
"Huh?! Kenapa Kakak membiarkan Bapakmu ditahan?" tanya Dyana khawatir. Dia masih bersusah payah mempercayai apa yang terjadi di depan matanya.
"Salah tetaplah salah." ucap Adit dingin. Dia pun sebenarnya juga tidak percaya, tetapi sebagai anak yang baik--dia harus berani mengambil keputusan yang benar. Meskipun harus memenjarakan ayahnya sendiri.
Justru dia adalah anak durhaka jika membiarkan bapaknya di jalan yang salah.
Adit langsung menyuruh semuanya masuk.
Sastra mengelus-elus bahu Dyana, mewakili mulutnya berkata sabar.
Mereka masuk dengan pikiran masing-masing.
Hp Sastra tetiba berdering ketika obrolan sedang berlangsung.
Ternyata ayahnya yang menelopon. Sastra berdiri agak menjauh dari ruang makan, agar mereka yang ngobrol tidak terganggu.
Dyana hanya diam memperhatikan.
"Hallo, Ayah!" Sastra pertama kali yang menyambut panggilan itu.
Dia memang sempat bilang kepada ayahnya, ternyata ayahnya tersebut kini selalu mendukung kemauan Sastra selama itu baik.
"Sastra, kamu sudah sampai? Gimana keadaan Dyana?"
Darma sudah tahu pasal hubungan Sastra dan Dyana. Bahkan ia juga menerima penjelasan langsung dari Sastra selain informasi yang ia dapat dari orang kepercayaan.
"Iya, Dyana sudah sadar dan sudah membaik. Ayah, maaf aku belum tahu kapan akan balik."
"Tidak apa-apa, kamu selesaikan saja urusanmu," ucap Darma lembut.
"Ayah … em, seandainya aku membatalkan sekolah di sana--apa ayah akan marah?" tanya Sastra takut-takut.
__ADS_1
Di balik telepon Darma tersenyum menggeleng, mengingat betapa Sastra sama seperti dirinya yang plin plan dan cepat berubah pikiran. Padahal kali ini yang diminta Sastra sudah sangat merepotkan. Jepang dan Indonesia itu tidak sedekat ibu jari dan telunjuk.
"Bukan Ayah yang menjalani. Jadi, terserah kamu saja asalkan itu untuk kebaikan kamu. Ayah hanya akan mendukung," jelas Darma.
Sastra mengepalkan tangannya mewakili kata 'yes' dalam hatinya.
"Terimakasih, Sastra sayang Ayah …." Kali ini Sastra sudah seperti anak kecil yang habis diberi mobil-mobilan.
"Dasar …." Darma menggelengkan kepalanya. Dia sadar sudah begitu keras fan sering memaksakan kehendak Sastra. Sekarang dia berusaha untuk menebus semua yang sudah dilakukan. Cinta pada anaknya lebih penting daripada mencintai kekayaan.
Sastra kembali duduk dengan wajah berbinar-binar.
Mereka semua kini duduk di sofa. Seakan belum cukup menghabiskan waktu berhari-hari bersama di rumah sakit.
"Cie … Merry sama Dev kayaknya lengket terus," canda Dyana.
Tapi keduanya hanya membalas dengan senyuman. Kemudian berkata, "Iya, kami akan segera meresmikannya," ucap Dev.
"Wah! Jangan lupa undangannya ya, Bro!" Adit yang baru kenal tidak sungkan-sungkan meminta undangan.
Dyana yang tadinya ikut tertawa kini raut wajahnya berubah, senyumnya seakan direnggut ketika pertanyaan itu ia dengar. Mesku bukan dilontarkan untuknya tapi mampu mengalihkan.
"Emm, gimana ya … kalau ada yang masih mengharapkanku di sini, maka aku akan di sini tetapi kalau tidak ya …."
Mereka semua diam, merasakan hawa dingin merasuk ke dua orang yang ada di antara mereka.
"Kamu lebih baik di sini aja! Dyana 'kan masih sakit, kalau perlu kamu batalkan saja sekolah di Jepang." Sekar tetiba memekik mewakili perasaan Dyana. Meski Sekar sudah jujur dan mengakui bahwa ancamannya sudah tidak lagi berlaku, namun tetap tidak berlaku bagi Dyana. Dia mmsih tetap belum percaya sepenuhnya. Kepercayaannya bak gelas pecah, tidak akan kembali utuh lagi seperti semula.
"Maaf, aku tidak mengatakan yang sebenarnya." Dyana kali ini membaeranikan diri berbicara.
Sastra yang mendengar Sekar, kini beralih menatap Dyana.
__ADS_1
Dyana yang menunduk kemudian memandang Sekar lalu beralih menatap mata Sastra dalam-dalam--membiarkan gugup yang menyergap badannya.
Sastra diam ingin mendengar perkataan Dyana yang selanjutnya.
"Aku … ingin seperti dulu lagi," ucap Dyana dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar tidak bisa berbohong dengan perasaannya saat ini. Dyana tidak ingin Sastra pergi lagi.
Sastra kemudian memeluk Dyana pelan.
"Aku tidak akan pergi lagi …." ucap Sastra.
Dyana tersenyum lega, tidak menyangka Sastra mau berjuang demi hubungan mereka.
***
"Yuki!" Yamadha memeluk hangat kekasihnya, rasanya mereka tidak bertemu bertahun-tahun.
"Hanii!" Yuki membalas pelukan itu.
"Aku sangat merindukanmu!" Yuki mengeratkan pelukan.
Mereka duduk melepaskan pelukan. Yuki tidak menyangka kalau Yamadha langsung menghampiri ke rumahnya.
"Apa saja yang sudah kau lakukan di Bali?" tanya Yuki penasaran, apa yang sudah dieksplor kekasihnya yang gila photografi dan budaya itu.
"Banyak."
"Biar aku ceritakan. Darimana ya, intinya aku berkenalan dengan seorang waitress di Bali. Dia begitu baik bersama sepupunya, aku menanyakan banyak hal tentang budaya di sana. Oh ya, aku juga banyak mengambil gambar sunset."
Yamadha mengambil sesuatu dari tasnya.
"Ini dia!" Yamadha mengeluarkan sesuatu di tasnya. Dia mengeluarkan tas kecil dari sana.
__ADS_1
"Wah! Ini banyak sekali miniaturnya," puji Yuki.
*Thanks my reader. cup.