Hidden Love

Hidden Love
20. Sampai


__ADS_3

"Gimana?" Tanya Angga sembari menatap Jani, meminta persetujuan atas permintaannya yang baru saja ia bisikkan pada perempuan itu.


Jani hanya mengendikkan bahunya acuh, "Merekanya mau sedek-sedekan gak?" Balas Jani sambil menunjuk ke arah Dian dan Dzikya.


"Di, Dzi, kalian gak apa duduk bertiga di belakang?" Tanya Angga kemudian. Yang ditanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, masih sibuk mengunyah. Tapi memang tidak masalah, karena tadi saja mereka masih leluasa gerak. Angga tersenyum lega kemudian dia menatap Yuli yang juga masih sibuk dengan makanannya.


"Lo ikut ke mobil Jani yah, Yul," ucap lelaki itu kemudian dengan santai.


"Ih apaan? Uang gue sayang, Angga," balas Yuli kemudian, tentu saja dia tidak terima.


"Gak apa, nanti gue ganti? Lo kan sakit Yul," balas Angga lagi.


Yuli kemudian mengangguk pasrah, Angga itu keras kepala. Sebenarnya Yuli bisa saja terus debat sampai dia menang, tapi demi apapun untuk sekarang banyak bicara malah membuat dia makin pusing. Angga senyum bangga, kemudian menepuk-nepuk pucuk kepala Yuli.


"Ya, Yuli ntar bareng gue yah," ucap Angga dan kemudian dibalas oleh acungan ibu jari sama oleh perempuan yang dia panggil namanya.


Kemudian Angga berdiri, saat bertanya pada Jani dia memang sudah selesai makannya. Jani juga sudah, tapi perempuan itu masih menikmati kopinya. Tak heran juga, karwna dua orang ini pesn makannya tidak banyak-banyak.


"Gue mau ke supermarket dulu ya? Beli air buat dijalan, kalian mau nitip gak?" Tawar Angga kemudian.


"Beliin kopi kalengan sama permen yang kayak dari Dian tadi dong," balas Jani cepat.


"Kopi? Serius? Lo mau mabok kopi apa gimana?" Sahut Dzikya heboh membuat Jani hanya membalas dengan delikan, "Yah nggak buat sekarang juga Kya," balas Jani cepat.


"Oke, kopi sama permen kaki bukan Di?" Dian mengangguk.


"Ada lagi gak titipannya?"


"Gue nitip air dong, tiga botol deh, sama minuman yang jeruk-jeruk gitu satu," jawab Dzikya.

__ADS_1


Yuli melirik pada laki-laki bermata sipit itu, dalam hati bertanya kenapa Dzikya udak kembung-kembung padahal sudah nyaris menghabiskan dua botol air.


"Gue mau permen juga dong Ga, tapi yang asem-asem. Terus sama minuman teh gitu dong, dua botol." Kali ini Dian yang berbicara..


"Lo mau gak Yul?" Tanya Angga kemudian dijawab gelengan sama Yuli.


"Gue suka mual kalo di jalan, tapi beliin air aja deh," balas Yuli.


Angga mengangguk paham, "Yaudah gue kesana dulu."


Hidden Love


"Lo ditengah aja, Yul," ucap Dzikya saat Yuli akan masuk ke mobil Jani pertama, yang artinya Yuli akan duduk diujung.


"Gue diujung aja, biar bisa nyender Dzik," balas Yuli kukuh.


Angga menghela napasnya, Jani mulai menyalakan mesin mobilnya, "Naik gih! Gue gak mau ketinggalan," balas Jani ketika melihat mobil milik Bu Rere sudah mulai melaju.


Setelah Dzikya masuk, mobil itu kembali jalan.


"Sampai," ucap Angga lalu mematikan mesin mobilnya. Tidak ada tanggapan dari teman-temannya, pada tepar.


Angga melihat satu-persatu mulai dari Jani yang duduk disebelahnya, Dzikya sama Dian yang tidur dengan posisi saling menyandar juga Yuli yang tidur memakai pillow neck-nya.


Dian tidakk kebagian menyetir karena Jani keblablasan dan terus menyetir hingga setengah jatah Angga. Angga saja kebagian menyetirnya tak lebih dari dua jam. Kondisi yang tidak macet juga keadaan mobil yang tenang membuat Angga berusaha supaya tidak mengantuk. Terlebih suasana mobil juga jadi tenang karena pada ketiduran.


Angga membuka sabuk pengamannya kemudian laki-laki itu tersenyum kecil ketika matanya melihat temen-temannya yang lain turun dari bis dengan lumayan berisik.


"Nyampe ya?" Tanya Jani terdengar lirih.

__ADS_1


"Iya, turun gih. Mobil gue aja yang parkirin," balas Angga kemudian diangguki sama teman sebangkunya.


Jani tidak langsung mengikuti ucapan Angga, perempuan itu malah membuka kopi kalengannya dan meminum minuman kafein itu sedikit demi sedikit.


"Kunci dong."


"Buat apaan?"


"Buka bagasi, Angga."


Angga mengangguk kemudian menyerahkan kunci mobil itu ke Jani, dalam hati merutuk karena tidak cepat peka dengan keinginan seseorang. Barulah setelah menerima kunci mobilnya Jani turun dari mobil.


Angga berbalik kemudian dia menepuk-nepuk pipi Dzikya supaya sahabatnya itu bangun.


"Dzik, ada Menma," ucap Angga membuat laki-laki itu langsung duduk tegak dan otomatis membuat Dian yang bersandar pada pundak Dzikya terganggu dan ikut terbangun.


"Mana Menma? Mana?" Tanyanya dengan mata yang masih tertutup.


"Gak ada, buruan turun. Udah nyampe kita," balas Angga membuat Dzikya langsung mencibir ke arahnya. Dian menggosok-gosok matanya, kemudian perempuan itu dengan lesu mendorong-dorong Dzikya supaya buka pintu dan turun. Dzikya dengan sama lesunya langsung turun dari mobil.


Angga menghela napas, tinggal Yuli sekarang. Angga tidak enak untuk membangunkan anak ini. Laki-laki itu kemudian ikut turun dan membuka pintu mobil yang dekat dengan Yuli, dia menyentuh dahi Yuli, mengecek ulang suhu badan anak ini. Setelahnya Angga mengusap kepala Yuli lalu menepuk pelan pipi perempuan itu.


"Bangun Blis, udah nyampe."


Yuli langsung membuka matanya, perempuan itu mengerjapkan matanya sebentar kemudian mengangguk dan mendorong Angga pelan supaya tidak menghalangi jalannya.


Kemudian dengan lesu juga Yuli jalan menghampiri Kia yang sedang rusuh membawa barang bawaannya ditambah punya Yuli.


Angga ketawa kecil.

__ADS_1


"Misi Pak, mobilnya tolong di parkirin dulu. Ngebucinnya ntar aja," celetuk Dzikya merusak suasana.


__ADS_2