
Sekar yang terfokus muntah langsung terjingkat. Ia tak ingat kalau sedang berada di rumahnya.
Belum lagi selesai tercengang, handphone di sakunya berbunyi. Sekar langsung memalingkan wajahnya dan segera mengangkat telepon. Padaha ia ingin sekali menanyakan siapa orang di depannya.
Sekar hampir tidak membedakan warna merah dan hijau. Tapi, ia asal menggeser benda pipih itu. Dia pun tidak bisa melihat dengan jelas nama penelpon.
"Hallo!" Salamnya masih menahan kerongkongan yang ingin mengeluarkan sesuatu.
"Kamu dimana? Ayah menelepon Darma ternyata kau tidak di sana." Seseorang di balik telepon terdengar cemas.
Sekar mencoba kuat-kuat menahan muntahnya. Ia tahu itu Ayahnya dari suara yang terdengar.
"Iya…." Suara Sekar tercekat, ia tidak kuasa menahan muntahannya.
Dendy yang melihat gelagat Sekar, akhirnya ia mengambil alih telepon. Sekar pun segera berlari ke arah kloset.
__ADS_1
"Hallo, ini Ayahnya Sekar? Saya temannya. Sekar baik-baik saja kok." Dendy hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia takut salah ucap.
"Baiklah. Tolong katakan pada Sekar, kalau besok tolong ke rumah sakit dulu sebelum ke acara sekolah," ucap Flore.
"Baik, Pak. Saya akan sampaikan." Telepon pun dimatikan oleh Flore. Dendy menarik nafas lega. Ia tidak berbohong lebih jauh lagi.
'Ternyata Sekar masih sekolah.'
Sekar makin tidak nyaman. Ia muntah berkali-kali. Rasanya perut datarnya seakan makin mengempis. Kerongkongannya pun sudah perih. Ia kembali duduk, kakinya yang tegang sedari tadi sudah lelah.
Wanita itu dilihatnya masih muntah tapi hanya air yang keluar. Dendy kemudian mendekati Sekar untuk membantu.
"Masih mual banget ya?" Dendy khawatir melihat Sekar yang mulai lemas. Sekar hanya mengangguk lesu.
Dendy mengambilkan tisu, ia mengelap bibir Sekar dan leher bajunya tanpa ada rasa jijik. Ia juga mengelus-elus punggung Sekar agar muntahannya cepat keluar. Ia tidak tega melihat seorang wanita mabuk seperti ini. Sungguh sangat terlihat kalau Sekar jarang minum banyak, sehingga sekali minum langsung tepar seperti ini. Sekar tetap berpegangan pada wastafel. Ia tidak bisa berbicara.
__ADS_1
Lama Dendy menunggu hingga Sekar sudah benar-benar selesai muntah. Lebih tepatnya bekurang.
"Mari saya antar ke ranjang," Ajak Dendy.
Sekar hanya mengikut meski ia belum sempat menanyakan lelaki yang baik hati, perhatian dengannya.
Segera saja ia merebahkan tubuhnya. Ia ingin sekali berbincang pada lelaki di depannya, tapi tubuhnya yang kacau lebih mendominasi.
"Saya keluar dulu." Dendy melangkahkan kakinya. Tapi, entah dorongan darimana Sekar mengeluarkan suaranya.
"Saya takut sendiri di sini," gumamnya kurang jelas. Dendy terkejut dengan perkataan Sekar. Tanpa mengiyakan ia langsung duduk di sofa kamar itu. Karena ia tahu, kalau perempuan yang ia tolong masih bersekolah.
Entah angin darimana, kantuk langsung menghamipiri sekar. Keheningan memenuhi ruangan. Dendy hanya melampiaskan momen hening itu dengan bermain game pada gawainya. Dia melirik-lirik Sekar sedikit agar tahu apakah perempuan itu sudah berlayar di pulau kapuk atau masih setengah jalan.
Sejenak Dendy berpikir, 'Mengapa aku tidak bisa cuek dengan perempuan ini? Apa karena Tina telah meninggalkan aku, membuat diriku peduli.' Dendy merasa sedih ketika mengingat momen menyedihkan itu. Tina yang saat itu masih berpacaran dengannya pergi melanjutkan S2 di Jepang. Tina memutuskan hubungan secara sepihak, sebab Dendy yang kala itu juga bertugas di desa. Sedangkan Tina, ia tinggal di kota dan harus ke Jepang. Sejak saat itu, Dendy berusaha untuk tegar dan membiarkan wanitanya untuk memilih jalannya sendiri.
__ADS_1
Malam semakin larut, Sekar nampak sudah larut. Dendy pun tak dapat menahan kantuknya. Ia segera menyelimuti Sekar. Dirinya tidur di sofa.