah tidak jelas pada keluarga Dyana, kini dia kembali ke rumah Sastra. Entah apa yang mau ia lakukan saat ini. 


Dewi yang berada di ruang tamu langsung membukakan pintu saat mendengar bunyi mobil. 


"Wi, cepat bukakan pintu Sekar." Dev yang tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya langsung menyuruh Merry.


Sekarang mereka sudah resmi berpacaran. Namun, hanya mereka berdua yang tahu. Seandainya ketahuan, mereka siap menanggung resikonya.


"Baik." Singkat Merry yang semulanya ikut membantu Dev memasukkan data-data ke laptop miliknya.


Baru setengah gagang pintu ditekan, orang dari luar tetiba masuk dengan ganasnya. Tanpa menghiraukan si pembuka pintu, Sekar langsung masuk kemudian berlalu menuju ke kamar Ayahnya Sastra. 


"Cih! apalagi yang akan dilakukan Sekar?" Geram Merry dalam hati. Ingin sekali dia membantu Sastra tapi kali ini tidak bisa. Bahkan, Merry dan Dev tidak tahu Sastra kemana. 


Semenjak bosnya mengendus bau penghianatan, pekerjaan mereka ditambah dan penjagaan diperketat.


"Kamu tahu dimana Sastra, kabari gih!" Pinta Merry setengah berbisik pada Dev yang masih menyelesaikan pekerjaan di ruang tamu.

__ADS_1


Dev membalas dengan anggukan lalu segera mengambil benda pipih miliknya dalam saku. Tak ingin diketahui, Dev memberi isyarat pada Merry bahwa dia akan menelepon di kamar mandi.


Sastra sangat lelah, perjalanan dari desa ke kota sudah memakan waktu yang lama dan ditambah kecelakaan yang membuat ia harus menunda mencari Dyana. 


Bak takdir, dengan adanya Dita ia jadi menemukan nomor rumah milik Adit sepupunya Dyana. Bahkan bonusnya Sastra tak sengaja melihat pemandangan antara sepupu yang bisa dibilang romantis.


Setelah sampai tidak lupa ia menuju ke dapur terlebih dahulu untuk sekedar mencolek kompor lalu menuju kamar. Kepercayaan itu ia dapat sejak kecil dari Ibunya, tujuannya agar tidak diikuti mahluk yang tak kasat mata.


Bruk…


Rasanya pinggangnya sudah mau patah. Seharian tidak dapat rebahan membuat Sastra sedari tadi ingin sekali menuju kasur. 


Ditengah kenikmatannya beristirahat dan hampir tertidur. Handphone dalam saku celananya berbunyi. Masih dengan mata terpejam ia mengambil lalu membuka matanya hanya sekedar untuk menggeser tombol hijau. 


Bro Dev, itu yang tertera di layar pipihnya. 


"Hallo, Sas. Aku cuma mau ngabarin, itu Sekar ngga tahu darimana tapi sepertinya habis melakukan sesuatu. Dan sekarang dia menuju kamar ayah kamu." Terangnya langsung tanpa jeda.

__ADS_1


"Memangnya kenapa tuh orang?" Ucap Sastra malas membahas nama yang disebut itu.


"Yahh, itu semua pasti karena kamu. Gara-gara sejak sore pulang sekolah ngga ada kau, Sekar marah-marah menghabisi semua barang di rumah."


"Bahkan dia mengancam ayah kamu akan menghancurkan rumah ini beserta isinya kalau sampai dia tidak memberi tahu kamu." Lanjut Dev.


Diseberang telpon Sastra membalas dengan uapan. Seakan apa yang dikatakan Dev bukan urusannya.


"Bagus dong. Biar Ayah berhenti membela perempuan yang egois itu." Bukannya bersimpati Sastra malah bersyukur.


"Ehh, tapi pas aku dengar Ayah kamu malah bilang ke Sekar suruh nyari sendiri. Bukankah kamu pacarnya, seharusnya kamu lebih tahu. Gitu jawab bokapmu, Sas." Dev seakan membela Ayah Sastra bermaksud agar keduanya baikan.


"Terserah. Aku lagi malas bahas mereka. Bagi aku tidak ada diantara keduanya yang benar." Sergah Sastra tak ingin ayahnya dibela.


"Ya udah, aku cuma mau ngabarin aja biar kamu tahu. Lagi pula ini permintaan Dewi." 


"Makasih laporannya. Aku tutup." Tanpa menunggu jawaban Sastra langsung menutup telpon. 

__ADS_1


Gagal sudah acara tidur malamnya diganggu oleh berita tak penting. Sastra sudah pasrah, bahkan ayah yang menjadi orang terdekatnya lebih memilih uang daripada anak. Apakah uang akan dibawa mati hingga sampai terlalu terobsesi seperti itu.


Karena mood Sastra sudah hancur. Dia lebih memilih mandi sekarang. Setelah itu dia akan kembali tidur. Tidak lupa hp-nya dimatikan agar tidak ada yang mengganggu lagi. Tidak peduli siapa pun itu, yang terpenting untuk saat ini ia tenang.


__ADS_2