Hidden Love

Hidden Love
Tidak Percaya


__ADS_3

Adit berlari segera menggapai ruang UGD, Dyana makin pucat menahan sakit. 


"Tolong cepat, Sus!" Adit ikut memucat melihat kondisi Dyana yang kesakitan. 


Mira yang melihat sudah menangis, "Duh! Kenapa ini bisa terjadi? Padahal dia sedang membawa makanan." Tangis Mira makin menjadi. 


"Sudah, ini di luar dugaan kita. Kamu harus kuat demi Dyana. Aku mau ngurus surat-suratnya dulu, kamu pantau Dyana." Adit segera menuju ruang administrasi. 


***


"Dy! Kamu bangun dong, aku udah di sini!" Sastra memegang erat tangan Dyana. Mengalirkan semangat hidup. Sudah tiga hari Dyana belum membuka mata pasca operasi. 


Sastra yang berada di Jepang harus rela datang ke Bali. Ibu dan adiknya sudah sejak setelah kejadian mendampingi. 


Mereka semua memandang Dyana yang makin memucat. 


Flashback ….


"Sastra …." 


"Ibu …." 

__ADS_1


Igauannya terus seperti itu, membuat Adit makin kelabakan. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Dyana yang makin buruk. 


Dengan segera dia mengabari pada ibu di kampung dengan pelan agar tidak terkesiap. 


"Ada apa, Bu?" tanya Merry dan rombongannya Sekar. Baru saja mereka akan masuk tapi terlihat Ibu Dyana membawa tas dan hendak pergi bersama Lia. 


"Aduh! Merry, Dyana sedang dirawat." Wajahnya yang memucat karena khawatir membuat wajah Dev, Meery dan Sekar ikut panik. 


"Ada apa sebenarnya?" tanya Merry pelan menyuruh Miya tenang, agar bisa berpikir dengan jernih. 


"Dyana ditusuk orang tidak dikenal di resto milik sepupunya," jelas Miya. 


"Jadi, Dyana tidak di sini?" Sekar ikut bergabung dalam pembicaraan. Miya tak menoleh sebab dia benci dengan anak itu. 


"Maafkan saya sebelumnya. Sebenarnya kedatangan kami ke sini untuk mengatarkan saya minta maaf pada Dyana dan juga ibu, termasuk Lia." Wajah sendu Sekar membuat Miya percaya, apalagi kedatangannya bersama Dev dan Merry, sahabat Dyana dan Sastra. 


"Baiklah, biar kami antar agar lebih cepat." Dev ikut memberi saran, keadaan saat ini benar-benar genting. 


"Terimakasih." Mereka pun segera berangkat, Sekar masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Baru saja dia ingin meminta maaf tetapi situasinya malah seperti ini. Adanya Dendy membuat dia perlahan berubah. 


Tiga jam kemudian ….

__ADS_1


Operasi selesai dilakukan, Mira dan Adit setia menunggu di luar. 


"Bibi?" Adit memanggil Miya harap-harap cemas. Dia takut disalahkan sebab gagal menjaga Dyana. 


"Apa operasinya sudah selesai?" tanya Miya. Lia diam tidak bersuara, masih mencerna kejadian dengan otak kecilnya. 


Ketiganya hanya mengekor ikut berdoa. 


"Sudah, dokternya sudah keluar. Mungkin sebentar lagi Dyana dipindahkan," jelas Adit. 


"Maafkan Adit," ucapnya. Miya masih menahan air matanya agar dia kuat demi Dyana. 


"Tidak, semua ini bukan salah kamu. Kalau Adit yang menusuk Dyana--mungkin Bibi selamanya tidak memaafkan kamu. Lebih baik kita berdoa." Miya mencoba menenangkan Adit, padahal hatinya lebih gundah saat ini. Terpaksa harus disembunyikan dalam-dalam supaya keadaan tidak memburuk. 


Dyana keluar didorong oleh perawat. Semuanya langsung mengekor. 


Sampainya di ruangan, Dyana belum juga membuka mata. Bibirnya yang putih memanggil nama Sastra. 


"Sejak sebelum operasi Dyana memanggil nama Bibi dan juga Sastra. Sebab itulah aku menghubungi Bibi." Miya hanya diam terpaku melihat keadaan anaknya yang seperti itu. 


"Sastra 'kan di Jepang." Adit menyahut, saktu itu 'kan dia pamit sama Dyana. 

__ADS_1


"Bagaimana kalau telepon saja," jawab Sekar. 


Semuanya diam, masih tidak percaya dengan gadis satu ini. 


__ADS_2