Hidden Love

Hidden Love
Bangkrut


__ADS_3

59


Seorang lelaki sekira berumur setengah abad masih berbaring di ranjang rumah sakit. Sejak beberapa hari lalu ia dirawat. Anaknya, Sekar hanya menengok hanya sekali bahkan cuma sebentar. 


Flore masih asik dengan lamunannya, tapi segera buyar karena dering telepon. Diambilnya telpon itu dari nakas dan segera menggeser tombol hijau. 


"...."


"Apa?" jawabnya menggenggam dadanya erat. Flore sama sekali tak menyangka kalau sahabatnya akan merenggut semua asetnya. Tapi, ini memang salahnya yang pernah berniat melakukan perebutan itu. Namun, nyatanya ia didahului. 


"Tapi, Anda tenang saja. Pak Darma akan membayar semua biaya perawatan Anda selama di sini," kata dibalik telepon. Dia adalah orang kepercayaan Darma. Hanya itu perbincangannya, panggilan diakhiri sepihak.


Flore hanya bisa menghela nafasnya, air mata juga terlalu pongah untuk menetes. Apa yang harus ia katakan pada Sekar. Bagaimana seluruh pegawainya. 


'Semua akan menertawakanku.' 


Sesalnya mendalam, sekarang tidak ada yang mau membantunya. Dia sadar sekarang karena sudah berbuat semena-mena pada seluruh pegawainya. 


Dengan memberanikan diri, Flore kembali membuka benda pipih digenggamannya. Putriku, kontak itu yang akan ia hubungi. Walaupun nantinya Sekar tidak akan terima, tapi setidaknya ia sudah mengatakan sejujur-jujurnya.


Tut… tut….


Jantungnya berdegub seiring suara nada menyambungkan. Ia tak tahu bagaimana respon Sekar. 


"Halo Papa," sahut Sekar. Kini ia masih di sekolah. Beruntung dirinya diantar Dendy. Mobilnya masih berada di kediaman Darma.


"Papa mau bicara…."


Keraguan kembali menghampiri Flore hingga ia menunda melanjutkan katanya.


Sekar yang sedang duduk dengan Dendy segera menjauh. Karena ia tahu Papanya akan bicara serius. 


"Papa mau bicara apa?"

__ADS_1


Flore menormalkan gejolak dalam tubuhnya. "Tadi orang kepercayaan Pak Darma menelepon Papa," jelasnya masih setengah.


Sekar sangat tidak suka dengan Papanya yang berbelit-belit. Wajahnya kini memerah sempurna, Dendy yang melihat dari kejauhan hanya bisa menyaksikan. 


"Lalu kenapa!" Sekar setengah berteriak. 


"Pak Darma telah mengambil alih semua aset kita," lontarnya. Ia memejamkan matanya bersiap dengan semprotan anaknya.


"Hah? Aku tidak terima! Bagaimana itu bisa terjadi? Lalu aku bagaimana? Ini semua gara-gara Papa. Pokoknya aku tidak mau tahu!" Sekar sangat marah dan langsung mematikan telepon. Ia memang mengetahui persaingan perusahaan Papanya tapi dia tidak terima kalau dirinya jatuh miskin. Walau kenyataannya dia pun tahu kalau dia dan Papanya berniat licik untuk merobohkan Darma.


Flore hanya bisa menghela nafas dan mengacak kepala sendiri dengan kasar. Ia merasa menjadi orang yang sangat bodoh sekarang ini. Kenapa dirinya jadi berbalik. Dulu Flore yang mengancam Darma karena dia sudah berhasil membuat Darma hampir bangkrut. Dan sekarang, dirinya malah diplantingkan jauh ke bawah sampai tidak tahu harus berkata apa. Melawan pun dudah sia-sia.


Mendengar teriakan Sekar dengan telepon, Dendy mendekati.


"Ada apa?" tanyanya tidak pernah kasar.


Sontak Sekar menoleh, "Tidak apa-apa." Dia langsung menuju ke parkiran.


Mereka kini berhadapan. Parkiran sudah sepi karena mereka datang terlambat. 


"Ini hanya masalah keluarga." Sekar berkata tanpa ekspresi. 


"Maaf, tapi kenapa kamu sampai berteriak seperti itu? Siapa yang menelepon?" Dendy bertanya lagi.


"Sudahlah jangan dibahas. Aku malas!" 


Dendy tidak bisa lagi bertanya lebih jauh. Lagi pula, memang dirinya bukan siapa-siapa. Segera ia membuka pintu mobil lalu Sekar mengikut. 


'Bagaimana nasibku.' Hanya itu yang ada dipikiran Sekar kali ini. Ia cuek dengan pria baik disampingnya. 


'Kenapa Papa bangkrut saat aku mau lanjut sekolah.' Ringisnya dalam hati. 


Di dalam mobil mereka hanya diam. Tak ada yang memulai obrolan. Kekesalan Sekar seakan memenuhi ruangan sempit itu. 

__ADS_1


"Kamu mau aku antar pulang?" Dendy memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak!" Sergah Sekar. "Antar aku ke rumah Darma, nanti aku tunjukkan jalannya," lanjutnya.


'Dari tadi diam, sekarang ditanya baru nyahut. Kalau saja kamu tidak cantik, sudah aku buang jauh-jauh,' Dendy membatin kesal.


Dua puluh menit perjalanan, mereka sampa di depan rumah mewah nan besar. 


"Kamu tunggu di sini!" Sekar langsung turun. Ia dengan percaya dirinya masuk membuka gerbang yang tinggi itu. 


Sekar masuk ke halaman yang luas. Baru sampai di depan pintu rumah. Sekar dicegat dua lelaki berbadan kekar. 


"Anda dilarang masuk. Kami diperintahkan oleh Pak Darma." Salah satu dari mereka masuk ke dalam lalu keluar membawa koper besar. 


"Anda tidak dapat tinggal di sini lagi. Silahkan pergi!" Sambil menyerahkan koper tersebut pria satunya menatap penuh ancaman. 


"Saya mau menemui Darma." Sekar menghiraukan seruan kedua penjaga itu. 


"Bapak tidak ada! Tolong Anda segera pergi sebelum kami melakukan hal yang tidak Anda inginkan." 


"Kemana dia?" Sekar masih saja berani bertanya seakan ia punya banyak nyawa. 


"Dia ke Jepang bersama anaknya," singkat penjaga satunya.


"Kurang ajar!" Sekar langsung mengambil koper dan berlalu meninggalkan rumah itu. Mendengar ucapan tersebut penjaga itu hanya menahan emosi, karena bukan tugasnya. Mereka hanya disuruh untuk mengsusir perempuan itu. 


Dendy makin heran melihat Sekar keluar dengan membawa koper. 


"Kamu kok bawa koper? Kita mau kemana?" Dia terheran-geran, apa yang sebenarnya terjadi terhadap wanita yang ia temui ini. Sejak kemarin ia belum paham sebenarnya. 


"Pulang, ayo!" Sekar dengan sesukanya masuk ke dalam mobil. 


Mereka pun pulang.

__ADS_1


__ADS_2