Hidden Love

Hidden Love
Flore


__ADS_3

Sekar mengurungkan niatnya untuk menyusul Sastra ke kota. Papanya yang sedang dirawat tiba-tiba menelepon. Padahal dia sudah menyiapkan segala sesuatunya.


"Sekar, tolong ke rumah sakit sebentar." Begitu kata Papanya tanpa berkata halo terlebih dulu.


Sekar pun mengiyakan walau merasa terpaksa. Bagaimanapun dia adalah orang yang selama ini menjaga Sekar.


Setelah beberapa menit, Sekar pun sampai di RS Husada. Dia segera menuju ruang nomor tiga puluh.


Dibukanya pintu kaca itu, yang pertama kali Sekar lihat adalah Papanya sedang melamun. Sekar langsung menyapa, dia bahkan belum pernah menjenguk Papanya sejak kemarin.


"Pa!"


Seketika pria yang sudah berumur setengah abad lebih itu langsung menoleh. 


"Sekar…" Wajah Flore sangat senang melihat putrinya bersedia datang. 


Sekar duduk di samping ranjang Papanya, ia terdiam tidak tahu apa yang harus ia katakan.


"Kamu dari mana? Kenapa tidak menjenguk dari kemarin?" Tanya Papanya seakan penuh kerinduan.


"Sekar, Sekar hanya di rumah saja kok. Papa ngapain nyuruh Sekar ke sini?"


Papanya diam mendengar apa yang ditanyakan anaknya. Bahkan putrinya sangat tidak peduli. Kalau tidak diminta, mungkin Sekar tidak akan datang. Padahal ia menyuruh anaknya karena dia sangat rindu. 


"Apa kamu tidak rindu dengan Papa?" Tanya Flore kembali, tanpa menjawab pertanyaan anaknya yang tadi.

__ADS_1


"Rindu sih, cuma Sekar lagi sibuk. Jadi, baru sekarang bisa menjenguk." Jawab Sekar enteng padahal tadi bilang hanya di rumah saja.


Flore berhenti bertanya, ia sudah tahu isi hati anaknya. Saat sekarang ini, anaknya pun tidak peduli. 


"Beruntung Darmana mau mengurus perusahaannya sementara waktu." Batinnya senang.


"Pa, memangnya Papa kenapa sih sampai bisa masuk rumah sakit?" Sekar membuka pertanyaan kembali.


"Penyakit jantung Papa kambuh." Jawabnya.


Sekar pun tidak merespon seakan hanya ingin tahu saja. Ia lalu memainkan gawainya lagi tanpa bertanya pada pria di sampingnya sudah makan atau belum. Apalagi bertanya sudah baikan atau bagaimana keadaannya sekarang.


Sekar kembali menelpon Sastra. Anak buahnya, Roy memberi kabar kalau Sastra sudah kembali ke kediaman Darmana.


Panggilan masih belum diangkat.


Sastra yang berbaring memejamkan matanya sedari tadi, tiba-tiba mendengar panggilan masuk. Ia sangat bersemangat ingin mengangkat panggilan. Sebab, dipikirannya Dyana lah yang menelepon. Namun, nyatanya setelah dilihat ternyata Sekar. Dengan segera ia mematikan hpnya. Lalu Sastra kembali memejamkan mata.


"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif." Begitu balasan operator. 


Sekar semakin geram, Sastra malah tidak mengaktifkan hpnya. 


Sekar langsung pergi tanpa pamit pada Papanya. Flore yang melihat anaknya pergi hanya bisa mengelus dada. Ia sekarang sadar, ini semua karena didikannya yang salah. Ia terlalu memanjakan Sekar dengan semua fasilitas bukan dengan kasih sayang. Hingga Sekar kurang kasih sayang, sampai-sampai ia mengejar cinta seseorang yang tidak mencintainya.


"Kalau saja Ani masih ada. Aku tidak akan sendiri di sini."

__ADS_1


Ani adalah istri Flore yang sudah lama meninggal. Ia pergi untuk selamanya karena sakit. Flore dulu tak pernah peduli pada anak istrinya. Makanya, ia berusaha memenuhi semua keinginan Sekar. Tapi, ternyata salah juga. Ia baru menyesal setelah Ani meninggalkannya.


Flashback


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.45 WITA. Tapi, seorang perempuan yang baru menikah lima tahun lalu tetap setia menunggu suaminya pulang. 


Hampir saja ia terlelap, tiba-tiba pintunya terbuka menandakan seseorang telah datang.


"Pa! Kenapa jam segini baru pulang? Sekar sedari tadi menangis. Mungkin dia kangen Papanya." Ani bertanya pada suaminya yang baru saja datang.


"Sudah lah, Papa capek. Besok saja bertanya. Sekarang lebih baik kamu siapkan aku makan." Flore tidak peduli keluh istrinya.


Ani hanya bisa menghela nafas. Dia sadar kalau suaminya lelah. Mungkin dia harus bisa ikhlas dengan kejutekan suaminya.


Ani langsung bergegas menyiapkan makanan. Namun, sebelum itu ia sudah menyiapkan pakaian tidur untuk pasangan tercintanya.


Sekar waktu itu sudah berusia empat tahun. Setiap sore ia mulai menanyakan Papanya, ia tak pernah bermain dengan kedua orang tuanya. Hanya Mamanya yang selalu mendampingi. Flore pulang malam-malam, karena itu Sekar jarang bertemu dengan Papanya. Pagi buta Flore berangkat kerja sedangkan Sekar masih tertidur pulas. Saat malam Flore baru pulang sedangkan Sekar sudah terlelap. Mereka jarang bertemu. Hanya Ani yang selalu ada untuk Sekar. 


Flashback off


Ingatan Flore akan istrinya muncul. Ia baru menyadari kesalahannya, dirinya tak pernah peduli pada istrinya. Bahkan sampai di akhir hayatnya ia hanya bisa mengikuti pemakaman. Sewaktu sakit, Flore tidak pernah merawat istrinya. 


Flore ingat betul, Sekar selalu meminta main bersamanya. Tapi, ia selalu menolak karena pekerjaan yang begitu banyak.


"Mungkin ini balasan untukku." Sesal Flore hanya bergumam lesu.

__ADS_1


__ADS_2