
Mereka pun tiba di cafè, tidak terlalu lelah berjalan karena memang hanya sekitar lima ratus meter.
Teh hijau dan roti khas sana yang dipesan keduanya. Sastra kembali membuka pertanyaan.
"Bagaimana kabar Yamaki?" tanya Sastra.
"Dia baik, tapi sekarang masih di Bali liburan dengan keluarganya," jelas Yuki.
"Lalu bagaimana kelanjutan hubungan kalian?" tanya Sastra lagi.
Pelayan cafè datang membawakan pesanan. Yuki tak menjawab dulu apa yang ditanyakan kawannya. Setelah disajikan, Yuki langsung menyeruput tehnya. Tak lupa ia mempersilahkan Sastra untuk minum dulu.
"Sejauh ini hubungan kami baik, dia sangat setia denganku. Walau dekat dengan cewek lain tapi aku memakluminya karena dia suka berteman dan ramah," jelas Yuki setelah menaruh secangkir teh itu.
"Baguslah, kalian memang sangat cocok. Apalagi sudah berteman sejak kita kecil. Lalu Yuki kenapa tidak ikut ke Bali?" Sastra berganti menyeruput tehnya.
"Aku harus mengurus pendaftaran di kampus," jawab Yuki. "Terus, kenapa Sastra tidak pernah bilang kalau akan melanjutkan sekolah di sini?" lanjut Yuki.
Sastra tersedak saat tiba-tiba ditanya begitu. Sungguh aneh alasannya kalau menjadikan Jepang sebagai pelarian. Yuki kemudian mengambilkan tisu.
"Hati-hati," kata Yuki heran.
"Tidak apa-apa," jawab Sastra. "Aku juga sama bermimpi untuk menjadi dokter, selain itu aku bisa sedikit menjauh dari segala ketidaknyamana," terangnya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?" Yuki merasa tidak enak saat melihat semburat sedih di wajah kawannya.
"Tentu."
Tidak ada perbincangan lagi, mereka menghabiskan roti dan tehnya. Suasana dingin sangat cocok ditemani teh.
Karena lama tak bertemu, Yuki menawarkan untuk berjalan-jalan di sekitaran kota. Sastra pun mengiyakan. Ia tak dapat menolak walau lelahnya dalam perjalanan dari Indonesia masih terasa.
Yuki adalah pribadi yang menyenangkan, ceria dan tidak kehabisan topik untuk berbincang. Kepekaannya menanyakan semua membuat Sastra heran. Seperti pertanyaannya kali ini, "Apa kamu sudah punya pacar?"
Deg.
Gejolak rindunya yang ditahan dengan sangat kini malah dengan mudah dibuncahkan kembali.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung." Yuki melangkah mengekori Sastra.
Yuki beranggapan kalau perubahan ekspresi Sastra saat ditanya kenapa melanjutkan sekolahnya di Jepang karena masalah baru putus dari pacarnya.
Iya, memang Sastra baru putus dari Sekar. Lalu pupus karena ditolak Dyana.
"Tidak apa, lagi pula kami memang sudah tidak cocok." Sastra terus melangkah. Yuki hanya mengikuti dengan perasaan bersapah menanyakan perihal tersebut.
"Baiklah, tidak usah dibahas lagi." Yuki mengembangkan senyumannya bertujuan menularkan pada Sastra. Tapi, nyatanya wajah Sastra tetap datar.
__ADS_1
Mereka berjalan dalam keheningan. Yuki takut bertanya lagi dengan Sastra.
"Bagaimana kabar adikmu?" Sastra bertanya memecah keheningan.
"Dia baik, sekarang dia sudah SMP."
"Apa dia masih suka bermain piano? Aku lihat adikmu begitu berbakat," tanya Sastra mulai ramah. Ia merasakan kecanggungan.
"Dia sangat menyukai piano. Tsumiko sampai les pribadi di rumah. Dia juga pernah ikut lomba dan juga pesta. Banyak orang yang suka permainannya," terang Yuki.
"Dia pasti akan menjadi cowok yang memikat hati," canda Sastra.
Yuki hanya membalas dengan cengiran.
Hawa dingin membuat mulut mereka seakan mengeluarkan asap tipis ketika berbicara.
"Apa kamu tidak kedinginan hanya memakai baju ini?" Dilihatnya Yuki nampak merasa biasa meski bajunya tak setebal yang dipakai Sastra.
"Aku sudah biasa," jawab Yuki. "Oh ya, bagaimana kalau nanti kita mendaftar bereng?" tawar Yuki.
"Boleh. Hanya Yuki temanku saat ini." Sastra tertawa.
Mereka pun pergi ke berbagai tempat umum yang sering dikunjungi banyak orang untuk membius rasa penat.
__ADS_1