
"Yul, turun yuk. Jalannya jeda dulu buat makan siang," ajak Kia sambil memberi guncangan pelan pada tubuh Yuli yang tertidur. Yuli terbangun, merasa terganggu dengan gerakan Kia. Dia tidak protes, lebih tepatnya malas dan hanya pasrah ketika Kia menuntunnya untuk turun dari bis sampai ke tempat makan yang udah sewa sama Bu Rere yang sampai kesini lebih dulu.
Kia mengedarkan pandangannya, mencari meja kosong yang bisa dia sama Yuli isi. Kemudian perempuan berambut pendek itu tersenyum saat matanya menangkap Rifan, teman Anto yang tadi di bis duduk bersama mereka melambaikan tangannya ke arah Kia dan Yuli. Tanpa basa basi, Kia langsung menarik pelan Yuli untuk kesana.
Meja yang masing-masing terdiri dari empat kursi itu sekarang sudah penuh, tersisa satu meja lagi yang kemungkinan untuk rombongan Jani yang belum sampai.
"Lo mau gue pesenin apa, Yul?" Tanya Kia setelah keduanya duduk.
Yuli dengan gerakan lesu membaca satu-persatu menu yang tertempel di meja. Baru saja perempuan itu mau menunjuk ke arah salah satu nama menu yang ia inginkan, sebuah tangan menyentuh dahinya, membuat gerakannya terhenti.
"Dia mendingan, Ya?" Yuli langsung membulatkan matanya sewaktu yakin kalau suara barusan adalah suara Angga yang menyapa pendengarannya. Perempuan itu kemudian mendongak dan menemukan Angga yang melihat ke arah Kia dengan tatapan tanya.
"Tanya aja ke dia Ga," jawab Kia acuh. Kemudian perempuan itu dengan santai memilih menu yang sekiranya ia inginkan, dia sekarang sudah merasa agak santai karena Yuli sudah ada Angga.
Angga mengalihkan pandangannya, menjadi balas menatap pada Yuli. Cowok berambut hitam itu tersenyum kemudian menjauhkan tangannya dari dahi Yuli, faktanya perempuan ini tidak panas.
Angga kemudian membenarkan posisi kepala Yuli agak tidak mendongak, "Jangan dongak, pusing. Lo duduk sama gue aja yah?" Tanya Angga lalu tanpa menunggu jawaban Yuli, lelaki itu membantu Yuli untuk berdiri dan menuntun Yuli ke arah meja dia sama Jani, Dzikya dan Dian yang tampaknya masih sibuk memilih menu. Angga mengisyaratkan agar Jani bergeser kemudian dia menarik kursi kosong bekas Yuli tadi , berhubung meja mereka memang berdekatan.
Anto mengamati, mengabaikan Rifan yang bertanya kepadanya.
"Eh Yuli, Lo sakit yah?" Celetuk Dzikya begitu Yuli duduk.
"Udah minum obat belum Yul? Lo kan susah dikasih obat," sahut Dian langsung.
"Yuli biasanya pakai obat apa?" Kali ini Jani.
Yuli hanya mengerjapkan matanya dengan raut bingung, masih memproses apa yang terjadi. Kemudian dia meringis, "Gue cuma pusing kok. Gak mau gue minum obat, gak Jan gak usah," jawab Yuli langsung atas tiga pertanyaan yang dilontarkan oleh Dzikya, Dian dan Jani secara bersahutan.
"Oh yaudah. Lo mau makan apa?" balas Dzikya kemudian dengan acuh, dia memang seperti itu. Kalau orangnya tidak mau, Dzikya tidak akan ambil pusing.
Kemudian, Yuli menunjuk ke menu yang tadi dia gagal tunjuk karena Angga. Dan menu itu semacam ayam lumur saus pedas dan nasi serta satu gelas besar soda.
__ADS_1
"Oh yang itu, gue tulis yah," jawab Jani kemudian tangannya bergerak untuk menuliskan nama menu Yuli yang tampaknya pertama ditulis di kertas itu. Sebelumnya belum ada yang berhasil menentukan menu yang akan dimakan, baik Dian, Dzikya, Jani bahkan Angga. Angga mengambil alih pulpen yang Jani pegang. Laki-laki itu tanpa kata mencoret nama menu yang Yuli mau, membuat Yuli langsung menatapnya dengan tidak terima.
"Ih Angga kenapa di coret?" protes Yuli langsung. Angga menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menggerakkan jari telunjuknya, "No, no, no~ Yuli sakit dan iblis ini perlu makanan yang buat tubuh enak. Bisa lah buat ayamnya, tapi soda? Gak."
Tiga orang yang satu meja dengan mereka hanya menatap acuh kemudian sibuk beradu argumen mengenai menu makanan yang menurut mereka paling enak.
"Tapi mau~" rengek Yuli.
Angga tidak membalas, lelaki itu mengamati menu yang ada kemudian, "Ada sup cream, sebaiknya Lo makan gituan. Biar kenyang gue tambahin paket ayam yang gak pedas juga segelas teh hangat. Iblis bakal sembuh cepat dong~"
Yuli mencebik, "Kebanyakan Angga," jawab Yuli, protes lagi.
Angga tersenyum, "Yuli Lo kurus. Gue kasih makan banyak nih, mana ada setan baik kayak gue coba?"
"Ntar gendut Ga," balas Yuli lagi.
"Gak apa. Jangan diet, kalo kurus gak bisa gue uyel-uyel."
"Uhuk-uhuk! Air! Air! Air!" Dzikya tiba-tiba batuk lalu dengan santainya Jani melempar botol air yang ia bawa dari mobil. Botolnya saja, isinya tidak ada.
"Serah!" final Yuli, bingung harus membalas apa.
Angga mengeluarkan senyum penuh kemenangannya kemudian laki-laki itu menepuk-nepuk kepala Yuli, "Gitu dong, nurut."
Kemudian Angga menulis menu yang tadi dia sebutkan untuk Yuli ditambah dengan menu yang dia mau.
Kemudian Jani, Dzikya dan Dian ikut menyebutkan makanan yang mereka inginkan. Dan ketiga orang itu sama-sama pesan kopi. Meski jenis yang mereka pesan berbeda-beda, tapi itu kopi.
Yuli sempet melirik kertas itu dan Angga juga sepertinya pesan kopi. Rombongan ini akan Yuli beri julukan bucinnya kopi mulai sekarang. Karena, ini bukan sekalinya dia lihat empat orang ini beli kopi.
Agak lama dari itu makanan yang mereka berempat pesan datang. Yuli tidak dihitung karena yang pesan makanannya kan Angga.
__ADS_1
Yuli bersyukur karena Dzikya memesan tiga jenis makanan. Setidaknya melebihi dia yang pesan dua makanan. Laki-laki penggemar anime itu pesan paket ayam seperti punya Yuli, kentang goreng, cheese burger, segelas americano dingin dan dua botol air mineral.
Sekilas info tenggorokan Dzikya itu mudah sakit. Meski hobi makan banyak, makannya anak ini lama sekali. Dzikya kalau mengunyah itu dihitung sampai targetnya kemudian setiap dua atau empat suap laki-laki itu akan minum. Anehnya Dzikya tidak pernah terlihat kembung. Makanya, Dzikya inisiatif untuk bungkus kentang goreng juga burgernya. Takut ditinggal, lebih baik makan itu di mobil nanti.
Angga hanya memesan spaghetti bolognese, dua buah pudding mangga dan segelas ice macchiato. Setelah itu salah satu puddingnya dikasih ke Yuli. Laki-laki ini benar-benar berniat untuk membuat Yuli gendut.
Jani dan Dian sama-sama pesan burger. Bedanya Jani chicken burger dan Dian beef burger. Selain itu, Dian pesan corndog juga cappucino. Sementara Jani, pesan segelas kopi hitam juga affogato. Sengaja, supaya dijalan nanti dia tidak tidur, karena jatah menyetirnya masih agak lama.
Omong-omong perjalanan mereka belum sampai setengah jalan. Maklum liburan, macet. Terlebih jarak Bandung-Jogjakarta itu tidak bisa dibilang dekat. Mereka saja masih ada di daerah Jawa Barat ini.
Setelah selesai mengamati satu-persatu yang teman semejanya pesan, Yuli mulai makan supnya, kalau dingin tidak akan enak. Sesekali perempuan itu juga menyuapkan ayam ditambah nasi punya dia.
Angga dan Anto mengamati sembari makan.
"Wah Yul, makan Lo dicampur-campur, kek gue," celetuk Dzikya memecahkan keheningan diantara mereka berlima. Jani dan Dian memang bukan tipe makan sembari bicara, sementara Angga dan Yuli kebingungan mencari obrolan dan Dzikya selalu sukses memulai pembicaraan.
Yuli hanya mengangguk karena mulutnya masih penuh.
"Nah gitu, makan tuh yang banyak. Jangan diet-diet mulu," sahut Angga kemudian.
"Biar gue bisa cepat nguyelinnya," sambung cowok itu santai.
Yuli melotot, tenggorokannya sakit karena dia nyaris tersedak.
"Lagian Lo jangan ngesugesti diri Lo gendut. Ntar kejadian," sambung Angga lagi.
Yuli kemudian hanya mengiyakan, malas menanggapi.
Jani menelan makanannya, "Yul, gue punya cara kalo mau diet dan Lo masih bisa makan banyak!"
Yuli langsung menatap Jani antusias, "Apa? Apa?"
__ADS_1
"Caranya tuh yah Lo makan banyak, makan enak kemudian Lo telan. Lalu, Lo muntahin. Paksa tubuh Lo biar ngeluarin makanan itu," jelas Jani dengan wajah serius. Botol yang tadi Jani lempar pada Dzikya kini kembali mengenai kepalanya karena Dzikya langsung melemparinya begitu Jani menyelesaikan kalimatnya.
Sebangku sama Angga ngebuat Jani ketularan setannya cowok itu, batin Yuli merasa miris.