
Kelas 11-C punya beberapa murid yang aktif di luar sekolah. Baik itu ikut klub, les atau aktif secara online di aplikasi-aplikasi tertentu.
Naya Janiar, salah satu yang aktif secara online. Dia itu teman sebangkunya Angga yang baru setelah kemarin Bu Rere marah karena banyak murid laki-laki dan perempuannya tidak terlalu akur.
Jadilah, wali kelas mereka itu mengubah posisi duduk mereka. Menjadikan murid perempuan dan laki-laki jadi sebangku.
Naya Janiar atau dia sendiri memaksa untuk dipanggil Jani aktif di aplikasi kepenulisan. Dia termasuk jajaran makhluk pagi atau murid yang datang pagi dan tidak terlalu mengekspresikan diri di kelas.
Banyak yang tidak tahu juga karena Jani sedikit susah diajak berkomunikasi.
Nah, dengan sebangku sama Jani, Angga semakin tidak percaya kalau dirinya terjebak di kisah seperti ini.
Dia hanya laki-laki rumahan yang belum banyak terlibat masalah dan cenderung tidak tahu menahu tentang dunia luar .
Berada di kelas C, cukup membuatnya merasakan banyak pengalaman baru.
Pertama, sebangku dengan perempuan, selama nyaris sebelas tahun dia sekolah, ini pertama kalinya.
Mempunyai kelompok pergaulan, Gamers Kelas memang bukan kelompok yang sengaja mereka buat, tapi dengan banyak moment yang mereka lakukan bersama, cukup membuat orang-orang mengambil kesimpulan kalau mereka itu kelompok. Toh, nama Gamers Kelas juga bukan mereka yang buat.
Lalu yang paling Angga rasakan dampaknya, memiliki rival. Rivalnya dalam dunia pendidikan memang banyak. Tapi, ini hanyalah rival untuk berdebat sesuatu yang tidak jelas disertai rasa benci setiap kalimat yang dilontarkan. Terimakasih pada Yuli karena telah membuatnya merasakannya ini.
__ADS_1
Jika ditanya mengapa dirinya meladeni perdebatan Yuli, Angga akan menggeleng. Dia sendiri kebingungan untuk membentuk sebuah alasan.
Fokus pada Yuli.
Perempuan berambut sebahu itu kini tampak mengobrol dengan Kia yang sengaja duduk di bangkunya.
"Kayaknya Lo suka sama Angga deh," ucap Kia dengan santai tanpa memperdulikan reaksi Yuli yang tampak tidak terima mendapatkan pernyataan itu.
"Najis!" balas Yuli dengan ketus.
"Tapi, gue perhatiin Lo sering lihatin interaksi Angga sama temen sebangkunya," balas Kia lagi seraya mengeluarkan senyuman miringnya. Yuli terdiam, Kia semakin melebarkan senyuman karena merasa puas telah membuat Yuli kesulitan membalas.
Perempuan berambut pendek itu kemudian menegakkan duduknya, dia memberi kode pada seseorang yang kebetulan melihat ke arahnya. Orang itu terdiam sebentar, kemudian menunjukan ibu jarinya tanda memahami maksud Kia.
"Apa?" Jani membalas, melaksanakan maksud dari Kia tadi. Dia menghampiri meja milik Yuli dengan langkah santai, berhubung kelas sepi karena ini jam istirahat kedua.
"Lo tahu kan kisah Angga sama Yuli selama di kelas ini?" tanya Kia kemudian setelah Jani berada didekatnya. Sementara Yuli sudah memelototkan matanya ke arah Kia.
Jani mengangguk, "Yang manggilnya pake Iblis, Setan itu kan? Tahulah, gue sering jadi saksi perdebatan gak penting itu."
Kini Yuli memelototkan matanya ke arah Jani, merasa tersinggung dengan kata 'pedebatan gak penting'. Jani melihatnya, hanya melihat kemudian merotasikan matanya malas, tidak peduli.
__ADS_1
"Terus kenapa?" tanyanya kemudian tanpa minat.
"Lo kan suka nulis di aplikasi authors itu kan?"
Jani menatap Kia, masih tampak tidak berminat kemudian mengangguk.
"Bikinin story tentang mereka berdua dong. Tambahin imajinasi dikit, siapa tahu kejadian nyata." Kia kembali berucap santai, lagi-lagi tidak memperdulikan Yuli yang sudah menahan dirinya agar tidak memukul sahabatnya.
Jani menatap Kia ragu, "Bisa aja," ucapnya dengan nada menggantung. Membuat Yuli menatapnya dengan was-was.
"Tapi, gue lebih suka Angga-Dzikya."
Kia menghela nafasnya, Yuli menganga lebar. Jadi Naya Janiar yang kurang peduli ini seorang fujoshi? Yuli tidak pernah terpikirkan itu.
Kia kemudian tersenyum secara tiba-tiba, baru mendapatkan ide agar Jani mau menurutinya, "Bikinin ya? Nanti gue traktir es krim seminggu penuh!"
Yuli mendengus, merasa Jani tidak akan memperdulikan ucapan Kia barusan. Memangnya karya Jani seharga es krim-es krim itu? Yuli yakin, Jani tidak akan menuruti Kia.
"Okay, Rabu nanti gue publish," sahut Jani kemudian kedua perempuan itu melakukan tos.
Yuli menganga lagi.
__ADS_1
TBC, 25.8.19