
Malamnya mereka kumpul lagi di rumah Pitri sesuai dengan apa yang sudah dijanjikan mereka sewaktu siang.
Pitri duduk di sofa yang khusus untuk sendiri, beberapa temannya ada yang di sofa dan ada yang lesehan di lantai. Ketua kelas itu bawa selembar kertas dan pulpen, kemudian berucap, "Guys konfirmasi ulang dong, mau gue tulis.
Kia langsung berseru heboh, "IKUT! IKUT! IKUT!"
"Ikut dong, cepat konfirmasi biaya dong, gue mau cari uang lebih soalnya," ucap Dzikya.
"Ikut deh, gak ada agenda sama keluarga lagian," sambung Hada.
"Ikut," jawab Latif dengan singkat, padat dan jelas.
Dhimas mengacungkan tangannya, "Ikut, Oh iya, Pit. Bisnya lebih murah di gue, sama Malik cuma beda 10.000," ucapnya kemudian.
"Nah iya, lagipula di gue bisnya gak bisa disewa seminggu penuh," sahut Malik.
"Oke!" balas Pitri.
"Gue ikut ya," ucap Yuli.
"Gue juga, mau coba gudeg," ucap Widia.
"Gue nggak ya, ada agenda sama keluarga." ucap Okta.
"Gue gak diijinin," sahut Fadil.
"Gue juga," sambung Mardi.
"Gue ikut dong," ucap Dian.
"Kalau tiga hari, gak papa ya?" tanya Jani kemudian.
"Gue juga sama kayak Jani," sahut Angga sembari menunjuk ke arah teman sebangkunya.
Pitri melihat secara bergantian pada dua orang itu, "Ini juga, kalian janjian apa gimana?"
Angga tertawa kecil, "Bisanya cuma segitu," balasnya kemudian diangguki oleh Jani.
__ADS_1
"Gue ada urusan setelahnya," balas Jani.
"Tapi kata Kirana kalian ada urusan bareng?" celetuk Dzikya.
"Nggak kok," sahut Jani yang kemudian diangguki oleh teman sebangkunya.
Kia terkekeh, "Tuh Yul, cuma tiga hari katanya."
Yuli melotot, "Apa-apaan seh!"
Angga terkekeh, "Iya Yul, maaf ya gue cuma bisa tiga hari."
Dzikya tertawa keras, "Angga pendiam ya, diam—"
"STOP!" potong Angga seraya menutup mulut sahabatnya itu.
Hening cukup lama, karena mereka tidak bisa menangkap alasan kenapa Angga tiba-tiba seperti ini.
"Akhirnya ada bahan nulis Angga Yuli lagi," celetuk Jani kemudian.
"Apaan coba?"
"Ngawur ih!"
"Kalian boleh kok tiga hari, tapi ongkosnya bayar yang perginya doang. Terus pulangnya naik umum, gak apa?" ucap Pitri, memotong obrolan yang sudah keluar tema itu.
Jani dengan cepat mengangguk, dia memang seseorang yang mudah teralihkan, "Gak apa kok, gue bawa kendaraan pribadi aja gimana?"
"Gue boleh ikut Lo gak, Jan?" sahut Angga langsung dan diangguki oleh Jani.
"Gue bareng dia aja, Pit," ucap Angga seraya menunjuk kembali pada Jani.
Dzikya tergelak tanpa sebab kemudian menyentuh pundak Yuli yang ada disebelahnya dengan jari, "Yul, Yul, Angga pendiem yah," ucapnya dengan nada yang mengejek.
Mengundang delikan dari Angga dan Yuli, "TEROS AJA BAHAS, DZIK!" protes Angga kemudian, sengaja berteriak.
Yuli tersentak, kemudian memasang raut bingung. Terkejut mendengar teriakan Angga.
__ADS_1
Kia menatap dengan menyelidik, "Ada apa ini?"
"Jadi, yang jadi ikutnya berapa orang?" Kali ini Dian yang memfokuskan mereka untuk membahas tujuan mereka berkumpul di rumah Pitri ini.
"14an kali ya ini?" jawab Pitri namun masih dengan nada bertanya, karena ada beberapa orang yang sekarang tidak hadir dan tidak memberi konfirmasi padanya sama sekali meskipun lewat chat.
"Oke, jadi buat Jani sama Angga siapin uang buat jajan sama main aja. Kalian kan gak naik bis jadi gak bayar ongkos," sambung Pitri cepat, tidak enak juga karena hari sudah semakin larut.
Dzikya mendekat pada Jani kemudian tertawa kecil, "Gue nebeng dong, ehe," ucapnya kemudian. Semakin dia hemat, semakin banyak uang untuk beli makanan disana nantinya.
Jani mengangguk, kemudian mengeluarkan senyuman khasnya, "Boleh, asal nyetirnya gantian," balasnya yang langsung mengundang raut tidak terima dari Dzikya.
"Gue gak bisa bawa mobil," ucapnya dengan nada yang putus asa.
"Sama gue aja Jan, gantian nyetirnya," sahut Angga dan dibalas oleh acungan ibu jari dari Jani.
Dian ikut mendekat pada Jani, "Gue ikut dong, mau lihat Angga-Dzikya," ucapnya dengan nada yang jahil dan kali ini langsung diangguki oleh Jani.
"Oke, siap, bawa kamera jangan lupa," ucap Jani kemudian.
Angga mendengus, "Sempat-sempatnya kalian."
"Lusa kita kumpul di sekolah jam 6 pagi, paling telat jam set 7. Buat yang bawa kendaraan nanti ngikutin bis aja yah," potong Pitri lagi, sedikit kesal karena teman-temannya mudah sekali dialihkan pembicaraannya.
Dzikya dengan cengengesan membalas, "Gue bayar ongkos pulangnya aja yah Pit."
"Sama, hehe," sambung Dian.
Hada merenggut, "Sial aku tertikung wibu bau bawang untuk nebeng ke Jani."
Dzikya langsung melempar casing ponselnya ke arah Hada, "Sembarangan!"
Entah kenapa, tapi Yuli sedikit merasa lega saat tahu Dzikya dan Dian ikut serta bersama Angga dan Jani di mobil Jani. Meskipun tak dapat dipungkiri kalau dia masih penasaran dengan alasan kenapa dua orang itu tidak bisa ikut seminggu penuh seperti yang lainnya.
Anggota kelas lain secara langsung bilang alasan kenapa mereka tidak bisa ikut, tapi Jani dan Angga terkesan menghindar. Ah mungkin itu hanya perasaan Yuli saja, ya?"
Ditambah, Dzikya sempat berkata kalau urusan Angga sama Jani bersamaan.
__ADS_1
Sibuk dengan pikirannya membuat Yuli tidak sadar kalau Dzikya sudah kembali duduk di sebelahnya, lelaki bermata sipit itu membisikkan sesuatu yang berhasil membuat Yuli tersentak.
"Lo, jangan khawatir. Mereka gak berdua karena ada gue sama Dian, nantinya."