Hidden Love

Hidden Love
Pergi


__ADS_3

"Ya sudah, aku berangkat kerja sekarang," pamit Dendy.


Entah kenapa Sekar merasa lelaki di depannya sangatlah perhatian sejak kemarin. Hatinya sedikit tersentuh, tapi tetap obsesinya pada Sastra masih sama seperti dulu.


"Makasih ya," sahut Sekar. Tidak lupa ia mengembangkan senyumnya. Setelah Dendy melajukan mobilnya lalu ia masuk ke dalam. 


Lebih terkejut daripada diusir langsung di rumah Sastra. Saat ini justru gerbangnya tidak bisa dibuka. Gembok sudah dirantai. 


'Pantas saja raut Dendy nampak aneh. Pasti dia mengira aku pura-pura kaya,' pikir Sekar.


Sekat duduk di depan rumahnya. Apa yang harus ia lakukan, Papanya juga masih di rumah sakit. Kemana dia harus pergi sekarang. Kalau begini ia jadi teringat dengan Mamanya lagi. 


Begitu akan berkelebat kenangan buruk, Sekar langsung menghempasnya. Diseret kopernya dengan kasar lalu ia mencari taksi. Terpaksa saat ini ia harus meminta pertanggung jawaban Papanya. 


Tak butuh waktu lama, taksi lewat di depannya dan ia langsung menuju rumah sakit. Sekar sudah benar-benar kesal saat ini. Dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa hidupnya nanti.


Sampai di rumah sakit ia langsung menuju ke ruangan rawat Papanya.


Tanpa basa-basi setelah wajah Papanya ada di depan matanya. "Pa! Aku ga terima semua ini. Terus bagaimana sekolah aku?" Sekar langsung nyerocos tanpa memperhitungkan keadaan orang di depannya. 

__ADS_1


"Kamu kenapa nyalahin Papa aja? Bukannya ikut mencari solusi. Ini juga karena kamu, karena kamu yang suka sama anaknya Darma." Kali ini Flore memilih ikut menentang, anaknya memang benar-benar tidak peduli dengan kesehatannya. 


"Oh? Ok! Mulai sekarang aku ga mau ketemu Papa lagi." Sekar keluar lagi tanpa duduk atau mengatakan permisi untuk pergi. 


Flore hanya mengelus dada, ia berharap setelah keluar dari sini bisa membuat usaha lagi. 


Sekar berjalan mengikut langkah kakinya entah kemana. Dia sudah tidak punya tujuan lagi, teman-teman yang sering diajak bersenang-senang seperti menghilang. 


'Apa aku ke rumah Dendy aja?' Sekar mengambil handphone dan menelepon orang yang dicuekinya itu. 


Dendy sedang sibuk di ruangannya mendata para napi. Tiba-tiba benda di sampingnya berdering. Dilihat namanya Sekar, langsung saja diangkat tapi ia enggan memulai pembicaraan.


"Iya, ada apa?" Dendy masih menjawab dengan tenang meski tadi ia sedikit kesal.


"Aku mau minta tolong, boleh?" 


"Boleh, apa?" Dendy tak bisa menolak keinginan Sekar.


"Aku boleh ya tinggal di rumah kamu untuk sementara," jelas Sekar.

__ADS_1


Dendy menghela nafas, bukannya ia tak ikhlas tapi bagaimana nanti ia akan menjalani harinya berdua. Sebab di rumah ia tinggal sendiri.


"Boleh kok." 


"Makasi ya. Sekarang aku ke sana." Sekar langsung mematikan teleponnya. 


Dendy hanya menghela nafas, apa boleh buat dirinya tak tega menolak Sekar. 


***


Dev dan Merry baru saja dari luar dan mengetahui bahwa bosnya sudah bangkrut. Mereka akhirnya menuju ke rumah sakit. Sebenarnya ini adalah kesempatan yang bagus untuk kabur. Namun, karena ia adalah manusia yang punya hati. Ia dan Merry tak tega dan memilih untuk menuju ke rumah sakit. Mereka akan tetap setia pada Flore, bagaimana pun juga pria itu yang sudah menolongnya dulu. Sedangkan Merry hanya mendukung semua keputusan Dev selama itu baik. 


"Ternyata Flore bisa bangkrut juga, ya?" Merry berkata sarkas yang ditujukan pada bosnya yang selama ini semena-mena itu. 


"Tentu. Dia juga manusia. Tapi, karena aku berhutang budi sama dia aku akan setia."


"Baiklah. Kita liat apa anaknya bisa setia?" Merry tersenyum miring. 


Mereka sedang di dalam mobil dan menuju ke rumah sakit. 

__ADS_1


"Rasanya tidak. Sekar juga pernah disakiti oleh Flore." Dev bergumam santai. Merry tak menjawab lagi karena dia sudah tahu kebenarannya. 


__ADS_2