
Matahari yang masih terik membuat dua orang insan yang baru turun dari mobil memicingkan matanya. Sepertinya ini waktu yang salah untuk pergi ke pantai. Peka dengan suasana akhirnya Adit menarik tangan Dyana untuk menuju ke toko di dekat pantai. Mereka kemudian memilih topi.
"Sepertinya kita salah menuju pantai jam segini, Kak." Kata Dyana kembali melihat keadaan di luar.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 WITA
"Iya, tidak apa. Ayo pilih topinya, Dy."
Mereka pun membeli topi biasa, namun dengan motif dan bentuk yang sama alias couple.
Keluar dari toko itu, Sastra mengajak Dyana membeli es krim. Di sana suasana lebih sejuk ketimbang di tempat parkir tadi yang baru dimasuki.
Dyana nampak sangat senang diajak membeli es krim. Ia memlih banyak es, Adit hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan lucu adik sepupunya.
"Kak, makasi sudah membelikanku es krim." Ujar Dyana disela-sela menjilat es dengan lahap.
"Tak rugi dong kita ke pantai jam segini." Adit tersenyum tipis. Ia kemudian mengusap hidung Dyana yang terkena es. Tak sampai disitu ia juga mengacak pelan rambut Dyana. Nampak sekali Adit sangat sayang. Tatapannya begitu dalam penuh arti. Dyana tak menyadari itu saking lahapnya makan es krim.
"Pelan-pelan dong, Sa-" perkataan Sastra langsung berhenti. Ia hampir saja mengucapkan sayang. Lama menjomblo membuat dirinya rindu berpacaran.
"Ah, iya Kak." Dyana tak menyadari perkataan Adit yang tercekat. Ia melanjutkan kembali kegiatannya.
__ADS_1
Adit pun hanya menatap sambil tersenyum. Ia hanya membeli satu es, sengaja ia lakukan agar bisa melihat pemandangan Dyana yang sedang melahap es krim.
Kenapa Adit merasa nyaman saat berada di dekat Dyana. Seakan tak ingin jika Dyana cepat-cepat kembali ke desa. Adit masih sangat merindukan sepupunya satu ini.
"Kak, aku mau bilang kalau aku besok balik." Tiba-tiba Dyana menghentikan makan es, dia baru ingat membicarakan hal ini pada Adit.
"Kenapa cepat sekali? Bukannya Dy mau kerja di sini?"
"Iya, soalnya besok pengumuman kelulusan. Hum, kakak mau antar aku kan? Kalau tidak kuliah sih atau tidak bekerja." Dyana mencoba menanyakan apakah besok dia diantar atau naik angkutan umum.
"Gimana ya?" Goda Adit sambil mencubit pipi Dyana. "Kakak pasti antar, tapi…" dia menghentikan perkataannya.
"Tapi apa?" Dyana penasaran hingga membiarkan es di tangannya meleleh.
"Kalau cuma itu mah gampang, Kak. Itu seperti bukan syarat tapi bonus." Tawa Dyana diakhir kalimat. Dia berkata sangat dekat dengan Adit bahkan sambil menepuk-nepuk lengan lelaki disampingnya karena geli beserta senang dengan ajakan Adit.
Adit yang melihat wajah riang Dyana seakan ingin menciumnya. Dyana sangat menggoda jika sedang tertawa.
"Nanti habis ini kita ke sana sambil menunggu matahari tenggelam." Kata Adit sambil menunjukkan tempatnya.
Dyana sekejap melupakan semua masalahnya dengan Sastra. Sepupunya ini sangat seru bila diajak hingga ia sampai lupa cara cemberut dan menangis walau hanya sekejap.
__ADS_1
Mereka terus memburu berbagai makanan dan spot indah untuk berfoto. Keduanya nampak seperti dua insan yang paling bahagia di dunia.
Tertawa-tawa bahagia mengelilingi semua tempat-tempat yang disuguhkan di pantai tersebut.
Mulai dari tempat makan, mall di pinggir pantai, jajanan di pinggir pantai, tempat berfoto hingga melihat para penjual burung dekat pantai.
Kini matahari mulai menuju arah barat seakan menunjukkan pesonanya sebelum tergantikan oleh Sang Candra. Adit pun mengajak Dyana ke pinggir pantai untuk menyaksikan keagungan Sang Surya sore ini.
Perlahan mentari seperti hilang dibalik bukit di sana. Bukit yang seperti bersambung dengan birunya lautan. Adit kemudian membuka pembicaraan saat dirasa suasana antar mereka begitu hening. Dyana terus menatap sayu kepergian Sang Surya. Seperti ada rasa yang ia tahan sedari tadi.
"Indah bukan?" Kata Adit memecah keheningan.
"Tentu. Ini bahkan pertama kali aku menyaksikan matahari tenggelam di kota."
"Matahari tenggelam di kota?" Tanyanya pura-pura tak mengerti. Karena memang matahari bukan tenggelam di kota, tapi di barat.
"Maksudnya melihat matahari tenggelam di kota ini. Biasanya kan aku menyaksikannya di desa."
"Oh, tapi mentari yang di desa sama dengan yang di kota." Ucap Adit masih ngaco.
"Ya jelas lah, Kak. Dari tadi Kakak memang tidak tahu atau hanya bercanda, sih?" Kesal Dyana mengetahui Adit hanya pura-pura bodoh.
__ADS_1
"Iya-iya. Kakak hanya becanda. Jangan cemberut dong, nanti manisnya hilang." Lagi-lagi Adit mencubit pipi Dyana gemas.
Dyana merasa tidak bisa marah dengan Adit. Seakan-akan dia adalah obat bius yang membuat kesedihannya sirna.