
Beruntung Sekar sudah selesai diperiksa. Dari razia hari ini, tidak ada yang positif menggunakan obat terlarang atau pun membawanya masuk.
Sekar yang terjatuh akhirnya diangkat oleh Dendy. Ia membawa Sekar menuju ke sofa di pojok sana. Teman Dendy yang lain disuruh mendahului ke kantor, karena ia masih ada urusan.
"Sekar!" Dendy mengguncang bahu Sekar.
Sekar merasakan semua yang terjadi padanya, tapi tubuhnya seakan mati. Ia tidak bisa bergerak, padahal otakknya ingin sekali bangun.
Sekar pun akhirnya tidur, kepalanya benar-bemar pusing. Ia seperti tidak memiliki tenaga walau hanya untuk melentikkan jarinya.
Dendy terpaksa menunggu Sekar bangun di klub itu. Saat ini, semua orang sudah pergi. Sebab ada razia, para pengunjung enggan untuk melanjutkan kesenangannya.
'Kenapa dengan Sekar.' Dendy menangkup wajahnya sendiri. Ia juga tidak tahu kenapa, rasanya campur aduk melihat wanita itu mabuk berat. Dendy merasa tertegun akan kelakuan Sekar, tapi ia juga merasa khawatir. Seperti ia merasakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada wanita yang kini masih tertidur di sofa.
Dendy bosan menunggu, akhirnya ia berinsiatif membawa Sekar ke rumahnya. Karena ia pun tidak tahu dimana rumah Sekar.
__ADS_1
Dendy kembali mengangkat Sekar. Rasanya ia tak tega melihat perempuan yang sedang dipangkuan tangannya.
"Bahkan aku sudah sebesar ini belum pernah mabuk berat," gumam Dendy. Ia segera menuju ke taxi yang sudah dipesan.
Mereka pun sampai di rumah yang begitu mewah dengan gaya klasik. Tidak megah tapi minimalis.
Semua penjaga rumah menyaksikan Dendy dengan tatapan aneh.
"Pak, Anda membawa siapa?" Tanya penjaga depan keheranan. Bagaimana tidak, Dendy membopong seorang wanita dengan tergesa-gesa.
Dendy hanya membalas dengan anggukan dan langsung berlalu masuk ke dalam rumah. Rumah itu adalah rumah miliknya, ia tinggal sendiri karena ditugaskan di daerah itu.
"Aku malam ini tidak bisa bertugas. Tolong gantikan tugasku untuk malam ini." Suruhnya melalui telepon pada temannya.
Selepas itu, Dendy langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia merasa sangat lelah, seharian ini tugasnya sangat banyak.
__ADS_1
Sekar mengerjap, ia merasakan perutnya seakan ada yang mengaduk. Tanpa basa-basi ia langsung bangun.
Tapi Sekar tertegun. Ini bukan kamarnya. Lalu, dimana dirinya?
Perutnya kembali meronta, sesuatu seperti memaksa untuk keluar dari kerongkongannya. Sekar melihat ada pintu di pojok sana. Ia langsung menuju ke sana.
"Uekk…." Sekar muntah, namun hanya cairan yang keluar dari mulutnya.
Ia berjongkok di depan kloset, kepalanya benar-benar pusing. Ia merasa sangat tidak enak sekarang ini. Rasanya ia ingin langsung mati tak sadarkan diri. Sekar memeluk lutunya sendiri, ia masih merasa frustasi walau minuman dan rokok sudah ia tandaskan semua. Stresnya tak berkurang tapi mual yang ia rasakan saat ini malah sangat mengganggu.
Sekar kembali berdiri, ia lagi-lagi muntah. Seakan-akan usuanya juga akan ikut keluar. Ia tak kuasa menahan pusing kepalanya dan sekarang ia terus muntah. Sekar pun menangis sejadi-jadinya mengacak rambutnya kasar. Meski ia belum tahu dimana dirinya, namun ia tak peduli. Yang ia inginkan hanyalah bagaimana pusing dan mualnya segera enyah.
Dendy keluar dari kamar mandi. Ia sudah memakai baju tidur. Dengan segera ia menuju ke kamar tamu. Dendy ingin melihat kondisi Sekar saat ini.
Dilangkahkan kakinya menuju keluar kamar. Tanpa mengetuk pintu Dendy segera masuk kamar itu karena Dendy menganggap Sekar masih tidur.
__ADS_1
Betapa terkejutnya, ia tak melihat Sekar di atas ranjang. Tapi, ia mendengar suara air dalam kamar mandi. Dendy langsung berlari memastikan.
"Sekar?!"