Hidden Love

Hidden Love
Berdua


__ADS_3

“Kakak ....” Lia yang baru datang menyadari kakaknya sudah bangun dari tidur lamanya. Tangannya menenteng es lengkap dengan sedotan. Dia tadi meminta izin berbelanja ke kantin rumah sakit. 


“Lia? Kamu di sini juga?!” Dyana merentangkan tangannya begitu rindu dengan adiknya itu. 


“kakak kenapa tidurnya lama sekali?” tanya Lia dengan muka dicemberutkan. 


“Memangnya Kakak tidur berapa jam?” Dyana merasa lelah berbaring. Tubuhnya seakan rindu bergerak. 


“Bukan jam lagi, kamu udah tiga hari membuat kita khawatir. Bahkan Satra rela datang ke mari karena kamu menggumamkan namanya,” sahut ibunya. Pipi Dyana memerah, ia benar-benar tidak sadar kalau pernah mengigaukan Sastra. Tapi jujur, dirinya begitu rindu dengan Sastra. 


Sastra mengangkat-ngangkat alisnya menggoda Dyana. Ternyata mereka merasakan hal yang sama. 


“Jangan nangis tiap malam lagi.” Adit ikut menggoda Dyana sekaligus menyindir Sastra yang gampang menyerah. 


“Apaan sih ... jangan buka-buka kartu dong. Kakak ngintip aku ya ....” Dyana membalas candaan Adit. Satu ruangan lansgumg riuh tertawa. rasa senang mereka seakan habis memenangkan lotre milyaran. 


Pagi berganti malam, mentari silih berganti dengan sang rembulan menerangi bumi. Manusia tidak selamanya menangis dan manusia tidak selamanya tertawa. Air mata akan diganti dengan tangis kebahagiaan. Cinta dalam diam tidak selamanya didiamkan. Naluri dan rasa tidak bisa disembunyikan. Karena Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik. 

__ADS_1


“Aku naik mobil Dev aja, takut ada yang cemburu.” Sekar menggoda Dyana, sekarang mereka malah akrab. Lawan menjadi kawan. 


“Iya aku cemburu—karena Sekar lebih cantik dan seksi,” sahut Dyana sembari mengikuti Sastra. Ibunya juga ikut dengan mobil Adit. Dyana dan Sastra berdua menikmati waktu. Merry dan Dev bersama Sekar membawa mobil yang dipinjam dari Dendy. 


“Yah ... penumpangku tidak ada yang menggoda.” Adit pura-pura mendesah. 


Semua kembali tertawa, dengan segera mereka masuk ke dalam mobil. 


Di dalam mobil keheningan tercipta begitu saja. Dyana dan Sastra bak orang yang baru saling kenal. Keduanya canggung—tidak tahu harus memulai berbincang dari mana.


“Em ... kamu kenapa bisa sampai dicelakain orang?” Sastra masih penasaran kenapa Dyana sampai ditusuk.


“Apa Kak Adit tahu siapa pelakunya?”


“Belum. Tapi, dia sudah melaporkan kejadian ini,” Sahut Dyana.


“Oh ya, gimana sekolah kamu di Jepang?” tanya Dyana lagi.

__ADS_1


Dyana tidak ingin Sastra menyalahkan Adit atas semua ini. Jadi, dia menanyakan pasal sekolah Sastra.


“Apa kamu serela itu membiarkan aku bersekolah di sana?” 


Dyana tidak menyangka ternyata dia salah ucap. Tidak seharusnya dia menanyakan hal itu, jelas-jelas Sastra sampai rela ke sini. Dan dia pergi ke sana bukan karena rasa suka.


“Maaf kalau aku salah ucap.”


Sastra mengehela nafas, Dyana ternyata masih belum mengakui perasaannya di depan Sastra. 


“Tidak, mungkin memang seharusnya aku segera ke sana. Pendaftaran sudah selesai.” Sastra kecewa. 


Dyana merasa tidak enak, dia dengan tidak lansung menyuruh Sastra cepat-cepat pergi. Dia tidak ingin kalau Sastra jauh darinya. Hatinya tidak rela, kalau sampai Sastra menyukai perempuan lain. 


“Aku ... tidak ingin kamu ... eee ... apa kamu bisa lebih lama di sini?” Dyana mengubah pertanyaannya. 


Sastra merasa senang, akhirmya Dyana tidak ingin kalau Sastra jauh. 

__ADS_1


“Selamanya juga boleh,” ucap Sastra menjahili. Dyana tidak berani menyahut lagi. Bisa-bisa Sastra habis-habisan menggodanya. 


__ADS_2