
Sastra mengemasi barang-barang dan keperluan kuliahnya nanti di Negeri Matahari Terbit, Jepang. Sastra berencana kuliah di Nagoya University yang merupakan kampus di bidang sains yaitu kedokteran.
Mulai dari berkas-berkas, pakaian dan barang-barang pribadi miliknya ia kemas. Sastra juga mulai memilih mana yang memang penting dibawa.
Sampai Sastra menuju ke meja belajarnya. Tidak sengaja ia menemukan gantungan kunci yang menurutnya sangat spesial. Sastra sangat ingat siapa pemiliknya. Benda kecil itu ditemukan di bawah tempat duduk mobilnya.
Waktu itu Dyana tak sengaja menjatuhkannya karena digantung pada tas miliknya. Sastra ingat betul benda itu milik Dyana karena waktu itu Dyana diajak naik mobil sebab ban sepedanya kempes. Walaupun sudah tiga tahun berlalu, tapi Sastra tetap menyimpannya. Entah kenapa, ia selalu lupa mengembalikan barang itu pada Dyana. Bahkan pemiliknya pun tak menanyakannya.
"Lebih baik aku kembalikan besok." Gumam Sastra menggenggam benda tersebut penuh arti. Lalu menaruhnya kembali di atas meja.
Sastra duduk di atas kasurnya setelah dirasa semua sudah beres. Ia mengingat masa-masa saat diam-diam memperhatikan Dyana dari jauh, bahkan terkadang membuntutinya dari belakang. Entah Dyana sadar atau tidak, tapi Sastra takut menyatakan perasaannya selama ini karena dia masih disuruh Ayahnya untuk berpacaran dengan Sekar.
__ADS_1
Keberaniannya sewaktu di cafe ternyata sia-sia. Tiga tahun mencintai dalam diam dan saat ia mengutarakan malah ditolak. Kalau Sastra bisa memilih ia akan mengatakan perasaannya sewaktu menginap di rumah paman Dyana. Namun, niatnya ia urungkan sebab dirasa belum tepat. Apalagi, sewaktu ia memeluk Dyana, Sastra tak ingin melepaskan kalau bukan Dyana yang mendahului.
"Sekarang aku lebih baik tahan perasaan ini. Aku ingin fokus untuk meraih mimpiku menjadi dokter." Ucap Sastra sendiri dan kini ia merebahkan badannya seakan lelah dengan semua hal yang telah terjadi padanya.
Saat ini dua insan masih setia memandangi matahari yang sudah hampir setengahnya sudah menenggelamkan diri di ujung bukit.
Dyana tiba-tiba mengingat Sastra. Wajahnya yang semula sumringah kini malah mengehela nafas seakan ingin melupakan apa yang terlintas di otaknya.
Dyana teringat saat pertama kali bertemu Sastra. Ia tak sengaja menabrak Sastra saat pertama kali masuk sekolah. Dyana pun ingat juga, saat Sastra menawarkan naik mobil saat ban sepedanya kempes. Entah kebetulan atau tidak, Dyana sangat senang Sastra menolongnya bak pahlawan yang selalu ada saat ia susah. Meskipun Sastra bersama pacarnya saat itu tapi Dyana cukup senang.
Kini ia hanya bisa mengenang itu semua karena dirinya telah menolak Sastra. Padahal ia sangat menginginkan Sastra tapi keselamatan mereka semua ada di tangan Dyana. Keputusannya adalah yang menentukan keselamatan keluarganya dan Sastra juga Dy sendiri.
__ADS_1
"Dy! Kamu tidak papa?" Suara Adit mengejutkan Dyana yang sedang asik berkelana pada ingatannya pada Sastra.
"Engga, aku cuma rindu sama Lia?" Jawab Dyana bohong.
"Oh itu, lagi pula besok kan kita pulang. Sabar ya, besok kamu cium dia sepuasnya." Bujuk Adit.
Dyana hanya membalas dengan anggukan.
"Gimana kalau kita makan malam di sini aja? Lagi pula besok kamu sudah pulang. Kapan lagi Kakak bisa makan sama kamu?" Tawar Adit pada Dyana.
"Aku sih boleh saja. Asal dibayarin." Dyana hanya bisa nyengir menjawab ajakan sepupunya.
__ADS_1
"Iya, semuanya Kakak yang bayarin. Dy tinggal makan aja."
Dyana kemudian memeluk Adit lalu mengatakan terimakasih. Adit yang tak menyangka akan dipeluk ia sedikit terkejut, tapi pelukan itu kemudian dibalas dan malah dipererat.