
Kini Dyana merasa sangat lega, sepupunya akhirnya benar menjemputnya. Tapi sayang, ada yang belum terselesaikan. Perutnya yang sedari tadi meronta harus segera diberi pasokan makanan.
“Dy, kamu mau pesan apa?” Tanya Adit setelah mereka duduk di tengah keramaian sebuah restaurant.
“Ng... aku ga biasa makan di tempat seperti ini kak, apa aja boleh deh asalkan ga aneh-aneh.” Sahut Dyana malu mengetahui dirinya sangat kampungan.
“Lalu, Dyana mau minum apa?” Sekali lagi Adit bertanya.
“Aku... emm, terserah kakak aja deh.” Dy tidak pernah minum seperti apa yang tertera di buku menu. Dia takut tidak suka karena di kampung Dyana hanya minum air putih, teh atau kopi. Selebihnya mungkin jamu.
“Oke.” Adit menyerahkan pesanan pada waitress. Begitu pelayan itu berlalu Adit tiba-tiba mengelus pipi Dyana. “Kamu lucu. Sabar ya, pesanannya ga lama kok.”
__ADS_1
Dyana yang diperlakukan seperti itu menjadi blushing, ada rasa hangat di hatinya diperlakukan begitu. Dy mengangguk dan membalas dengan senyum sungkan.
Adit merasa geram sejak pertama kali melihat Dy, jujur Dy sangat berbeda sewaktu dirinya tinggal di rumah Dyana saat SMA. Bukan jelek, saat itu Dyana masih SMP, dia juga sangat imut waktu itu. Tapi, saat Adit melihatnya pertama kali duduk di trotoar ada rasa aneh menjalar di hatinya. Adit belum tahu rasa apa itu. Dan saat ini ketika mereka duduk berhadapan, Adit begitu tak tahan melihat wajah Dyana yang begitu lucu dan menggoda.
Selang beberapa menit pesanan pun datang, Dyana tertegun saat melihat pesanan begitu cepat datang. Dan lebih mengejutkan waitress cantik nan seksi itu tidak hanya membawa satu atau dua piring makanan. Tetapi, seakan sedang melakukan atraksi perempuan itu membawa banyak tumpukan piring di kedua tangannya.
“Wow!” Batin Dyana hingga tak sengaja mulutnya berbentuk o.
Tapi, Adit seperti sudah biasa melihatnya. Dia tidak menganga seperti Dyana ataupun tertegun. Apalah itu, Adit biasa saja tak menatap sedikit pun. Justru yang dilihat adalah wajah Dyana yang saat ini memperlihatkan kekagumannya.
Mengetahui Dy yang belum juga selesai kagum, akhirnya Adit mengelus pipi Dyana yang halus itu sekali lagi. “Dyana, yuk makan! Katanya lapar.” Pinta Adit dengan halus.
__ADS_1
Jujur saja, Dyana sangat lucu. Ingin sekali Adit tertawa lepas sekarang juga, bukan karena dia campak akan tingkah konyol sepupunya. Tapi, wajahnya yang imut membuatnya semakin geram ingin menyentuh lagi dan lagi pipi mulus gadis di depannya.
“I-iya kak. Kenapa pesannya banyak sekali, bukankah kita hanya makan berdua.” Dyana yang merasa bertingkah konyol terpaksa harus bersikap senormal mungkin.
“Yah... sesekali. Lagi pula Kakak belum tau apa yang kamu suka dan lagian agar kamu bisa merasakan semua menu di sini. Kita pesta malam ini.” Sahutnya girang di akhir kalimat.
“Terimakasih ya, Kak Adit. Aku merasa sangat beruntung bisa dijemput Kakak. Aku sangat takut tadi, bahkan sekarang diajak makan juga.”
“Iya, kamu jangan sungkan begitu. Maaf ya menunggu lama. Lalu, kalau kita terus berbincang kapan makannya, ya?” ucap Adit menggoda Dyana yang seperti berhutang budi tak terhitung hingga terus berterimakasih pada dirinya yang merasa ini sudah seharusnya ia lakukan.
Mereka akhirnya makan dengan keheningan malam, Adit makan sambil sesekali melihat ekspresi Dyana makan. “Dia sepertinya sangat lapar. Ini salahku juga yang terlalu lambat menjemputnya.” Kata Adit dalam hatinya. Ia pernah merasakan hal seperti ini juga, saat dia kecewa dengan orang tuanya.
__ADS_1
“Kak, makanannya semua enak banget.” Dyana memuji makanan itu dan langsung melanjutkan makan tanpa menunggu sahutan dari lawan bicaranya.
Dyana bisa melupakan sejenak masalahnya bersama Adit. Baru kali ini dia merasakan kehangatan dari seorang cowok selain dia. Mengingat itu, Dyana hampir muram hingga dengan cepat ditepis. Ia ingin menikmati apa yang Tuhan suguhkan hari ini.