Hidden Love

Hidden Love
18. Dijalan


__ADS_3

Yuli memakai pillow neck yang sengaja dia bawa, kemudian dia menyandarkan badannya. Entah kenapa rasanya dia lelah sekali, padahal perjalanan saja belum ditempuh setengahnya.


"Lo masuk angin, Yul?" Tanya Kia kemudian, setelah berpikir cukup lama, memikirkan alasan Yuli merasa kurang baik setelah perempuan itu menyampaikan apa yang ia rasakan saat ini.


"Ngantuk," jawab Yuli singkat dan tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan Kia.


"Tapi, Lo keringetan gitu Yul," balas Kia lagi. Perempuan itu kemudian mengobrak-abrik isi tasnya, seingatnya tadi ia membawa air minum dalam termos kecil yang bisa dibawa kemana-mana, berharap hal itu bisa membantu Yuli merasa baikan.


Seingat aja, karena faktanya itu tidak ada. Mungkin ketinggalan di atas meja makannya atau terbawa oleh Malik, teman sekelas merangkap sebagai pacarnya.


"Lo bawa air gak?" Tanyanya ke Yuli, karena air yang dia cari dalam tasnya tidak berhasil ia temukan. Yuli membalas dengan gelengan yang terlihat lemah.


"Anto, Lo punya air gak?" Tanya Kia pada orang yang duduk disebelah Yuli.


Mereka memang sengaja duduk di kursi paling belakang. Berhubung banyak kursi yang kosong, meski sudah dipakai dua kelas. Itu tidak membuat bis penuh karena mereka tidak full team. Kalau full team pun kemungkinan masih ada kursi yang kosong.


Lelaki yang ditanya Kia mengangkat sebelah alisnya kemudian mengangguk, dia mengisyaratkan teman yang duduk disebelahnya untuk mengambilkan tas miliknya yang disimpan di kursi kosong bagian ujung. "Ada Kia, gue bawa dua," ucap Anto setelah menerima tasnya.


Kia menggangguk, "Boleh minta gak? Anak ini kayaknya mulai ngerasa gak enak," ucapnya sambil menunjuk Yuli yang sudah memejamkan mata dengan alis yang mengernyit, tampaknya Yuli memang benar-benar merasa tidak enak dengan tubuhnya sendiri.


Anto dan temannya refleks menoleh ke arah Yuli. Meski temannya itu agak kesusahan karena terhalangi oleh badan Anto dan posisinya yang nyaris diujung.


Anto mengangguk kemudian menyodorkan salah satu botol air punyanya. Meskipun sebenarnya dia butuh, tapi tidak apa Yuli sekarang lebih butuh. Mungkin kalau nanti mereka berhenti di Rest Area dia bisa beli lagi.


"Perlu obatnya juga gak?" Tanya orang disebelah Anto.


Kia membuka tutup botol minum itu sembari menggeleng, "Nanti aja. Anak ini gak biasa makan obat. Hanya orang tertentu yang bisa suruh dia. Sementara orang-orang itu gak disini."


Kemudian diangguki paham oleh dua orang dari kelas 11-H itu.

__ADS_1


"Kia menurut gue coba kasihnya air anget. Kalo air biasa takutnya malah mual dia," ucap Anto membuat Kia menepuk dahinya, merasa bodoh. Padahal tadi dia memang berniat memberi Yuli air hangat.


"Iya juga, gue lupa! Terus ini gimana? Gue kembaliin deh," ucap Kia sembari menyerahkan kembali botol minum itu setelah kembali menutupnya.


Anto menggeleng, "Gak apa. Takutnya buat ntar obat atau apa gitu. Tapi buat Yuli-" dia berhenti, merasa canggung dengan kalimatnya, "Maksudnya buat kalian berdua," lanjutnya.


Kia sempat mengernyit, merasa curiga kemudian menggeleng. Perempuan itu mengabaikan rasa curiganya kemudian berdiri, berniat menghampiri Malik, mungkin saja termos yang ia bawa memang terbawa oleh pacarnya itu. "Nitip bentar yah, gue mau ngider nyari yang bawa termos." Dan dibalas anggukan oleh dua orang itu.


Tidak lama setelah itu, Kia kembali datang dengan termosnya. Benar, benda itu memang ada di Malik, "Anto coba buka lagi airnya mau ditambahin, ini panas soalnya," ucap Kia yang langsung dituruti sama laki-laki itu tanpa basa-basi lagi. Selesai dengan urusan air, Kia kembali berusaha untuk membangunkan Yuli.


"Yul, minum dulu. Biar gak mual, Lo mau minum obat apa nunggu Angga?" Tanya Kia membuat Yuli membuka matanya pelan dan mengundang ngernyitan bingung dari Anto.


Kok harus nunggu Angga? Itulah yang ada dipikiran Anto sekarang, ia kira orang tertentu yang dimaksud Kia tadi adalah orang tua Yuli.


Kia hanya menyeletuk asal, karena Yuli tipe orang yang sulit dibangunkan. Mungkin saja Yuli bisa terbangun setelah mendengar nama Angga, dan itu terbukti. Yuli mengerjapkan matanya, menyesuaikan diri. Kemudian menoleh ke arah Kia dan memberi isyarat kalau dia butuh minum.


Kia langsung menyerahkan air yang sudah ia pindahkan ke tutup termos tadi. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku jaket, menghubungi seseorang sembari menunggu Yuli minum.




Kemudian, Kia tersenyum puas setelahnya.


Hidden Love


"Lo kok tiba-tiba resah gitu? Belum mikirin uang konsul ya?" Celetuk Jani dengan santainya memotong ucapan Dzikya yang sedang bercerita mengenai anime terbaru yang dia tonton.


Dzikya menatap Jani dan Angga secara bergantian. Ini Jani masih fokus menyetir dengan pandangan masih ke depan tapi tetap saja sadar dengan perubahan orang yang duduk disebelahnya, terkadang Dzikya suka seram sendiri dengan perempuan ini.

__ADS_1


Benar sih, Dzikya setuju dengan kalimat Jani karena raut Angga berubah menjadi tampak serba tidak enak.


Dian kembali mengunyah, kali ini dia makan cheese stick. Sesudah tahu alasan Jani sama Angga kenapa cuma bisa tiga hari, perempuan itu tidak banyak omong. Sibuk chatting sama dua temannya.


"Yuli sakit dan gue gak disana," jawab Angga lirih, mungkin hanya dia yang bisa dengar.


Mungkin.


"Apa Ga?" Tanya Dzikya langsung, karena yang ditangkap telinganya hanya gumaman tidak jelas.


"Lo kalo suka jangan gengsi. Yang suka Yuli bukan Lo doang," balas Jani yang tampaknya mendengar apa yang diucapkan Angga.


Dzikya menatap Jani dengan dua alis yang terangkat. Bingung, Jani tiba-tiba berbicara seperti itu.


"Gue khawatir doang elah," elak Angga langsung.


"Gue tahu loh Ga, kalau Lo bukan tipe orang yang peduli," balas Jani lagi.


Dzikya memilih menyimak untuk sekarang. Sedikit merasa puas karena ucapan Jani tampak berhasil membuat Angga diam. Dzikya dari lama memang sudah gemas sendiri dengan apa yang terjadi pada Angga dan Yuli.


Dian juga menyimak, dia menjadi diam dan menghentikan acara makannya.


"Y-yah gue khawatir bukan berarti suka kan?" Balasan dari Angga itu membuat Jani memicingkan matanya menyelidik pada Angga kemudian memutar bola matanya malas sebelum memutuskan untuk memandang lurus pada jalanan. "Lo harus lebih peka. Gak usah peka-in orang lain, cukup lebih peka sama apa yang terjadi di diri Lo," ucap Jani setelahnya.


"Ingat Ga, Lo mau nyobain konsultasi ke dokter karena Lo sadar dan peka sama keanehan yang terjadi di diri Lo. Dan buat sekarang gue yakin Lo cukup bisa buat ngenalin perasaan Lo sendiri," sambungnya.


Angga membuka mulutnya, berniat untuk membalas, namun niatnya itu terhenti karena Jani kembali berbicara, "Atau mungkin Lo pura-pura gak peka. Lantaran gengsi suka sama Yuli yang notabenenya rival Lo. Yang tiap ketemu selalu debat, ngejek dan sejenisnya. Lo ngerasa kalo Lo kayak ngejilat ludah sendiri, yang awalnya benci jadi suka. It's okay, buat sekarang."


"Tapi jangan kelamaan, ntar Lo nyesel," final Jani.

__ADS_1


Dzikya tersenyum puas sembari mengangguk-anggukkan kepalanya, merasa bangga dengan ucapan Jani. Dian tidak bereaksi apa-apa, karena tidak begitu memahami. Sementara Angga tidak sanggup membalas lagi.


__ADS_2