
Antara Dita maupun Sastra tak ada yang membuka pembicaraan. Mereka sama-sama memikirkan sesuatu yang berbeda. Sastra memikirkan seseorang yang dicari sedangkan Dita masih tak percaya dengan kejadian hari ini. Dirinya diputuskan sepihak. Walaupun itu benar salahnya sendiri.
Karena dirasa sudah hampir dekat dengan perumahannya. Dita akhirnya berbicara, "Kamu dari sini belok kiri. Disana perumahan DJati Dharma. Rumah nomor 17."
Sastra menoleh saat orang disampingnya mengatakan perumahan Djati Dharma.
"Dimana?" Tanya Sastra memastikan.
Dita memutar bola mata malas, "Perumahan Djati Dharma rumah nomor 17." Katanya dengan penuh penekanan takut orang disampingnya tak mendengar.
"Tunggu sebentar." Sastra langsung membelokkan mobilnya ke kiri tepatnya di depan perumahan tersebut. Seingatnya itu adalah alamat yang dibilang Ibunya Dyana. Maka dari itu Sastra menepi sebentar untuk melihat note di handphonenya memastikan.
Dita yang melihat enggan bertanya, toh dirinya hanyalah menumpang. Jadi, Dita merasa tak pantas akan urusan pribadi cowok disampingnya. Kalau saja ini belum malam mungkin dia akan memilih pulang sendiri.
"Benar. Tapi, rumah nomor berapa? Aah bodohnya aku yang tidak menanyakan nomor rumahnya." Sastra berbicara sendiri.
Kali ini Dita tak bisa cuek atau tidak terpancing dengan sesuatu yang telah terjadi pada orang yang mengantarnya.
"Kamu kenapa? Mau nyari alamat siapa? Aku orang asli sini, kalau mau tanya jangan sungkan-sungkan." Dita menawarkan bantuan.
"Hum, aku nyari seseorang. Katanya dia tinggal disini, tapi aku ngga tahu rumahnya nomor berapa. Jawabnya dengan harapan orang yang diantar bisa membantu.
__ADS_1
"Namanya siapa? Aku tahu semua penghuni di perumahan ini." Dita berkata sambil menyiapkan tasnya.
"Kalau ngga salah namanya Aditya Putra. Dia masih kuliah katanya."
"Kok katanya, disini ngga cuma satu yang punya nama kaya gitu dan kuliah juga." Dita ikut memikirkan orang yang dimaksud Sastra.
Tanpa menjawab Sastra mengambil kembali handphone-nya, kemudian menelpon seseorang.
Tut… tut…
"Hallo, Sastra. Kamu sudah sampai di kota, kan?" Belum sempat Sastra membuka percakapan, orang di seberang justru nampak khawatir.
"Hallo, Bu. Sastra sudah sampai di perumahan yang Ibu bilang tapi rumahnya nomor berapa, ya?"
"Waduh! Ibu tidak pernah menanyakan itu sama Adit. Coba saja kamu tanyakan dengan orang sekitar sana Sas. Ibu mohon, maaf juga telah merepotkan." Katanya memelas.
"Baik, Bu. Saya pasti akan membawa Dyana dengan selamat." Kemudian panggilan itu ditutup agar bisa segera melanjutkan pencarian.
Karena merasa informasi yang kurang, Sastra mencoba bertanya kembali pada Dita.
"Memangnya di sini ada berapa orang yang namanya Aditya Putra?"
__ADS_1
"Hum…" Dita memikir-mikir nama itu.
"Ada dua." Lanjutnya dengan jawaban pasti.
"Itu bukan banyak, cuma dua mah gampang." Sastra menimpali.
"Ya udah."
Sastra menyalakan mobilnya lagi, "Ya udah apa?"
"Yaudah kita cari." Dita bersemangat.
Sastra bingung saat Dita mengatakan kita, "Kita? Memangnya kamu mau bantu aku nyari orangnya?"
Lagi-lagi Dita memutar bola matanya dengan malas, "Iyalah, karena kamu sudah membantu aku sekarang giliran untuk membalasnya."
Sastra membalas dengan anggukan sambil tersenyum lalu melajukan mobilnya lurus.
"Kita ke rumah nomor 16 lalu ke nomor 18."
"Dekat dong sama rumah kamu." Sastra mulai akrab dengan Dita.
__ADS_1
"Iya, kalau gitu kamu antar aku pulang dulu. Nanti mobilnya taruh di rumah, kita jalan aja ke rumah itu."
"Baiklah." Kata Sastra bersemangat ingin segera menemui Dyana.