
Sastra harus apa sekarang. Apa dia harus menemui Dyana saat ini dan Sekar akan membuktikan omongannya akan membunuh Dyana? Atau sekarang juga dia akan menemui Dyana dan mengatakan bahwa dirinya memiliki perasaan dengan gadis itu tanpa memikirkan resikonya.
Sastra benar-benar bingung. Lebih baik ia memilih membaca sebuah novel yang ada di hp-nya. Dia beli di e-book. Semoga saja dengan ini kebimbangannya sedikit terbayar.
Dyana masih saja membuat jejak-jejak perasaannya dengan tinta hitam diatas kertas putih dengan gambar barbie itu. Seharian dia ingin menghabiskan semua waktunya untuk mengeluarkan unek-uneknya. Bukannya tidak peduli dengan kehidupan tapi dia juga butuh pelampiasan tanpa menyakiti ibu dan adiknya.
"Sastra, aku tak tahu apakah kau memiliki perasaan yang sama, yang jelas aku akan tetap mencintaimu dan aku yakin perasaanku tidak berbohong. Aku benar-benar mencintaimu." Begitu yang Dyana tulis saat ini. Gelap pun semakin membalut senja. Dyana hanya keluar makan selepas itu ia menghabiskan waktunya di bilik.
Walaupun masih penasaran akan keberadaan orang yang sudah dianggapnya sahabat. Dyana tak ingin menyia-nyiakan sekolahnya. Mungkin dengan ini dia bisa melupakan Sastra meski hanya sekejap.
Dyana menapakkan kakinya di depan gerbang, setelah membayar selembar lima ribuan kepada Pak Ojek yang mengantar.
Tapi, setelah sampai di depan patung depan sekolah, Dyana melihat mobil yang tak asing. Bukan mobil Sastra, tapi mobil orang yang sangat membencinya, Sekar.
"Dengan siapa Sekar?" Dyana memicingkan penglihatannya ketika seorang lelaki memakai topi.
__ADS_1
"Sepertinya tidak asing, siapa dia?"
Bukan hanya Dyana yang memerhatikan pemandangan pagi ini, tapi siswa-siswi yang sudah di sekolah pun ikut memandangi betapa segarnya pemandangan mobil dengan pasangan bak cerita novel.
Ternyata setelah di buka topi dan kaca matanya, betapa terkejutnya Dyana yang kala itu masih setia memandangi dua insan yang turun dari mobil, ternyata lelaki itu adalah Sastra.
"Sastra?" Dyana mengucek matanya, "Apa mungkin?"
Tapi, Sastra seakan-akan tidak mengenalinya. Apa mungkin dia sudah berubah, dia sudah tidak ingat pada gadis miskin ini lagi. Bahkan dengan teganya dia bermesraan bergandeng tangan dengan Sekar.
Dyana berbicara sendiri di kelasnya. Pemandangan itu mungkin tidak menyakiti hatinya kalau saja Sastra hanya menyapa atau tersenyum padanya. Tapi ini beda, Sastra sama sekali tidak menoleh sedikit pun padahal Sastra seperti tahu keberadaannya.
Ini seperti kejadian pertama kali dia mengenal Sastra. Ini kebodohan Dyana, kenapa ia harus jatuh hati pada seseorang yang berbeda strata.
Ternyata selama ini dia menghilang karena kembali pada Sekar. Air matanya lolos, merasa sesal tapi tetap pendirian.
__ADS_1
"Apa mungkin Sastra sudah melupakan semua yang pernah terjadi?"
"Kenapa semuanya begitu tiba-tiba? Bahkan dengan teganya ia tak memberi kabar." Omong Dyana lagi sambil duduk di kelasnya.
Kenapa hal ini seperti ulangan kejadian tiga tahun lalu. Sejak perasaan itu muncul tanpa alasan.
"Sastra! Pokoknya kamu harus tampil seakan-akan berpenampilan baru dan kamu harus romantis sama aku saat di sekolah. Inget, nyawa Dyana taruhannya."
Sekar berpesan lagi pada Sastra setelah mereka masuk mobil.
Sastra tak membalas, ia hanya diam. Sekar tersenyum kecut.
"Maafin aku Dy, aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Semoga nanti kamu ga lihat aku sama Sekar."
Nyatanya sampai di sekolah Sastra melihat Dyana baru turun dari gandengan Pak Ojek yang biasa mengantarnya. Hatinya sudah gusar. Tapi dia yakin, kalau Dyana pasti akan mengerti. Tidak mungkin dirinya akan berubah secepat itu. Walaupun, Dyana mungkin belum tahu kalau selama ini Sastra mencintainya.
__ADS_1