
Dengan hati-hati Sastra menyentuh bahu Dita. Agar wanita itu tahu kehadirannya.
"Kak, dimana calon suaminya? Saya harus menjelaskan apa?" Sastra langsung bertanya setelah Dita melihatnya.
"Sudahlah, Sastra. Dia sudah tidak mau mendengarkan penjelasan saya. Debay sudah terlanjur marah karena saya berselingkuh. Dan dia menemui kita waktu pulang dari rumah sakit hingga pendapatnya kamu itu selingkuhan saya juga." Dita menjelaskan masih dengan keadaan menangis.
"Benarkah? Ini salah saya yang berada di luar waktu itu. Tapi, kakak jangan takut. Kita kan cuma sebatas teman." Sastra tersenyum berharap menularkan kepada wanita dihadapannya.
Nyatanya nihil. Tangis Dita semakin menderas tampak sangat terpuruk.
"Bukan, ini justru salah saya sendiri. Dia sangat marah melihat saya berciuman dengan lelaki di cafe." Jelasnya lagi melepaskan tangkupan wajahnya.
Dita kemudian memandang Sastra lekat. Tanpa aba-aba Dita memeluk Sastra yang kala itu berjongkok di samping kursi Dita.
Nampak dua orang anak manusia memasuki restaurant tersebut. Betapa terkejutnya Dyana, mengapa dia melihat Sastra di sini.
"Ah, pasti itu bukan Sastra. Masa iya dia ada di kota?" Gumamnya sendiri ketika kakinya memijak lantai restaurant SunLiner.
Dia diajak kesini untuk breakfast oleh Adit. Waktu dia ingin keluar tapi tidak bisa membuka pintu, tetiba saja Adit muncul. Dia membuka pintu kamar Dyana, mengetahui sepupunya yang lapar Adit kemudian mengajak Dyana ke restaurant. Tentu saja setelah Dyana mandi.
Restaurant SunLiner sejujurnya cafe milik Aditya Putra. Malam itu Dyana pertama kali diajak makan di cafe tersebut. Sehingga, Adit berinisiatif membawa Dyana kesini. Adit punya niat menjadikan Dyana sebagai salah satu waitress di sini. Ia ingin sepupunya belajar dari bawah. Walaupun, ia bisa saja menjadikan Dyana sebagai manager atau supervisor. Tapi, alangkah baiknya ia belajar dulu.
Karena percaya tidak percaya akan apa yang dilihat. Dyana mengucek matanya. Apa benar itu Sastra atau tidak. Berkali-kali ia memastikan penampakannya tetap sama, itu Sastra. Dua sejoli yang berpelukan itu Sastra.
"Ternyata dia punya pacar di kota juga." Dyana sakit melihat pemandangan di depannya. Terakhir kali ia melihat Sastra bergandengan tangan dengan Sekar dan sekarang berpelukan entah dengan siapa.
"Hey! kamu lihat apa, Dy?" Adit mengikuti arah pandang Dyana.
"Kamu kenapa gitu banget lihatnya. Di kota sudah biasa pemandangan seperti itu." Adit menjelaskan.
Dyana masih menatap orang berpelukan itu. Dia ingin membuktikkan pada hatinya bahwa melihat Sastra itu benar-benar menyakitkan. Dengan itu hatinya akan segera melupakan Sastra. Karena tak tahan, Dyana kemudian memanggil Sastra dengan pelan, sangat pelan.
"Sastra?"
Bukan apa-apa, Sastra menerima pelukan wanita disampingnya begitu saja. Ia tak ingin menyakiti atau membuat tersinggung orang yang masih terpuruk. Meski agak risih Sastra membiarkan wanita itu memeluknya hingga tenang. Tapi, kupingnya seakan awang. Ia mendengar orang memanggilnya.
__ADS_1
Dengan segera tapi pelan, ia melihat Dyana sudah berdiri di sana. Menatapnya penuh makna dan nampak ingin bertanya-tanya.
Dengan terpaksa dilepasnya pelukan wanita itu. Entah dorongan darimana Sastra tiba-tiba langsung memeluk Dyana. Sontak empunya terkesiap. Tanpa memberi kesempatan Sastra berkata, "Aku sangat merindukanmu, Dy."
"Aku tahu kamu tidur di rumah sepupumu. Kamu digendong sama dia. Lalu, aku memutuskan menjemputmu besok saja." Adunya seperti anak kecil dan mempererat pelukan itu.
Dyana hanya membeku. Wanita di sana juga membisu. Adit apalagi, ia hanya menatap lugu.
Sastra tidak merasa kalau Dyana hampir marah karena melihatnya berpelukan. Dia hanya mengetahui bahwa pelukan tadi hanya untuk menenangkan seorang wanita bukan lebih. Jadi, dia memeluk Dyana begitu saja saking rindunya.
"Aku tidak tahu akan menemuimu di sini. Wanita itu adalah temanku." Lanjut Sastra.
Tak ingin salah paham Dyana mencoba menenangkan perasaannya. Ia ingin tahu apa yang akan dikatakan Sastra. Dyana juga ingin mengetahui kenapa Sastra bisa berada di sini.
"Bisa kita bicara berdua?" Tanya Sastra.
Dyana menengok ke arah Adit. Kakak sepupunya itu pun mengangguk.
Sastra memberi tahu Dita kemudian beralih lagi ke bangku sebelah untuk berbicara dengan Dyana.
"Aku, aku cuma mau menenangkan diri saja." Singkatnya. Dyana gugup berada di hadapan Sastra.
"Lalu, kenapa kamu tidak bilang sama Ibu?"
Dyana diam tak bisa menjawab. Dia hanya menunduk tak bergeming.
"Kalau kamu marah karena aku dekat lagi dengan Sekar, maka maafkanlah aku. Itu semua demi Ayah. Aku tidak bisa menolak." Jelas Sastra tanpa memastikan kebenaran pasal kenapa Dyana sampai marah hingga pergi ke kota.
"Kamu, kamu salah. Aku tidak marah karena kamu bersama Sekar. Lagi pula, kita bukan apa-apa. Jadi, apa yang kamu katakan salah." Jelas Dyana.
Sastra kemudian mengambil tangan Dyana. Ia tahu Dyana berbohong, Sastra tahu kalau perempuan yang selama ini menolongnya itu mencintainya selama tiga tahun.
"Tolong. Tolong kamu jangan berbohong lagi. Jujur! Aku juga mencintai kamu Dyana. Aku tidak bisa jauh dari kamu. Perasaanku tidak bisa berbohong lagi dan aku tak bisa memendamnya lebih lama lagi."
Dyana diam membeku. Ia merasa kenapa Sastra tahu semua perasaannya. Hatinya mencelos terharu dan Sastra berhasil membuat hatinya seakan meloncat.
__ADS_1
"Maukah kamu menerima aku sebagai kekasihmu?" Sastra kembali lagi berkata dan kali ini dengan senyuman polos termanisnya.
Dyana lagi-lagi terkesiap pada perkataan Sastra kali ini. Ia tidak menyangka bahwa Sastra akan menembaknya. Tiga tahun ia mencintai dalam diam dan sekarang impiannya telah menjadi nyata. Masih ragu dengan pertanyaan Sastra, Dyana kembali bertanya.
"Apa. Apa aku tidak salah dengar? Aku cuma wanita biasa dan tidak punya apa-apa seperti Se-." Dengan segera Sastra menaruh jarinya menutup bibir Dyana dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan katakan itu. Aku tidak melihat kamu siapa, tapi aku mendengar kata hatiku dan apa yang aku rasakan. Dan tolong jangan kamu sebutkan nama wanita lain di depanku. Apalagi aku benar-benar tidak punya perasaan dengannya." Katanya pelan lancar sambil terus menggenggam erat tangan Dyana meyakinkan.
Jujur di hati Dyana ingin menerima tapi pikirannya ragu. Ia tak ingin menyakiti perempuan lain hanya karena dirinya yang mencintai lelaki yang sama.
"Tapi, aku tidak bisa." Dyana melepas tangan Sastra pelan. Dia kemudian berpaling lalu menghapus cairan bening yang jatuh dari mata indahnya.
"Kenapa? Apakah perasaanmu sudah berubah? Atau aku yang keliru?"
Sastra heran, kenapa Dyana menolaknya. Padahal harapannya sangat besar pada perempuan di depannya. Dan Sastra pun tahu kalau Dyana memiliki perasaan yang sama. Lalu, kenapa dia berkelit? Apakah segitu marahnya dengan dirinya.
"Aku. Aku tidak pernah punya perasaan denganmu. Mungkin kamu salah, aku menolongmu dulu karena kamu adalah temanku. Tidak ada perasaan apapun antara kita." Dyana berusaha tegar mengatakan apa yang tidak sebenarnya.
Dyana memikirkan panjang keputusannya. Sebenarnya dia tak tega menolak pria yang telah ia cintai diam-diam sejak tiga tahun lalu. Tapi, dia juga sayang pada keluarganya. Jikalau sampai Dyana berani berpacaran dengan Sastra maka ibu dan adiknya lah yang menjadi taruhannya.
"Tidak! Aku yakin pada perasaanku. Dan aku yakin kamu juga memiliki perasaan yang sama. Tolong, tolong katakan kalau kamu bohong."
Sastra berbicara agak dengan nada tinggi sebab ia tak percaya pengakuan Dyana. Tidak hanya itu, Sastra membuat Adit menoleh tapi ia memberikan kesempatan keduanya selagi masih aman dan begitu juga dengan Dita yang masih meratapi nasibnya kini menoleh terkesiap.
"Kamu salah Sastra! Aku tidak memiliki perasaan denganmu." Dyana menjelaskan dengan wajah yang meyakinkan.
"Oke. Kalau kamu memang tidak mencintai aku. Setidaknya kembalilah ke desa bersamaku." Sastra menyerah meyakinkan Dyana untuk saat ini. Dia lebih baik kembali ke tujuan awal demi Ibu Dyana dan Lia.
Dyana kembali berpikir. Kalau dia kembali bersama Sastra maka perasaan yang mati-matian ia kubur akan bangkit lagi. Selain itu, Sastra akan meyakinkan perasaannya lagi. Padahal ia senang sekali Sastra mengajaknya kembali, dia pun sudah sangat merindukan keluarganya di desa meski baru sehari. Namun, Dyana harus berani mengambil keputusan yang terbaik.
"Aku tidak akan pulang. Aku mau bekerja saja di sini dan jika aku rindu pulang maka aku bisa pulang sendiri." Katanya pelan namun tegas.
"Baiklah. Terimakasih atas waktunya."
Kali ini Sastra sudah benar-benar kecewa. Dia tidak bisa menahan emosi lalu keluar begitu saja dari cafe itu membiarkan Dyana yang masih berpikir. Sastra tak peduli lagi walau harus mengecewakan Ibu Dyana dan adiknya, Lia.
__ADS_1
Diambilnya kunci mobil dari atas meja lalu berlalu tanpa menoleh ke arah Dyana.