
"Ini makan dulu," pinta Adit. Mereka kini duduk di sofa. Menonton TV bersama menghabiskan malam.
"Terimakasih," ucap Dyana. Adit memberikan sepiring nasi dengan lauk lengkap. Tidak lupa dengan minumnya.
Adit begitu perhatian sampai-sampai dirinya tidak duduk hanya menunggu Dyana selesai berganti baju. Ia takut kalau Dyana menyimpan masalahnya sendiri lalu melakukan hal yang tidak ia inginkan.
Adit tidak lepas memandangi Dyana yang sedang makan. Dyana memang makan, tapi matanya kosong memandang bola matanya sendiri.
Adit geram melihat Dyana, langsung saja dia mengambil alih piring yang masih penuh.
"Ayolah makan Dy! Nanti kalau kau sakit, aku dimarahi Bibi!" bujuk Adit. Dyana sadar dia bak anak kecil yang sedang ngambek tidak dibelikan permen. Dia tersadar.
"Maaf Kak, sini aku makan sendiri aja! Kakak mau?" Adit heran melihat perubahan sikap Dyana yang cepat berubah. Dia ikut tersenyum.
Adit mengambil hp Dyana. Mereka sudah biasa saling pinjam benda pipih masing-masing. Dyana pun membiarkan kakak sepupunya memainkan ponsel bututnya. Adit menggeser-geser santai hp yang bukan miliknya. Dyana masih tetap memaksakan dirinya makan, walaupun air matanya tak jarang ingin keluar.
Kening Adit tiba-tiba mengerut. Satu pesan dari instagram masuk. Bukan karena ada DM yang membuatnya penasaran, tapi nama sang pengirim pesan. "Yamada" begitu yang nama yang tertera dengan huruf hiragana. Adit melanjutkan jurusan bahasa satu tahun sewaktu di desa.
Adit tak langsung mengatakan pada Dyana. Dia harus melihat pesan yang masuk terlebih dahulu.
"Konbawa, hello Dyana. I wanna ask you about something that we have talked at restaurant!"
Begitu pesan yang masuk dengan campuran dua bahasa. Adit makin heran membaca pesan tersebut dengan gaya yang sudah kenal.
Dyana sudah menghabiskan isi piringnya. Dia menenggak minumnya hingga tandas. Melihat itu, Adit langsung menanyakan.
"Siapa ini, Dy?" Adit bertanya penasaran memperlihatkan layar handphone.
__ADS_1
Dyana memperjelas pengelihatannya, karena ia juga lupa siapa sang pengirim pesan.
"Oh, dia pelanggan pertama tadi pagi Kak." Dyana mengambil alih hpnya untuk membalas.
"Kenapa bisa tahu akunmu?" Adit tak berhenti heran.
"Iya, dia yang menanyakannya karena ingin bertanya tentang kuliner dan budaya di sini." Dyana fokus mengetik.
"Oh begitu," ucap Adit. "Kerja bagus!" lanjutnya mengelus pucuk kepala Dyana lalu berjalan meninggalkan Dyana yang masih duduk dengan piring kotornya.
"Kakak tidur duluan!" Adit berjalan menuju ke kamarnya.
Dyana menjawab dengan lambaian tangan sambil tersenyum.
Sastra menghidupkan lagu pada speakernya. Dirinya benci otakknya sama sekali tak patuh. Hanya lagu yang mungkin mengalihkan pikirannya sejenak. Dinginnya air masih merasuk di pori-pori kulitnya. Lagu Michael Bolton yang menemani lamunannya.
When I heard the news today
I had to come and get it straight from you They said you were leavin'
Someone's swept your heart away
From that look upon your face, I see it's true So tell me all about it Tell me 'bout the plans you're makin'
Oh, tell me one thing more before I go
Tell me how am supposed to live without you? Now that I've been lovin' you so long
__ADS_1
How am I supposed to live without you?
And how am I supposed to carry on?
When all that I've been livin' for is gone
I'm too proud for cryin' Didn't come here to break down
It's just a dream of mine is coming to an end And how can I blame you
When I build my world around
The hope that one day
We'd be so much more than friends
I don't wanna know the price I'm gonna pay for dreaming
Oh, even now it's more than I can take
Tell me how am supposed to live without you? Now that I've been lovin' you so long
How am I supposed to live without you?
And how am I supposed to carry on?
When all that I've been livin' for is gone
__ADS_1