Hidden Love

Hidden Love
13. Pinggir Jalan


__ADS_3

Yuli tengah tenggelam dalam acara yang ditontonnya, dia fokus sambil mengunyah cemilan rasa kejunya sebelum dering ponselnya berhasil memecahkan fokus Yuli.


Dengan gerakan malas Yuli mengambil ponselnya yang ada di sebelahnya, matanya refleks membulat begitu nama Angga yang terpampang disana. Demi apa Angga sampai meneleponnya? Biasanya chat saja Angga hanya terhitung jari.


Tanpa pikir panjang, dia angkat telepon itu.


"Halo?" Yuli meringis begitu mendengar suara Angga, suara laki-laki itu terdengar serak.


"Y-ya?"


"Yul, gue ganggu gak?" Yuli mengernyit, karena tumben sekali Angga memanggilnya dengan nama. Ditambah suara serak tadi, Angga sepertinya baru saja mengalami hal yang berat.


"Kok diam?"


Yuli langsung tersadar dari lamunannya, "Nggak. Gak ganggu kok. Gue lagi gabut juga," jawab Yuli cepat.


"Ini jam berapa?"


Yuli langsung menoleh untuk melihat ke arah jam dinding yang ada diatas TV, "Setengah sepuluh, malem kalo Lo lupa."


"Kok belum tidur?" Nada Angga kedengaran beda lagi, kali ini terdengar pasrah, itu yang ditangkap Yuli.


"Besok libur, jadi gak apa kalo bergadang."


"Keluar yuk?" Yuli melotot, lalu dia menjauhkan ponselnya dari telinga dan memastikan apa benar seorang Angga yang bicara itu.

__ADS_1


"Hah?"


"Bisa gak? Gue ada di depan rumah Lo, soalnya."


Tanpa banyak omong, Yuli langsung turun dari sofa dan jalan ke arah pintu depan. Matanya melotot lagi begitu dia melihat Angga yang tersenyum ke arahnya dengan earphone yang terpasang di kedua telinganya dan duduk diatas motor.


"Mau gak?"


"B-bentar gue ganti baju dulu?" Sejujurnya, Yuli malu karena Angga ngelihat dia dengan keadaan yang pakai piyama juga rambut acak-acakan.


"Gak apa. Pake itu aja, gak akan jauh kok. Gak enak, yakali gue bawa jauh anak gadis malam-malam gini," ucap Angga kemudian terkekeh.


"Pake jaket aja gih, rambutnya disisir dikit," sambung Angga dan Yuli hanya menanggapi dengan anggukan sebelum berlari kecil kembali masuk ke rumahnya dengan tujuan kamarnya.


Yuli mendekatkan ponselnya pada mulutnya, "Angga bangsat," umpat dirinya kemudian mematikan sambungan telepon itu. Dia sengaja.


"Suka bakso gak?" Tanya Angga seraya menyalakan mesin motornya.


"Lebih suka mie ayam sih," jawab Yuli dengan santai.


"Mie ayam? Ada kok. Kita ke langganan gue, mau yah?" Tanya Angga lalu memakai helmnya sendiri.


"Udah malem, masa makan? Nanti gue gendut ih Ga," rengek Yuli begitu saja. Tidak mengingat siapa yang tadi memakan cemilan sambil nonton.


Angga tersenyum, "Sesekali gak apa kali Yul," jawabnya lalu memakaikan helm satunya di kepala Yuli.

__ADS_1


Yuli mengangguk pasrah.


"Lah kok gue baru tahu disini ada kang bakso," ucap Yuli begitu mereka sampai di tempat Bakso Pengkolan, langganannya Gamers Kelas.


"Makanya, kalo makan jangan ke kafe-kafe mulu. Makanan di pinggir jalan kek gini lebih enak tahu!" Ucap Angga lalu melepas helmnya dan merapihkan sedikit rambutnya sembari melihat ke arah kaca spionnya.


Yuli turun dari motor Angga lalu berjalan, berniat mendahului Angga. Sebelum, "Heh Blis! Helmnya lepas dulu!"


Yuli kembali lagi sambil menahan malu. Lalu melepas helmnya dengan gerakan kaku dan menyerahkannya pada Angga. Angga Hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa konyol.


Sesudah memastikan kalau motornya akan aman diparkir disalah satu titik sekitaran tempat itu, Angga langsung menyusul Yuli yang sudah lebih dahulu masuk. Dia lupa tidak menyuruh perempuan itu untuk memesankan punyanya juga, tapi tak apa toh pedagangnya sudah akrab dengan dia, biasanya juga Gamers Kelas kalau kesini sering didahulukan.


"Pak, temen saya yang itu udah pesen?" Tanya Angga ke penjualnya sambil menunjuk ke arah Yuli yang sudah duduk disalah satu meja disana sambil memangku kepalanya.


"Eh Mas Angga, udah toh Mas. Dia mesen mie ayam, Mas mau pesen juga?"


Angga tersenyum miris, sudah ia duga Yuli tidak akan memesankan punyanya, "Iya Pak, kayak biasa ya?"


Penjualnya mengangguk, "Siap Mas, ditunggu aja ya!"


Angga mengangguk kemudian berjalan menuju Yuli yang sudah terlihat bosan. Meski sudah hampir larut, tempat ini masih ramai. Setahu Angga, tempat ini bukanya 24 jam. Terlebih sekarang hari Sabtu, banyak yang melaksanakan yang namanya 'malam minggu'.


"Yul, mesen apaan?" Padahal Angga sudah tahu, tapi tetap ditanyakan lagi supaya mereka ada obrolan.


"Mie ayam. Lama banget loh Anggaaa," rengek Yuli lagi.

__ADS_1


Angga tertawa kecil, ini Yuli sadar atau tidak sih kalau dirinya tengah merengek pada Angga?


__ADS_2