Hidden Love

Hidden Love
Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula


__ADS_3

Aku tidak pernah mencintai lelaki. Kecuali Bapakku. Semenjak kepergiannya hidupku mulai terlunta-lunta. Tidak ada yang benar-benar peduli padaku. Selain pada bolpoin dan kertas, aku mencurahkan keluh kesahku hanya pada Tuhan. Aku tahu ibuku adalah orang yang paling menyayangiku, ibu juga yang paling menyakitiku. Bahkan seumur hidupku, aku akan mengingat kasihnya dan luka yang ia berikan


Aku tidak membecinya, karena aku tak ingin dibenci anak-anakku nanti. Aku tahu dia hanya sedang kecewa karena nasib yang begitu hampa. Tanpa dia tahu perasaanku akan bagaimana, pokoknya apapun yang ia lakukan akan ku ingat selamanya. Cintanya, kasihnya, kemarahannya, kata kasarnya, sikap kekanak-kanakannya. Tak akan pernah ku lupa semuanya.


Begitu perasaan Dyana, sangat hancur.


Dyana tahu betul sikap ibunya, dari luar rumah terdengar suara barang dibanting-banting. Suaranya yang menggelegar ngomel-ngomel tidak jelas kesana kemari.


Sifat manusia tak selamanya manis, meskipun itu seorang ibu. Karena ibu juga manusia, ia punya perasaan dan punya batas kesabaran.

__ADS_1


Hati Dyana sedikit tidak enak. Pasti ada hal yang memicu hal ini. Jujur, Dyana sangat-sangat membenci sikap ibunya kalau marah.


"Dasar anak yang ga tau diuntung, kalian sudah tidak punya Bapak tapi sikapnya tidak pernah berubah. Malas-malasan saja, ini semua berantakan. Dyana juga, anak itu selalu mementingkan dirinya sendiri. Murung sendiri di kamar, memangnya ibu tahan melihatnya. Dia tidak membantu apa-apa. Kamu juga kerjaannya main saja." Tunjukknya pada Lia sambil terus membanting apa saja yang ia bawa.


"Loh... Buk. Saya baru pulang, kenapa sudah begini?" Dyana tidak sadar ikut emosi.


"Kamu baru datang tidak tahu apa-apa sudah menjawab. Tidak pernah tidak menjawab. Rugi kamu tamat SMA tidak pernah mengerti orang tua. Sudah dibilang jangan sekolah, tetap maksa bersekolah. Kamu memang egois." Maki ibunya langsung pada Dyana yang baru memasuki rumah.


Tanpa berbicara apa-apa Dyana langsung ikut membanting tasnya dan menghempas pintu kamar sekeras-kerasnya. Hingga tembok ikut bergetar tanpa ia peduli perasaan ibunya. Bodo amat dia juga tidak peduli dengan perasaan Dyana. Masa baru pulang sekolah sudah marah-marah tidak jelas.

__ADS_1


Dyana jadi teringat Bapaknya, "Coba saja ada Bapak, pasti hidupku tidak begini. Rasanya pengen cepat-cepat tamat. Biar bisa nyari kerja dan punya uang sendiri. Ibu akhir-akhir ini selalu saja marah-marah. Ujarannya selalu bikin sakit hati." Gumam Dyana emosi.


Sudah dari sekolah melihat kejadian menyebalkan. Sampai rumah juga seperti ini. "Kenapa semua orang tidak ada yang mengerti aku. Semuanya tidak ada yang memikirkan perasaanku." Teriak Dyana sekencang mungkin, persetan dengan ibunya yang akan marah lagi. Dyana sudah sangat muak dengan drama dunia.


Dia sudah bekerja keras selama ini ikut membantu mencari nafkah, tapi apa ibunya tidak pernah menghargai dirinya. Bahkan dia kadang-kadang mencaci. Kalau sudah konslet seperti itu kadang Dyana tak tahan. Dia juga punya perasaan dan batas kesabaran. Seharusnya ibunya mengerti juga. Dyana lelah, Dyana capek, Dyana sakit hati, Dyana kecewa. Semuanya Dyana yang rasain.


"Padahal aku rasa sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga ini. Tapi apa balasannya, aku cuma dapat sakit hati dan penindasan." Dyana terus menangis, ingatan Dyana terhadap Bapaknya semakin kuat. Semakin sakit pula hatinya, ia kembali menangis tersedu-sedu saat mengingat nasibnya.


"Apa aku harus pergi? Sudah tidak ada lagi yang aku perjuangkan. Ibu sudah tidak menghargai aku, Lia juga tak begitu, Sastra sudah mendapatkan pasangannya. Lalu aku apa, cuma tokoh figuran yang numpang lewat?" Kali ini Dyana malah tersenyum, sedetiknya tertawa mengingat lawaknya semesta memperlakukan dirinya.

__ADS_1


"Lucu-lucu, dunia ini mempermainkan aku. Apa masih ada orang yang ingat padaku? Apa Dyana sudah makan, apa dia tidak sakit hati kalau aku bicara begini. Tidak ada! Bahkan wanita yang melahirkannya juga mencampakkannya." Dyana semakin tersenyum tapi senyumnya penuh sandiwara. Mengikuti permainan dunia.


"Sepertinya aku harus pergi sekarang." Dyana kembali bicara sendiri.


__ADS_2