Hidden Love

Hidden Love
Curhatan (2)


__ADS_3

Dyana masih belum puas bertanya, lama tidak bertemu membuatnya ingin tahu apa saja yang sudah terjadi pada keluarga sepupunya itu. Walaupun kantuk menyerang, ia sengaja hiraukan, sebab ini pertemuan yang langka.


“Lalu, sekarang bagaimana kabar Paman? Terus Bibi kenapa bisa meminta pisah?” Tanya Dyana yang sebenarnya sungkan.


“Aku tidak tahu juga. Mereka berdua sama saja. Sejak itu, Bapak pergi ke luar kota. Mereka sama sekali tidak peduli sama Kakak. Seperti bukan anak kandung saja.” Ujar Adit santai.


“Maaf ya aku menanyakan itu. Kakak jangan patah semangat ya, mungkin ini ujian agar kakak bisa mendapat hidup yang lebih baik.” Kata Dyana menegarkan dengan senyuman penuh arti.


Andai kamu tahu kalau aku sebenarnya sangat sakit, semua orang meninggalkan aku. Beruntung ada ibu kamu yang menolong. Itulah sebabnya sebelum aku benar-benar sukses aku tidak mau menampakkan wajah pada Bibi yang dulu bekerja keras juga untuk aku. Batin Adit.


“Kenapa Ibu tidak pernah cerita sama aku, ya? Aku kira kalian baik-baik saja.” 


“Mungkin karena Ibu tidak ingin kamu kepikiran. Bibi itu pekerja keras, aku berhutang banyak padanya.” Adit menjawab.


“Makin nyesel aku kemari.” Sambil menyandar di kursi mobil, Dyana sangat menyesal.


“Sudahlah, lagi pula anggap saja liburan. Nanti aku antar kamu pulang kalau sudah tidak marah.”

__ADS_1


“Baiklah.” Jawab Dyana sambil merem hingga tak sadar ia tertidur.


***


Malam semakin gelap, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di rumah sederhana ujung gang tak terlihat dari luar adanya kekhawatiran. Tapi, wanita paruh baya yang menjadi penghuni sedang merasa sangat cemas. Anak perempuannya belum ada kabar, sedangkan orang yang mencari juga tak ada kabar. Sebenarnya dia sudah sampai di alamat itu atau bagimana.


“Lia, bagaimana ini Sastra belum juga memberi kabar?”


Lia yang hampir bermimpi sontak bangun, “Kita doakan saja Bu, mereka sudah besar pasti bisa menjaga diri. Kalau aku tenang pasti semuanya akan baik-baik saja.” Gumamnya malas seperti mengigau menenangkan.


“Semoga saja begitu.” Ibu Dyana kembali duduk pada tikar yang sudah lusuh itu.


Tok...tok...tok


Ketukan kasar pada pintu dari triplek itu sangat nyaring didengar oleh insan di dalamnya. Dengan segera dibuka oleh Ibu Dyana.


“Iya, nyari siapa malam-malam?” Salam Miya sopan.

__ADS_1


“Gausah banyak omong, cepat katakan dimana Sastra.” Kata perempuan seumuran Dyana.


“Maaf Adik siapa?” jawabnya tetap halus walau lawan bicaranya seperti ingin memaknnya hidup-hidup. Dia sengaja pura-pura tidak kenal, padahal jelas sekali dia yang hampir membunuhnya dan Lia.


“Anda bertanya sekali lagi, saya pastikan kalian benar-benar tidak akan bertemu dengan Dyana.” 


Meski ketakutan melanda, dia mencoba tenang dan memikirkan jawaban yang tepat dengan cepat. Atau tidak, wanita keji ini akan benar-benar membunuhnya.


“Sastra tadi sore kemari, tetapi Dyana tidak ada. Dia bilang ke kota sih...” Jawab Miya tenang dengan raut meyakinkan.


“Ngapain dia ke kota?” tanyanya kembali sarkas.


“Anda bertanya pada saya? Saya tidak tahu, bahkan kebaradaan anak perempuan saya pun tidak tahu. Lebih baik Anda tanyakan pada yang lain saja.” 


Tanpa permisi Sekar langsung pergi. 


Nyawanya seakan kembali lagi. Lia dan ibunya pun segera masuk.

__ADS_1


Ingatan tentang waktu itu benar-benar menengangkan, hingga tadi menatap mereka saja sangat sulit. Beruntung dia masih ingat Tuhan, keberanian seakan muncul begitu saja.


__ADS_2