Hidden Love

Hidden Love
Pulkam


__ADS_3

"Dy, ayok masuk." Adit membukakan pintu mobil. Dyana langsung masuk. 


Adit lalu masuk lewat pintu di satunya lagi. 


"Pakai sabuk pengamannya, Dy!" Suruh Adit.


Dyana menyembungikan rasa malunya yang benar-benar membuncah. Ia sudah beberapa kali naik mobil Adit, tetapi dia belum juga bisa memasang sabuk pengaman. 


"Humm, aku… belum bisa, Kak," ujar Dyana malu. 


Adit hanya tersenyum maklum, dirinya merasa tidak enak. Dengan segera ia memasangkan sabuk pengaman. 


Adit melajukan mobilnya menjauhi kota besar itu. Dyana duduk di sampingnya. Entah bagaimana, Adit merasa sangat canggung seperti tidak ada pembahasan sedetik pun.


"Emm, apa gusimu masih sakit?" Adit memecah keheningan. 


Dyana yang asik melamun memandang ke luar kaca jendela merasa terusik. Pikirannya tertuju pada Sastra. Ia merasa bersalah, tapi ia berharap Sastra mengerti apa penyebabnya ia menolak.

__ADS_1


"Udah mendingan kok. Tadi 'kan sudah dikumur pakai betadin. Makasi ya, Kak." Dyana mengembangkan senyumnya. Meski hatinya tiba-tiba rindu pada seseorang. Dia akan menangis saat ini kalau saja tidak ada seseorang di sampingnya.


"Nanti kita mampir dulu beli buah tangan buat Bibi dan Lia," ujar Adit. Dyana hanya mengangguk, di hatinya ia begitu malu sudah banyak merepotkan. 


"Maaf Dyana banyak merepotkan Kakak," ucapnya. Adit sama sekali tidak merasa direpotkan. Sungguh, dia sangat senang bisa membantu sepupunya. Justru ia yang harus banyak berterimakasih pada keluarga Dyana.


"Sama sekali tidak, kamu jangan sungkan seperti itu. Kakak berhutang banyak pada keluargamu, Dy." Adit lagi-lagi mengacak sayang rambut Dyana sembari tetap fokus menyetir mobilnya. 


'Aku tidak pernah tahu sejak kapan hati ini bisa merindu, mungkin sejak aku mengenalmu. Ketika aku mendapat yang ku mau, dengan perasaan ragu aku menolakmu. Itu karena aku benar-benar mencintaimu, daripada menatap sendu lebih baik aku melepesmu. Sastra… andai saja kau tahu, kalau hatiku memang hanya untukmu. Seharusnya kau tak marah seperti itu, harusnya aku tak menjelaskan padamu. Tapi, kebohongan rasanya lebih tepat waktu itu. Maafkan aku, I love you.' Dyana berkata-kata dalam benaknya karena merindu. Ia tanpa sengaja menitikkan air matanya. Adit hanya melirik-lirik jarang, ia pun tahu kalau Dyana menangis. Dia diam karena sudah tahu kalau Dyana masih sedih pasal waktu itu.


Mereka kini sudah sampai di toko oleh-oleh. 


"Iya, aku mau ikut," jawab Dyana.


Toko tersebut sangatlah besar, banyak jajanan dan pernak-pernik memenuhi setiap lorongnya.


"Wah! Banyak sekali ada barang unik." Dyana menyentuh kura-kura kayu yang kecil dan lucu. Dia nampak sangat suka sampai mengelus geregetan pada benda itu. Sontak Adit terkekeh geli melihat kelakuan Dyana.

__ADS_1


"Kau mau menyukainya?" Adit mengambil barang itu dan dimasukkan dalam keranjang tanpa menunggu jawaban. Dyana sangat senang dibelikan barang kecil itu.


"Makasi, Kak." Dyana memeluk Adit. 


Mereka sudah selesai berbelanja, sekarang mereka akan melanjutkan perjalanan ke kampung.


"Banyak sekali belanjanya, di rumah 'kan cuma ada Ibu dan Lia," tanya Dyana.


"Tidak apa-apa. Sudah lama Kakak tidak berkunjung. Jadi, tidak ada salahnya," sahut Adit.


Mobil kembali melaju menuju lebih jauh meninggalkan pusat kota. Dyana bak anak kecil, ia terus menyentuh kura-kura kayu itu dengan sayang. Adit yang melihat itu tak berhenti berdecak dalam hati. 


"Kamu sangat suka dengan kura-kura, ya?" 


"Banget, Kak!" Dyana makin memeluk sayang benda itu.


'Kamu perempuan yang paling polos yang pernah aku temui.' Senyum Adit mengembang. Tak berhenti-henti dirinya melihat kepolosan gadis di sampingnya. 

__ADS_1


Mobil terus melaju, perjalanan akan memakan waktu tiga jam. Mereka sejenak hening lalu mengobrol kembali untuk membunuh kebosanan.


__ADS_2