Hidden Love

Hidden Love
Mood Adit


__ADS_3

Adit mengguyur kepalanya dengan air shower, ia tak peduli dengan dinginnya malam. Yang ada dipikirannya sekarang adalah memories nasibnya dulu. Diliriknya tatto yang menghiasi lengan dan melihat pantulan punggungnya yang berisi lukisan garuda.


Sejak curhat di mobil membuatnya teringat kembali akan kedua orang tuanya, tentang dirinya yang terlantar. Bahkan mengingat keluarga kecil yang hancur membuatnya ingin menitikkan air mata. Tapi, gengsinya sebagai lelaki membuat niat itu harus diurungkan sekuat mungkin.


Dyana sudah ditidurkan di kamar sebelah. Mengingat sepupunya, dia juga jadi teringat masa terakhir saat SMA yang seperti lambat berjuang.


Bagaimana tidak, setelah pindah ke desa memang banyak komentar-komentar yang menarik perhatian. Namun, semua itu ia buang. Adit jadi rajin belajar dan melakukan eksperimen modif motor. Adit tak tahu kalau ketekunannya saat itu membuat Ibu Dyana menjadi semangat hingga berkali lipat.


Adit ingin pikiran sedihnya mengalir bersama air lalu hanyut dan menghilang. Meski pada akhirnya ia akan menemui air itu di laut. Setidaknya ia tak akan bisa mengingat mana air yang telah menghanyutkan ingatan kelamnya.


Selesai mandi Adit langsung memakai piamanya. Sebelum tidur, ia kembali melihat Dyana di kamar sebelah. Adit ingin memastikan meski ia tahu kalau Dyana masih tidur. Tapi entah kenapa ia ingin saja melihat gadis itu sebelum tidur.


"Dyana lucu banget kalau sedang meringkuk seperti itu. Ah, kenapa aku jadi gini. Seperti tidak pernah melihat gadis saja." Gumamnya sendiri setelah sampai di kamar tempat Dyana tidur.


"Tapi, Dyana memang berbeda dari gadis lain. Dia polos, lugu dan menggemaskan." Ucapnya melanjutkan sambil mengacak rambut Dyana yang sedang tidur.

__ADS_1


Lepas itu Adit kembali ke kamarnya untuk tidur. Dia berencana mengajak Dyana untuk jalan-jalan agar dia tahu suasana kota. Mumpung besok ia libur dari pekerjaan dan tidak ada jadwal kuliah. Pas sekali.


Brakk…


Sekar membuka kasar pintu yang tak terkunci itu. Disana terlihat seorang lelaki tua yang masih saja berkutat dengan komputer. 


"Dimana alamat rumah Anda yang di kota? Cepat jawab!" Sekar bertanya tanpa basa-basi. Cara kasarnya memang sulit berubah. 


Entah kenapa Sekar langsung bertanya kesana. Darimana ia tahu kalau Sastra pergi kesana. Kalau untuk urusan Sastra ia akan berusaha sekuat tenaga. 


Flashback


Saya tahu keberadaannya. Sepertinya dia tidak tahu kalau mobil yang dibawa berisi gps. Tapi sayang, yang saya ketahui hanya kotanya saja. 


Begitu bunyi smsnya. Sekar yang telah menyuruh anak buahnya begitu ia memiliki firasat bahwa Sastra tidak pulang.

__ADS_1


Melihat sms itu membuat niatnya pulang semakin jelas untuk apa. 


Dengan keras di dorong pintu masuk tanpa memikirkan apa-apa. Lalu segera ia menuju ke kamar orang yang paling tahu keberadaan Sastra.


Flashback off


"Dasar tidak ada sopannya sedikit pun." Sambil bangun dari duduknya di kursi mewahnya.


"Anda dan saya sama saja. Jadi, jangan pernah bahas kesopanan dengan saya. Lebih baik cepat katakan!" Jawab Sekar tak kalah keras.


"Kamu tahu sendiri kalau hubungan saya sedang tidak baik dengan Sastra. Lalu, masihkah kamu menanyakan tentangnya pada saya? Keluar atau saya berbuat kasar?"  Ayah Sastra menjawab dengan halus namun lebih terdengar menakutkan.


Untuk kali ini Sekar bergidik takut. Mungkin karena sudah tidak ada yang melindunginya untuk saat ini. Pagi tadi, ayahnya masuk rumah sakit. Semua tanggung jawab dialihkan pada pak Darma.


Dengan terpaksa Sekar keluar. Dia akan mencari tahu sendiri. Anak buahnya juga banyak. Sekar tidak perlu khawatir, uangnya masih cukup banyak untuk melakukan apa yang ia mau.

__ADS_1


Pak Darmana tak ingin mengurusi masalah sepele antara Sekar dan anaknya. Lagi pula, ia sebentar lagi akan menggulingkan perusahaan rekan sekaligus musuhnya itu.


__ADS_2