
"Anak-anak coba salah seorang ada yang delivery makanan." Bu Rere memulai percakapan mereka di malam itu. Jam sudah menunjukkan pukul 11.23 tapi semuanya masih membuka mata dan terlihat segar, mungkin karena kebanyakan tidur dijalan.
"Yang Angga aja Bu, ada vouchernya."
"Yuli bisa Bu."
Dua orang berbicara secara bersamaan itu langsung menoleh dan membuat mata keduanya bertemu. Bu Rere mengeluarkan senyum, "Yaudah pesennya satu-satu dari kalian berdua. Eh bebas sih, siapa tahu kalian mau dari banyak restoran kan."
Sebenarnya, hampir semua guru yang mengajar di kelas mereka tahu bagaimana hubungan Angga dan Yuli. Dua orang itu sempat beberapa kali berdebat kala jam pelajaran. Tentunya bukan debat tentang pelajaran. Sekalinya berdebat tentang pelajaran dapat dipastikan kalau yang didebatkan hanyalah 'siapa yang nilainya paling besar'.
Makanya Bu Rere hanya tersenyum maklum begitu melihat interaksi dua orang ini, dia juga sudah kebal ketika guru lain mengadukan dua orang ini padanya karena menganggu suasana mengajar.
"Memangnya mau pesan apa?" Tanya Angga kemudian.
Bu Rere tampak menatap anak muridnya, memberi isyarat agar mereka saja yang memilih makanannya.
"Pizza saja deh? Biar gak ribet?" Usul Dhimas kemudian.
"Oh iya, kelas sebelah bagaimana?" Tanya Yuli. Ingat kan kalau kelas 11-H tidak satu atap dengan mereka?
"Mereka sudah ibu suruh untuk pesan makanan kok," balas Bu Rere yang kemudian diangguki oleh beberapa muridnya.
"Pizza nih? Empat kotak muat gak?" Tanya Angga memastikan.
"Kebanyakan, dua aja," balas Pitri dan disetujui oleh teman-temannya.
Angga mengangguk paham, "Yul pesennya di gue, Lo beli yang lain aja."
"Pizza aja?" Balas Yuli kemudian.
"Beli kopi dong!" Sahut Jani cepat.
Dzikya mendelik, "Kopi TEROS!" Lama-lama merasa gemas sendiri dengan tingkah Jani yang masih menginginkan kopi sementara di genggamannya masih ada kaleng kopi yang tampaknya baru dihabiskan perempuan itu.
"Biarin," balas Jani kemudian, acuh. Dian yang ada di tengah-tengah mereka hanya memejamkan mata menahan amarah dan mencoba untuk bertahan agar tidak cepat mengamuk, gengsi ada Bu Rere soalnya. Bagaimana Dian tidak kesal? Kedua anak ini berbicara tepat ke telinganya, kiri dan kanan. Belum lagi tadi Dzikya sempat berteriak.
"Yaudah Angga pesankan pizza, Yuli kamu ke minimarket aja buat beli minumnya. Bagaimana?" Tanya Bu Rere yang kemudian diangguki oleh dua orang itu.
"Ada yang mau nemenin gue gak?" Tanya Yuli sambil berdiri, bagaimanapun ini sudah malam, rasanya risih kalau dia keluar sendiri.
"Gue aja deh Yul, mau beli kopi," sahut Jani kemudian dan ikut berdiri. Perempuan itu membenarkan jaket biru bergarisnya yang sudah menjadi ciri khasnya kemudian menghampiri Yuli.
__ADS_1
Jani itu bagaimana ya orangnya? Yuli sudah dua tahun sekelas dengan Jani, tapi dirinya belum bisa menyimpulkan mengenai kepribadian perempuan ini.
Di tahun pertama, Jani itu sedikit antisosial menurut Yuli, karena Jani terkesan menghindari obrolan dengan anak kelas lainnya, Jani lebih sering mengobrol dengan orang-orang yang duduk didekatnya. Yuli bilang sedikit karena ketika dihampiri Jani masih menjawab, dia bisa berekspresi walau masih terlihat cenderung tidak peduli.
Sebenarnya Jani dulu lebih sering dipanggil dengan nama depannya, Naya, Naya Janiar. Entah kenapa sekarang Jani lebih sering dipanggil Jani, Yuli saja ikut-ikutan memanggil perempuan itu dengan Jani.
Nah disini perubahan Naya menjadi Jani. Di kelas 11-C, yang Yuli amati Jani itu awalnya saja menghindar semakin lama Jani lebih sering bergaul. Terlebih Jani menjadi lebih aktif setelah mengaku fujoshi bersama Dian, menuruti permintaan untuk menulis cerita dari beberapa anak kelas dan Naya Janiar menjadi lebih sering dalam mode Jani dibandung Naya. Itu dikelas, di luar dia masih tetap menjadi Naya.
Yuli juga awalnya biasa saja saat tahu Angga dan Jani menjadi teman sebangku, dua orang itu berinteraksi ketika perlu dan lebih sering terlihat mengobrol ketika mereka duduk di bangkunya. Yuli tidak menaruh curiga pada keduanya, tetapi ketika dua orang ini mengulur-ulur untuk memberikan konfirmasi keikutsertaannya, dan sama-sama tidak memberikan alasan atas keputusan mereka yang hanya bisa tiga hari ditambah dengan Angga yang meminta Jani agar bisa ikut satu mobil dengan perempuan itu, Yuli merasa tidak enak. Dari situ dia jarang memandang Angga dan Jani sebagai teman sebangku lagi.
"Yul, jangan ngelamun gak baik," celetuk Jani yang langsung membuat Yuli tersentak.
"Tenang aja kali, gue sama Angga cuma teman sebangkunya," sambungnya lagi dan berhasil membuat Yuli tersedak ludahnya sendiri. Bagaimana Jani bisa tahu?
"Gue juga masih Naya Janiar, bukan Naya ataupun Jani. Nah itu kulkasnya," ucap Jani acuh dan berjalan menghampiri jajaran lemari pendingin di Minimarket itu. Mengabaikan Yuli yang terdiam, merasa terkejut karena Jani tampaknya mengetahui apa yang dia pikirkan. Yuli tidak menyuarakan isi pikirannya, dia lebih memilih mengikuti langkah Jani dan ikut memilih minuman yang sekiranya disukai oleh teman-temannya.
"Loh Yuli?" Yuli langsung menoleh begitu mendengar namanya disebut. Perempuan yang tadinya sedang sibuk memilih minuman dingin itu balas tersenyum begitu matanya mendapati Anti yang tersenyum padanya, sepertinya laki-laki ini juga kebagian jatah belanja seperti dirinya.
"Sendirian aja?" Tanya Anto.
"Gu—"
"Yul, gue bayar sendiri aja yang ini ya." Ucapan Yuli terpotong oleh suara Jani membuat Yuli langsung mengalihkan fokusnya pada teman sebangku Angga itu. Jani menunjukkan dua kaleng kopi dan kemudian Yuli mengangguk paham.
"Ini minumannya beli berapa biji dah?" Tanya Jani yang tampaknya tidak begitu memperdulikan kehadiran Anto, toh dia memang tidak begitu kenal dengan lelaki itu, Jani hanya sebatas tahu saja. Terlebih dia dan Anto tidak ada urusan apa-apa, rasanya ia tidak begitu perlu untuk memberi perhatian kepada laki-laki itu. Maklumi, Jani memang seperti itu.
"Oh gitu, gue duluan yah. Udah beres kok ini," balas Anto cepat dan tersenyum kaku, mungkin canggung karena Jani. Laki-laki itu kemudian tanpa kata pergi menjauh dari keduanya.
"Lo sadar ada Anto gak sih, Jan?" Jani menoleh ke arah Yuli dengan alis yang terangkat, kemudian dia mengendikkan bahunya acuh, "Nyadar cuma gue gak peduli, toh gak ada urusan sama gue kan?" Balas Jani membuat Yuli tergelak, padahal tidak ada yang lucu dari ucapan Jani.
"Kak Naya?" Lagi-lagi Yuli yang pertama menoleh ke asal suara. Setelah tahu, Yuli melirik kecil ke arah Jani yang kali ini terlihat jelas pura-pura sibuk memilih minuman.
"Kak Yuli kan?" Tanya laki-laki yang memanggil Jani pakai nama depannya tadi lagi.
Yuli mengangguk dan memberi senyuman pada laki-laki yang tampaknya adalah adik kelasnya itu. Dia pernah beberapa kali melihat laki-laki ini, laki-laki ini juga beberapa kali ada di postingannya Hana, hanya saja Yuli lupa namanya.
"Kak Naya lagi badmood yah, Kak Yul?"
Yuli tampak tersentak, kemudian menggeleng, "Dia pura-pura gak denger Lo kali." Setelahnya Yuli menerima satu cubitan di pinggang. Meski sakit tapi Yuli malah tersenyum miring.
"Lo siapa?" Tanya Yuli kemudian.
__ADS_1
"Oh? Haris Kak," balas laki-laki itu langsung."
"Haris? Adiknya Hana dong?"
Laki-laki yang mengaku bernama Haris itu mengangguk untuk balasan atas ucapan Yuli. Dia mengeluarkan senyumannya sembari menatap Yuli sekilas, "Adiknya Kak Hana cerewet, iya hehe."
"Oh Lo nyusulin kesini?" Balas Yuli lagi
Haris menggeleng, "Ini memang kampung halaman saya Kak, ini juga mau ke rumah Bu Rere buat nyusulin Kak Hana. Soalnya Kak Han susah diajak kesini," jelasnya kemudian.
"Terus kenapa Lo disini? Nyusul Jani?"
Haris menggeleng lagi, "Nggak lah, masa saya ke rumah saudara gak bawa apa-apa. Mana udah malem lagi, Jani saya inisiatif bawa cemilan dulu. Curiga juga kalau Kak Han gak mau berangkat malam ini. Terus nyamperin dan ketemu Kak Naya disini, hehe."
"Hehe hehe," celetuk Jani, mengikuti gaya bicara Harus namun lebih terlihat seperti mengejek.
"Ketemu Kak Naya aja nih? Gue yang daritadi ngajak ngobrol Lo apaan ya?"
Haris tampak menunjukkan raut terkejut, kemudian mengusap tengkuknya canggung "Sama Kak Yuli juga, hehe."
"Hehe hehe," cibir Jani lagi.
Haris jalan menghampiri Jani, "Kak kalo marah bilang dong. Aku kan kemarin cuman nemenin Ria aja," ucap laki-laki itu kemudian.
Oke, Yuli sekarang paham alasan yang mungkin sampai Jani mengabaikan laki-laki ini, mau menyela tapi dia suka menonton drama orang.
"Nggak anjir, saya cuma ngantuk" balas Jani dengan ceoat.
Yuli tertawa merasa aneh dengan gaya bicara Jani.
Haris cemberut, "Ih jangan gengsi Kak, ntar aku diambil orang kakak nangis."
Yuli kemudian diam, tiba-tiba merasa tertohok.
"Apaan? Saya sayang Yasa, ya. Dan kamu sayang Ria, jangan bercanda seperti itu terus. Nanti saya adukan pada Hana," balas Jani lagi.
Yuli mengernyit tidak paham arah obrolan dua orang ini. Meski dirinya tidak asing dengan nama yang Jani sebutkan tadi. Yasa? Kalau tidak salah itu nama pacarnya Jani, kelas pernah heboh karena Jani memposting pernyataan kalau dirinya akan potong rambut dengan latar seorang laki-laki yang wajahnya ditutupi stiker.
Yuli membasahi bibir bawahnya, baru menyadari sesuatu.
Ia lupa kalau Jani punya Yasa, kalau begitu Angga bisa saja bukan dengan Jani
__ADS_1
Yuli sampai lupa kalau Kirana dekat dengan laki-laki itu juga.